Kandang Kambing

Kandang kambing adalah julukan yang diberikan para sahabat untuk rumah saya sekarang. Saya tahu alasan yang mendasari penamaan itu. Di sebelah rumah terdapat kandang kambing lengkap dengan kambing dan tahinya. Di Twitter, kandang kambing juga dibuatkan tagar (tanda pagar) #KandangKambing yang sering dipakai saat berkicau. Buat tuip (pengguna Twitter) yang belum tahu, tagar ini suka membingungkan. Masak ngopi di kandang kambing?

Rumah yang saya tempati ini adalah rumah kontrakan. Karena tuntutan pekerjaan, rumah milik sendiri saya kontrakkan. Uangnya saya gunakan untuk membayar kontrak rumah yang dijuluki #KandangKambing ini. Saya sekadar memindahkan uang kontrakan yang saya terima. Keuntungannya adalah tempat tinggal saya sekarang lebih dekat ke tempat mengais rejeki meskipun saat pindahan sempat dibuat repot. Kerepotan memboyong segala barang ke rumah kontrakan ini pernah saya tuliskan dalam Mas Keong.

Karena kandang kambing milik tetangga inilah …

Sebagaimana setiap berada di lingkungan baru, siapapun termasuk saya harus beradaptasi. Ada hal baru yang saya hadapi atau alami. Bagi saya, inilah yang disebut suka-suka kehidupan, bukan suka-duka. Saya lebih senang menyebutnya demikian. Masalah suka atau duka saat menghadapi sesuatu, semua kan kembali pada cara kita memandangnya. Hidup ini penuh kejutan-kejutan yang menyenangkan bila kita menganggapnya demikian. Begitu juga sebaliknya. Salah satu kejutan menyenangkan yang pernah saya alami adalah mandi kabut. Kamar mandi saya tiba-tiba penuh kabut padahal saya sedang menikmati segarnya air yang mengguyur tubuh. Silakan baca tulisan Bermandikan Kabut untuk kisah tersebut.

Keputusan berlebaran di kampung baru ini juga menghasilkan kejutan yang lain. Kebiasaan masyarakat setempat ternyata berhasil membuat saya terbengong-bengong. Peribahasa lain ladang lain belalang barangkali cocok untuk mereka. Karena begitu terkesan, saya kemudian menuliskannya dalam Lebaran di Kampung Orang.

Mulus, merangsang ayam dan entok ‘ngecrot’ di atasnya.

Yang menyenangkan dari Kandang Kambing adalah terasnya. Dengan luas 3 x 4 meter, teras itu cukup luas menjadi tempat ngobrol dan bersosialisasi dengan teman dan para tamu yang bertandang. Bila sedang tidak ada tamu, saya manfaatkan teras itu untuk membaca, menulis, atau sekadar bengong. Sekali tempo saya juga menggunakannya untuk berkhayal alangkah makmurnya rakyat negeri ini bila tidak ada koruptor  Tidak sedikit ide tulisan muncul dari teras yang berkeramik putih tersebut.

Saat menyenangkan dan nyaman berada di teras Kandang Kambing adalah malam hari. Suasananya tenang, damai, tidak ada orang berlalu lalang. Tak ada ayam atau binatang piaraan berkeliaran. Paling hanya kucing kampung yang kadang muncul. Kambing yang kandangnya dekat teras pun jarang sekali mengembik, kecuali saat minta makan karena lapar. Teras ini menjadi tempat favorit untuk ngopi dan ngobrol bagi kami, bahkan binatang pun menyukainya. Kucing gemar rebahan di situ baik siang maupun malam. Khususnya siang hari, ayam dan entok milik tetangga doyan banget berada di teras tersebut sambil membuang tahi. Tidak apa-apa. Itu masih bagus daripada pemiliknya yang buang hajat. Bisa repot. Ya, itulah risiko jika teras tidak berpagar. Apalagi modelnya ‘outbon’, out langsung kebon, gitu.

Itulah sekilas tentang kandang kambing yang memiliki tagar #KandangKambing di Twitter. Anda tak akan puas bila hanya membaca. Datanglah. Berbagai kopi dari beragam daerah di Indonesia bisa Anda nikmati bila mau bertandang. Saat ini tersedia kopi dari Bengkulu, Lampung, Bukittinggi, Padangpanjang, Empat Lawang (Palembang), Papua, dan Bogor. Saya akan seduhkan untuk Anda. Gratis! Ngomong-ngomong, di lain kesempatan saya akan tuliskan tentang para tamu dari #KandangKambing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here