>

Rupanya yang namanya ketidakpedulian nurani orang lain akan tetap ada di muka bumi ini. Tidak hanya oleh orang-orang negara ketiga atau miskin, juga oleh mereka yang mengaku negara maju. Apa yang dilakukan surat kabar terbesar Denmark, Jyllands-Posten, dengan menerbitkan karikatur Nabi Muhammad sebanyak 12 gambar dan kemudian disebarluaskan oleh media negara-negara Eropa lain diantaranya Magazinet (Norwegia), Die Welt (Jerman), dan France Soir (Perancis) serta koran Selandia Baru, Amerika, dan Yordania menjadi contoh ketidakpedulian tersebut. Parahnya lagi, karena kerasnya hati yang membatu (mungkin), pemerintah Denmark tidak mau minta maaf kepada kaum muslim dengan alasan kebebasan pers seperti yang diberitakan di Republika, 4 Februari 2006. Jyllands-Posten sendiri sebenarnya telah membuat surat terbuka untuk kaum muslim di seluruh dunia yang dipajang di situs online-nya. Tetap saja apa yang sudah terlanjur dilakukan tidak bisa ditarik lagi.

Sebenarnya gambar karikatur ini pertama kali diterbitkan oleh Jyllands-Posten pada 30 September 2005 dengan judul artikel “Muhammeds ansigt” (Wajah Muhammad). Dua gambar yang memperlihatkan kepala Nabi Muhammad dengan bom di atas surbannya dan beliau sedang menyambut para pelaku bom bunuh diri di surga adalah yang memicu munculnya gelombang protes. Dua minggu setelah pemuatan itu sekitar 3.500 orang melakukan demonstrasi damai di Copenhagen. Bulan Nopember beberapa koran di negara-negara Eropa menerbitkan kembali gambar tersebut. Akibatnya, gelombang protes makin meningkat. Sampai saat ini bukan cuma protes, boikot untuk tidak membeli produk Denmark, dan penutupan kedutaan juga dilakukan.

Protes yang muncul bukan hanya dari Indonesia melainkan seluruh umat muslim di dunia. Peristiwa novel Satanic Verses yang ditulis Salman Rushdie yang menghasilkan perintah hukuman mati dari Syah Iran bagi penulis dari Inggris keturunan India ini rupanya tidak membuat jera. Kita yang di Indonesia tentu masih ingat kelakuan Arswendo Atmowiloto yang meranking orang-orang populer termasuk Nabi Muhammad di tabloid Monitor yang dia komandani. Akibat yang dihasilkan oleh perbuatannya itu adalah hukuman penjara. Dan itu masih mending. Kaum muslim Indonesia masih toleran.

Saya sendiri melihat gambar Nabi Muhammad yang ada di Jyllands-Posten sebenarnya karikatur biasa pada umumnya. Tapi bukan berarti hal itu terus boleh dilakukan begitu saja. Aturan tetap aturan. Sedangkan nabi sendiri saja melarang dirinya digambar. Hadist adalah tuntunan umat muslim selain Al Qur’an. Melanggarnya berarti melawan umat Islam di seluruh dunia.

SHARE
Previous article>Met Ultah Dung
Next article>Jin

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here