jurai guntur alamBegitu membaca bab pertama novel karya Guntur Alam berjudul Jurai, saya langsung menangkap adanya kearifan lokal di dalamnya. Kesan itu muncul lewat diksi yang dipakai, misalnya limas, ebak, ayuk, uwak, pugoe, baloer, kajut, dan rengke. Kata-kata tersebut merupakan bahasa setempat asal penulis dilahirkan yaitu Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan.

Kata lain yang menjadi judul novel ini, jurai, ternyata memiliki makna yang berbeda, bahkan jauh, dari yang saya perkirakan sebelumnya. Kesan pertama yang tertangkap saat membacanya, kata jurai memberikan gambaran ekor sebuah kuda atau binatang sejenisnya yang menjuntai melambai-lambai tertiup angin. Rupanya saya salah. Jurai ternyata memiliki makna lain sebagaimana yang dijelaskan dalam catatan kaki di halaman delapan. Singkatnya, jurai (barangkali) bisa diartikan semacam ‘turunan’.

Kisah yang dituturkan dalam Jurai dibagi menjadi 27 bab. Hal ini memberi kesempatan kepada pembaca untuk beristirahat sejenak, bila mau, di setiap akhir bab tanpa kehilangan potongan kisah dari novel yang tersaji dalam bab tersebut. Selain itu, pembagian sebuah novel ke dalam subcerita-subcerita, kalau saya boleh menyebut seperti itu, memudahkan pembaca memahami kisah yang ditawarkan penulis. Jenis seperti ini barangkali cocok bagi sebagian besar pembaca Indonesia.

Perihal gambar sampul, buat saya tidak menarik, seperti sampul novel-novel teenlit yang tidak lagi menggugah minat baca saya. Saat seorang teman, yang biasa saya panggil Daeng, menyodorkan Jurai, spontan saya berkomentar, “Oh, ini toh.” Itu artinya saya pernah melihat novel tersebut sebelumnya. Dan faktanya memang iya. Saya pernah melewati rak di toko buku yang memajang novel Jurai tanpa sedikit pun muncul keinginan menghampiri untuk sekadar membuka-buka halamannya sebagaimana yang biasa saya lakukan saat di toko buku. Saya tidak suka dengan sampul Jurai. Tentu saja ini selera yang subjektif. Sangat subjektif.

Semakin dalam saya memasuki kisah yang tersaji, semakin saya merasakan bahwa saya sedang membaca ulangan sebuah cerita yang dulu pernah saya baca. Berkali-kali malah, dan dari banyak penulis. Ini tidak otomatis menjadikan Jurai tidak penting. Jurai tetap legit untuk dinikmati. Apalagi Guntur Alam termasuk piawai dalam meracik kata-kata. Cerita memang selalu berulang. Diulang dari masa ke masa. Disesuaikan dengan zaman penulisnya. Jurai mengingatkan saya pada Laskar Pelangi anggitan Andrea Hirata (Bentang Pustaka, 2005) yang berkisah suka duka sekumpulan anak kampung dari Desa Gantung, Belitung Timur. Bila tokoh di Laskar Pelangi berjumlah 10 anak, di Jurai bersembilan yaitu Catuk (Aku), Noyok, Sarpin, Gedo, Ivan, Pangki, Kus, Ci Rika (bibinya Catuk), dan Gunawan. Jika latar waktu Laskar Pelangi mulai dari kelas satu SD sampai tiga SMP, latar waktu Jurai lebih pendek yaitu hanya selama kelas lima di SD Negeri Inpres Bumi Ayu, Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan. Kedua novel itu sama-sama berbentuk memoar (catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang) atau lebih tepatnya disebut novel autobiografis. Lebih ke belakang lagi, Jurai seperti karya-karya Enid Blyton yang terbit antara 1942-1963 yaitu Pasukan Mau Tahu (lima anak), Lima Sekawan (empat anak dan seekor anjing), dan Sapta Siaga (tujuh anak) yang mengisahkan petualangan sekawanan anak-anak.

Kesamaan kisah dari satu buku dengan buku lain sangatlah jamak. Jurai mungkin diilhami Laskar Pelangi atau karya sejenis yang lain. Namun demikian, Jurai tentu saja sebuah karya mandiri meski ada kesamaan plot atau alur cerita dengan buku lain. Sama kasusnya misalnya antara Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) dengan 100 Tahun Kesunyian (Gabriel García Márquez) dan Amba (Laksmi Pamuntjak) dengan Saman (Ayu Utami). Atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Hamka) dengan Magdalena (Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, pujangga Mesir) yang kemudian dianggap sebagai plagiat karena memiliki banyak sekali kemiripan dengan novel Magdalena yang aslinya berjudul Sous les Tilleuls dan ditulis oleh Jean-Baptiste Alphonse Karr (novelis Perancis).

Yang saya tak mengerti, Jurai memiliki citarasa yang sama dengan dua novel karya Khrisna Pabichara, Sepatu Dahlan dan Surat Dahlan. Saya merasakan kesamaan ini lewat kosakata yang digunakan dan gaya bertuturnya. Apakah mereka berdua berasal dari satu kawah candradimuka? Atau berguru pada munsyi yang sama? Entahlah.

Sebuah penjelasan memang diperlukan untuk istilah-istilah dari bahasa daerah semacam yang ada di dalam Jurai. Bentuknya bisa berupa catatan kaki atau glosarium yang ditaruh di halaman-halaman terakhir. Novel Jurai memilih catatan kaki, dan ini buat saya cukup mengganggu. Ini membuat saya terpaksa berhenti membaca untuk mengalihkan pandangan ke bagian bawah halaman yang sedang saya baca. Bagi saya, glosarium di akhir novel lebih nyaman. Satu lagi, catatan kaki di halaman 199 membuat saya bertanya-tanya. Apa kaitannya penyair muda asal Bandung bernama Faisal Syahreza dengan tokoh Bang Faisal Syahreza yang jelas berlatar tempat Muara Enim di novel ini? Apa karena sajak pendek yang dikicaukan di galur waktu Twitter pada 17 Juli 2012 milik Faisal Syahreza yang dari Bandung itu digunakan dalam novel sehingga tokoh Bang Faisal Syahreza harus muncul? Kehadiran tokoh ini yang tiba-tiba terasa sekali dipaksakan. Dalam kasus ini, saya seperti melihat penulis melakukan adegan balas budi.

jurai guntur alam
Foto bersama Guntur Alam setelah acara bincang buku yang diadakan @RumahKataID (Rumah Kata Indonesia) 10 November 2013.

Bagaimanapun juga, Jurai adalah bacaan yang menghibur. Ada dua adegan yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya dan membuat mata saya berkaca-kaca. Guntur Alam yang lahir 20 November 1986 ini memang jago dalam meramu kata untuk menggambarkan sebuah kejadian, termasuk kejadian lucu. Meski tidak sampai terpingkal-pingkal, saya dipaksa tersenyum saat membacanya.

Sumber gambar: koleksi pribadi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here