Saat seorang peserta kumpul blogger ditanya pembawa acara tentang jumlah ideal tulisan sebuah postingan,  dia menjawab tiga paragraf. Anda sendiri, berapa?

Tentu saja jumlah ideal sebuah tulisan dalam blog sifatnya relatif dan subyektif. Tidak ada ukuran baku berapa banyak paragraf yang harus dibuat atau berapa jumlah kata dalam satu postingan. Kalaupun ada standar yang ditetapkan, itu juga kira-kiranya saja, bukan ukuran yang mengikat. Menurut saya, banyak sedikitnya jumlah kata, kalimat, maupun paragraf lebih bersifat fleksibel.

Saya dulu mentargetkan jumlah kata dalam satu postingan paling tidak 1000 atau setara dua setengah lembar kertas A4 dengan ukuran huruf 12 dan spasi satu. Ke sini-sini jumlah itu saya turunkan menjadi 400-600 kata. Bukan apa-apa, dengan menuliskan 1000 kata memang bisa lebih tuntas dalam menguraikan apa yang ingin saya sampaikan. Namun dunia blog beda dengan dunia cetak semacam surat kabar. Mata cenderung lebih cepat lelah ketika memelototi tulisan di monitor dibandingkan membaca tulisan di atas kertas. Atas pertimbangan itulah kemudian saya memutuskan mengurangi jumlah tulisan yang dibuat. Akibatnya memang kadang-kadang saya merasa belum tuntas dalam menyampaikan gagasan kok jumlah kata sudah memenuhi kuota. Jika seperti itu yang terjadi, biasanya poin-poin yang ingin disampaikan saya kurangi atau tulisan saya bagi menjadi dua. Perihal memotong tulisan, saya pernah melakukannya belum lama ini dalam tulisan yang berjudul Pikiran Tuhan Pikiran Setan dan Setan Mengalahkan Tuhan.

Jika anda mengikuti tulisan Wong Kam Fung baik dalam blog ini maupun blog lama sebelum dipindahkan ke sini, tulisan yang sekarang tidak sepanjang tulisan-tulisan sebelumnya. Seperti yang saya sampaikan di atas, tujuannya memendekkan tulisan semata-mata demi kenyaman anda sebagai pembaca. Dengan jumlah yang terbatas tersebut, saya tetap berusaha membuat pembaca mengerti dan merasa tuntas, tidak seperti orang kencing yang ‘ayang-ayangen’ atau ‘anyang-anyangen’ (sudah selesai kencing tetapi rasanya masih ada air seni yang tersisa di dalam).

Dulu ketika membuat artikel perjalanan termasuk pendakian dan camping, saya bisa menuliskannya sampai 18 halaman kertas ukuran A4. Anda yang tidak begitu tertarik dengan kisah pendakian, barangkali anda akan cape dan bosan ketika membaca Ekspedisi Panggede, Puncak Salak I, atau Surken. Mungkin anda bertanya, “Kok bisa menulis sebanyak itu?” Itulah kekuatan dari hasrat menggebu-gebu dalam menulis karena didorong euforia setelah melakukan kegiatan yang begitu menyenangkan. Sampai saat ini, passion dalam menulis artikel perjalanan tetap menggelora. Begitu juga setelah pulang dari jalan-jalan di Bandung dua minggu yang lalu. Namun dalam menuliskan acara jalan-jalan tersebut sekarang ini, tulisan yang kemudian saya beri judul Bandung Euy! tersebut saya batasi jumlah katanya meskipun saya ingin menguraikannya lebih panjang lagi, dan saya jamin anda pasti tidak bosan membacanya. Saat ini saya bisa menahan untuk tidak berpanjang-panjang. Entah nanti di perjalanan selanjutnya dan kebetulan pas lagi ‘kalap’. Saya tidak berani jamin deh. 😉

Mau panjang atau pendek bahkan seandainya cuma satu kata isi postingan yang kita buat, itu bukan hal penting untuk diperdebatkan. Yang paling utama adalah seberapa sering kita mengupdate blog kita dengan postingan baru yang entah isinya apa atau berapa kata. Daripada berbusa-busa memperdebatkan jumlah ideal tulisan sebuah postingan, lebih bermanfaat jika kita mulai menulis, tidak peduli berapapun jumlah kata, kalimat, maupun paragrafnya.

Jadi berapapun jumlah ideal tulisan sebuah postingan menurut anda, maaf… emang gua pikirin?

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here