jodoh di tangan facebookSuer, saya baru ngeh kalau hari ini bagi sebagian orang dianggap istimewa. Terutama bagi mereka yang merayakan, hari ini dianggap sebagai hari kasih sayang. Tidak bagi saya!

Betul, saya tidak menganggap hari ini perlu dirayakan sebagai hari kasih sayang. Jika Anda menganggap sekarang Hari Valentine. It’s okay. Tapi bukan otomatis rasa sayang itu wajib ditunjukkan hari ini. Jika Anda sekarang merayakan hari ini yang Anda sebut sebagai Hari Valentine dengan mengekspresikan kasih sayang kepada orang yang Anda cintai, bagaimana dengan besok? Masih tetapkah? Atau kadarnya lebih rendah karena sudah bukan Hari Valentine? Atau sama saja, atau justru lebih tinggi?

Saya tidak anti dengan Hari Valentine, juga tidak menentang Anda yang merayakannya. Itu hak Anda kok. Saya sendiri bukannya tidak tahu apa itu Hari Valentine atau siapa itu Valentine yang mendapatkan kehormatan namanya dijadikan sebagai hari kasih sayang.

Apapun penamaannya, boleh-boleh saja. Mau Valentine, Varises, Valium, atau yang berbau lokal semacam Vaimin, Vaijo, Vanu, maupun Vayahdehlu, nggak ada yang melarang. Bukan masalah namanya, tetapi bagaimana kita bisa memaknai hari yang buat sebagian orang disakralkan ini. Jika hari ini dideklarasikan sebagai hari kasih sayang, ya silakan. Buat saya pribadi, hari kasih sayang bukan hanya cukup di tanggal 14 Februari. Seharusnya kasih sayang itu dilimpahkan sepanjang hari, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan dalam setahun. Intinya kasih sayang itu selayaknya ditebarkan setiap detik sepanjang kehidupan manusia, bukan hanya kepada orang-orang yang dikasihi tetapi ke seluruh mahluk hidup di muka bumi ini. Bagaimana menurut Anda?

Dan bisakah Anda membayangkan apa yang bakal terjadi bila mahluk hidup yang bernama manusia ini mau mengobral ‘arrohman dan arrohim‘nya kepada sesama mahluk hidup lainnya? Barangkali yang namanya Gayus sang koruptor tidak akan muncul karena dia menyadari tindakannya bakal menyakiti mahluk (manusia) lain. Perang pasti tidak akan terjadi di muka bumi ini. Mana ada sih orang yang saling menyayangi kemudian bunuh-bunuhan? Tetapi sayangnya, semua manusia saling menyayangi yang saya sebutkan di atas pasti Anda anggap sebagai sebuah andai-andai. Betul, saya memang sedang berandai-andai. Beragamnya manusia di muka bumi ini jelas tidak bisa memiliki perilaku yang homogen semacam robot. Manusia memiliki perilaku dan cara berpikir yang heterogen, dan itulah uniknya mahluk hidup yang bernama manusia. Dengan demikian, jelas kalau sayang-menyanyangi antar seluruh umat manusia di muka bumi ini hanyalah sebuah utopia.

Utopia saling sayang menyayangi itu juga berlaku ketika bentuk kasih-sayang itu disalurkan melalui kecanggihan teknologi semacam Facebook di internet. Bahwa Facebook bisa menjadi media berkasih sayang, itu tidak salah. Bahkan jika ada yang mengatakan bahwa jodoh ada di tangan Facebook, faktanya memang demikian. Beberapa teman yang saya kenal ‘sukses’ mendapatkan jodoh lantaran Facebook. Facebook menjadi mak comblang sudah terbukti benar adanya. Dan itu sisi positifnya. Berarti ada sisi negatifnya dong? Facebook memang seperti dua sisi mata uang. Selain bisa menjadi perantara perjodohan, Facebook dapat menjadi altar pengorbanan.

Sadar atau tidak, Facebook bisa menjadi ladang pembantaian. Tidak sedikit, terutama ‘ababil’ alias abg labil, menjadi korban orang-orang yang menebar rayuan di jejaring sosial itu. Para abg menjadi domba-domba yang masuk ke dalam belantara Facebook, sementara itu manusia serigala pemangsa mereka sedang mengamati para korbannya itu di kerimbunan nan gulita. Jika sudah demikian, apakah Anda masih menganggap jodoh ada di tangan Facebook?

Memang, bagi mereka yang menuhankan jejaring sosial yang satu ini, jodoh ada di tangan Facebook. Walaupun lebih tepatnya, jodoh ada di tangan Tuhan melalui Facebook.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here