Ini adalah tulisan pertama Grup 08 dari Cerita Berantai bernama #3Penguasa yang diadakan Blogor (komunitas blogger Bogor). Tulisan kedua akan dibuat @yoszca, ketiga oleh @utamiutar.

——————————————————————–

Nama itu muncul lagi setelah seminggu menghilang di linimasa. Entah sudah keberapa kali kicauan itu ditulis. Kicauan yang sama, yang ditujukan hanya kepadaku.

“@KandangKambing… fulbek dooong. Pliiiissss…”

Semenjak aku memiliki akun Twitter, ada saja orang usil. Ada saja keisengan yang ditujukan untukku. Yang mengajak kenalan lah, yang merayu, yang minta nomor hp, dan yang paling sering adalah minta follback. Jika iseng itu datang, biasanya akan kutanggapi dengan baik-baik atau aku abaikan bila masih tetap iseng. Dan biasanya juga bila sudah aku abaikan, mereka akan berhenti. Tapi untuk yang satu ini, betul-betul pantang menyerah meski sudah aku abaikan.

“@KandangKambing Sori ya… aku seminggu kemarin nggak nongol. Tugas negara.”

Emang gua pikirin? Kataku dalam hati. Itu kicauan kedua setelah kicauan pertamanya yang berisi permintaan follback. Aku tetap tidak mau menanggapi, tapi aku klik foto profilnya juga akhirnya. Kegigihannya membuatku ingin tahu seperti apa tampangnya. Foto dirinya muncul di monitor. Hmm… lumayan juga. Tidak memalukan bila diajak jalan bareng. Kulihat jumlah follower yang dimiliki 957.648 sedangkan yang dia follow hanya 1.023 orang. Jumlah kicauannya sungguh mencengangkan, 153.264 tweet. Wow! Ini orang pasti tak pernah tidur, atau hidupnya selalu dekat dengan gadget. Selain itu orang ini jelas bawel di linimasa, atau malahan cenderung nyinyir. Padahal jika melihat akun dia mulai dibuat, umurnya baru setahun satu bulan. Kurang malah. Nama yang dia pakai berbau-bau Jawa. Entah dia benar-benar orang Jawa atau biar dianggap sebagai orang jawa, aku tidak ambil pusing. Di media sosial semacam Twitter ini siapapun bisa jadi apapun.

Aku tercenung. Tiba-tiba saja ketetapanku untuk mengabaikkannya jadi goyah. Mendadak aku jadi bimbang untuk tidak mempedulikannya. Setan dari mana yang telah meracuni hatiku untuk mengacaukan akal sehatku, otakku. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi dengan tenang. Bayangan menjadi jobapara alias jomblo bahagia padahal sengsara terlihat menjadi mengerikan. Aku yang tadinya enjoy bahkan membangga-banggakan kejombloanku sekarang seperti terkapar oleh bumerang, jadi korban senjata yang makan tuannya sendiri. Padahal usiaku belum tua-tua amat. 25 tahun tanggal 20 nanti.

“@KandangKambing Sudah nonton Titanic 3D? Bagus lho.”

Dari mana dia tahu kalau aku ingin nonton film itu? Kicauan ketiganya menimbulkan rasa penasaranku. Aku memang ingin sekali nonton film tersebut semenjak iklannya ditayangkan di televisi sebulan yang lalu. Rupanya sekarang sudah tayang. Ah, kicauannya ini pasti hanya kebetulan saja sesuai dengan rencanaku. Dia juga pasti tidak tahu kalau hobiku nonton bioskop dan membaca buku. Buku apa saja, lebih-lebih bukunya J.K. Rowling.

“@KandangKambing Tahu nggak? Buku baru karya JK Rowling bentar lagi terbit lho.”

Ah, dia pasti bohong. Aku tidak pernah dengar kabar jika penulis favoritku ini sedang menulis buku baru dan sekarang mau terbit. Jangan-jangan akunya yang ketinggalan informasi? Mungkin saja dia benar. Aku jadi ragu dengan keyakinanku. Kicauan keempatnya ini semakin menggoyahkan tekadku untuk diam. Sekarang aku bimbang bila dia kebetulan saja tahu penulis idolaku. Aku mulai berpikir bahwa dia kelihatannya telah mempelajari segala hal tentang diriku. Entah dari mana sumbernya tetapi dengan adanya internet, bisa saja dia peroleh biodata diriku.

“@KandangKambing Aku punya voucher Juicy Couture Perfume for Women nganggur nih. Kamu yang cocok makai. Mau?”

Hah? Sampai parfum andalankupun dia tahu? Parfum itu memang senjata utamaku bila aku hang out. Tanpa itu rasanya PD-ku hilang. Aku pengguna setianya sejak Juicy Couture Perfume diluncurkan tahun 2006 dan mendapatkan penghargaan Fifi Fragrance of the Year yang prestisius. Wangi sedap malamnya itu lho yang membuatku jatuh hati. Urusan parfum adalah urusan emosi. Tawaran dia itu seolah-olah obat bius penghipnotis kesadaran. Tiba-tiba saja tombol Follow di akun Twitternya aku tekan.

“Waooooooooow… makasih dah di fulbek @KandangKambing. *guling-guling sambil ngemut sandal saking senangnya*”

Aku tersenyum melihat kicauan dia yang lebay di monitor.

***

Jika cewek sudah merasa nyaman sama seorang cowok pasti ujung-ujungnya berharap ditembak. Itu kata sahabatku. Benarkah demikian? Entahlah. Yang jelas, semenjak permintaan follback dia aku penuhi, dia rajin menyapa aku setiap online. Kadang-kadang baru besoknya aku tanggapi karena aku tidak setiap saat buka Twitter. Kata-katanya sopan, sering menyanjung, dan suka membicarakan segala hal yang aku sukai. Lama-lama saya merasa ‘klik’ dengan dia. Aku merasa nyaman bertegur sapa dengannya di linimasa. Perbincangan bersama dia yang tak terasa sudah berjalan tiga bulan ini membuatku berharap bisa bertemu dia secara langsung. Terus terang, dia semakin membuatku takut membohongi diriku sendiri dengan menjadi jobapara. Aku tak peduli dengan peringatan sahabatku untuk tidak menjadi cewek yang terlalu gampang jatuh cinta karena nanti akan mudah tersakiti. Ya, aku memang telah jatuh cinta. Jatuh karena kata manisnya di linimasa. Aku ingin ketemu dengannya. Tiba-tiba aku merasa umur 25 tahun sudah terlalu tua buatku untuk menyandang gelar jomblo. Itulah sebabnya ketika dia bilang ingin kopdar, aku langsung mengiyakan.

***

Botani Square ramai pengunjung. Mal yang berada di tengah Kota Bogor ini selalu ramai apalagi di akhir pekan seperti sekarang. Di aula mal tersebut sedang berlangsung sebuah acara pagelaran musik. Di panggung terlihat grup band yang sedang membawakan Brilliant Corners milik Thelonious Monk. Lagu jazz yang kadang menemani malamku. Di panggung, sebuah backdrop dengan tulisan besar dan mencolok “Mingguan Bareng Idang Rasjidi Syndicate” menjadi latarnya. Di bawah tulisan besar itu terbaca tulisan lebih kecil timun dan madu lalu entah apa lagi. Nampaknya grup jazz itu sedang mengkampanyekan makanan sehat atau apapun, pokoknya yang terkait dengan timun dan cairan yang dihasilkan binatang penyengat alias lebah.

Aku hanya melewati aula penuh kerumunan penggemar jazz. Kupercepat langkahku menuju Kopi Nian Euy Café yang berada di lantai tiga berseberangan dengan Cinema XXXI. Aku janji ketemu dengannya pukul 12 di kafe tersebut. Jam tangan di lengan kiriku menunjukkan pukul 11.15 WIB. Masih cukup waktu untuk ke toilet dahulu bila perlu. Satu meja dengan tiga kursi yang berada di sudut teras kafe itu terlihat nyaman untuk menunggu sambil membaca novel yang tak lupa kubawa sebagai teman. Dia yang ternyata dari Bandung tapi lagi kuliah pascasarjana di IPB tentunya sedang dalam perjalanan menuju ke sini.

“Kandang Kambing, ya?”

Novel yang sedang kubaca jatuh ketika aku mendengar suara itu.

(Bersambung ke blognya @yoszca)

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here