jejak tradisi megalitik di gunung salakHari Minggu dua minggu yang lalu saya manfaatkan untuk memasuki lorong waktu ke masa ribuan tahun lalu. Di punggung gunung Salak yang terakhir kali meletus tahun 1699 ini, segala petualangan saya dimulai.

Tersebutlah sebuah komunitas pecinta sejarah yang menamakan dirinya Napat Tilas Peninggalan Budaya (NTPB). Komunitas ini memiliki semboyan nyukcruk galur mapay laratan yang maknanya kurang lebih sama dengan napak tilas. Mengapa semboyannya berbahasa Sunda? Maklum saja karena para pendiri dan markasnya berada di Bogor yang masyarakat terutama penduduk aslinya menggunakan bahasa Sunda. Meskipun saya pendatang dan tidak menguasai bahasa Sunda, hanya meraba-raba dan menebak-nebak ketika mereka berkomunikasi, saya tertarik dengan komunitas ini. Saya sangat berminat dengan aktivitas yang mereka lakukan. Untuk itulah kemudian saya memutuskan bergabung dengan komunitas NTPB.

Komunitas yang dirintis dan dijalankan oleh orang-orang pecinta sejarah seperti Hendra M. Astari, Naryana Indra, dan Hadi Darajat ini sering mengadakan kegiatan mendatangi tempat-tempat bersejarah dan peninggalan masa lalu. Ketiga orang tersebut pernah duduk bareng dengan saya dalam acara Saung Nyerat di Radio Sipatahunan Bogor. Di tempat itulah saya pertama kali mengenal mereka. Dari perkenalan ini kemudian saya menyampaikan keinginan saya untuk bergabung dengan komunitas yang mereka dirikan. Dengan senang hati mereka menyambut niat saya. Sejak saat itu saya selalu mengikuti aktifitas komunitas ini meski masih sebatas di grup yang ada di Facebook.

Dua minggu sebelum pelaksanaan, saya lihat di grup Facebook ada undangan kegiatan napak tilas ke situs sejarah yang diberi nama Jejak Tradisi Megalitik di Gunung Salak. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung mendaftar. Acara dilaksanakan hari Minggu, 14 November 2011 dimulai pukul 08.30 WIB. Rute perjalanan akan diawali dari Villa Sutiyoso yang berada di Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya (dulu wilayah ini masuk Kecamatan Ciampea), Kabupaten Bogor. Biaya Rp 10.000 per orang untuk mengikuti kegiatan yang begitu bermanfaat ini bisa dibilang sangat murah.

Ketika waktunya tiba, pagi hari saya sudah mempersiapkan segala sesuatu. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera melakukan petualangan di alam terbuka yang sudah lama tidak saya jalani. Terakhir saya masuk hutan adalah ketika mendaki puncak Gede dua tahun yang lalu tepatnya 29-31 Mei 2009, yang kisahnya saya tuliskan dalam Blessed, Farewell, Last Climbing. Berharap bisa datang sebelum jadwal yang ditentukan ternyata hanya tinggal harapan. Bukan pekerjaan mudah, bagi saya, meski sudah direncanakan tetap saja keluar rumah hampir pukul 07.45 WIB. Entah mengapa, musibah datang berurutan seperti sengaja menghambat perjalanan agar saya sangat terlambat sampai di lokasi.

Musibah yang pertama terjadi tidak jauh dari rumah. Baru keluar dari kampung tempat saya tinggal dan sampai di jalan raya, tak lama kemudian tiba-tiba motor saya seperti direm mendadak. Meski tidak langsung berhenti, saya kaget juga. Apalagi pas kejadian itu saya sampai di jalan yang menurun. Rupanya tali ransel saya terjepit rantai dan masuk ke dalam mesin. Segera motor saya hentikan dan saya pinggirkan. Tali yang terjepit rantai tersebut tidak gampang ditarik keluar sambil saya duduk di atas motor. Saya harus cari tempat yang datar untuk memarkirkan motor, baru tali itu bisa dibebaskan dari jepitan rantai meski dalam keadaan hancur. Baru kemudian motor bisa jalan kembali dan harus dibantu dengan dorongan kaki karena jalan menanjak. Saya kebetulan berada di dalam cekungan jalan saat musibah itu terjadi.

Bila motor yang saya gunakan saya pacu dengan kecepatan setara ngebutnya Valentino Rossi, saya pasti akan cepat sampai. Sampai rumah sakit tentunya. Itupun kalau masih mujur. Kalau tidak, sudah pasti segera sampai kuburan.  Sengebut-ngebutnya motor yang saya naiki, tentu saja tidak segila pembalap MotoGP. Saya tetap ngebut tetapi versi saya dan sesuai kemampuan motor yang sudah termasuk uzur. Untuk menyiasati tenaga motor yang sudah ngos-ngosan bila diajak lari kencang sehingga bisa sampai di tujuan dengan waktu lebih singkat, saya tidak menggunakan jalur normal tetapi saya cari jalan tikus. Sayangnya ada saja halangan. Seperti misalnya ketika saya menghindari Jalan Baru kemudian memilih jalan di pinggiran sungai di daerah Cibuluh, ternyata jalan ditutup karena sedang ada acara prosesi pernikahan. Apa boleh buat, terpaksa saya kembali ke Jalan Baru melalui jalan kampung yang sempit serta berliku, selanjutnya memacu kendaraan ke arah Taman Yasmin. Rupanya di Taman Yasmin saya juga tidak bisa ngebut karena ada keramaian. Nampaknya ada demo atau akan ada demo, entah demo apa yang pasti bukan demo masak. Kecuali di situ saya lihat ada Farah Quinn. Beuh, nggak penting banget deh.

Sampai di pertigaan Cibanteng Proyek saya yang boncengan dengan istri berhenti sebentar sekedar beli air mineral dan kudapan. Sambil menunggu istri belanja saya lihat hp. Ada pesan dari kang Hadi yang telah sampai di lokasi dan menanyakan posisi saya sudah sampai di mana. Dia tahu kalau saya benar-benar ikut dari sms yang saya kirimkan dari rumah saat akan berangkat. Saya jawab pesan tersebut menginformasikan keberadaan saya. Untungnya kang Hadi mengatakan melalui sms yang dia kirimkan berikutnya bahwa saya dan istri akan ditunggu. Lega rasanya mendapat jawaban itu. Namun akankah saya betul-betul ditunggu bila mereka tahu jalan yang saya lalui menuju titik pertemuan begitu panjang dan berliku?

(bersambung)

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here