warung kopi di demakIni lanjutan dari tulisan berjudul Berburu Kopi di Kota Wali. Teman yang ditunggu akhirnya datang meski sangat molor dari jam yang sudah disepakati. Tidak apa-apa. Meski tak tepat waktu, teman satu ini memberi kabar sebelumnya. Keterlambatannya disebabkan menunggu kehadiran teman lain yang masih dalam perjalanan. It’s better late than never. Begitu kira-kira ungkapan penenang yang biasa dipakai.

Nama lokasi tujuan ngopi adalah Tembiring. Nama itu tentu saja tidak asing bagi telinga saya. Tetapi di mana persisnya, itu yang jadi masalah. Saya sudah tak ingat lagi di mana daerah yang namanya Tembiring itu berada. Pokoknya daerah itu berada di tengah kota. Sudah puluhan tahun saya meninggalkan Demak dan jarang atau hampir tidak pernah kelayapan lagi seperti dulu saat masih SMP atau SMA. Lagipula, sahabat-sahabat saya sudah tersebar di seluruh belahan bumi ini. Saya tak berharap banyak menemukan kopi enak. Di tempat ngopi yang saya tuju bersama teman-teman saya ini, saya lebih mementingkan bisa nongkrong dan ngobrol melepas kangen bersama-sama teman SMP dan SMA. Itulah sebabnya saat kopi yang tersaji tidak sesuai harapan, saya tak begitu kecewa. Bagaimanapun, tetap ada kesan saat berburu kopi di Kota Wali Demak yang merupakan kota pertama dari tiga kota yang saya sasar dalam #jalurkopi2. Selain bisa reuni, hal mengesankan lainnya adalah pergi ke tempat karaoke setelah dari tempat ngopi. Di ruang karaoke kami bernyanyi dengan suara antara fales dan buruk hingga pukul satu dini hari.

banana split
banana split

Paginya, saya berangkat menuju kota kedua untuk menikmati kopi: Salatiga. Malam hari, saya dijemput sahabat saat kuliah yang asli Salatiga dan tinggal di kota itu. Kami berdua menuju tempat ngopi yang direkomendasikan seorang teman. Warung kopi itu terletak di dekat rumah sakit. Udara dingin Salatiga tak mengurangi niat saya untuk memesan es cappuccino dan kudapan yang ternyata berbeda dari perkiraan saya. Di benak saya, banana split yang saya pesan adalah sebentuk roti berisi pisang sebagaimana yang biasa saya beli di sebuah toko roti di mal di Bogor. Saat disajikan, baru saya ‘ngeh’ kalau banana split yang dimaksud adalah pisang yang ditimbun es krim. Sahabat saya tertawa ngakak melihat saya bengong memperhatikan banana split yang tersaji. Sebuah kombinasi yang ‘alamak!’ antara udara Salatiga, kopi yang saya minum, dan kudapan. Semua serba dingin. Aku ora apa-apa. Tak masalah. Lagi-lagi, yang penting bisa ngobrol bersama teman lama. Ini belum apa-apa dibandingkan pengalaman yang akan saya hadapi di Yogyakarta besok paginya.

Yogyakarta adalah kota ketiga untuk ngopi. Saya meluncur ke kota gudeg itu besok paginya. Dari Salatiga, saya naik bus jurusan Solo. Kemudian berganti bus tujuan Yogyakarta di terminal Kartasura yang ternyata sudah dipindah ke tempat lain. Padahal saya sudah punya rencana akan memotret terminal tersebut. Gagal sudah rencana saya mengambil foto terminal Kartasura yang penuh kenangan. Saya pernah menginap di kota kecil dekat Solo ini ketika masih kuliah dulu, saat main ke rumah teman sekamar kos di Semarang yang orangtuanya tinggal di markas kopassus Kandang Menjangan Kartasura. Ayahnya seorang prajurit kopassus.

Menjelang lohor, sampailah di Yogyakarta. Selama di kota ini, saya berkesempatan tiga kali menikmati kopi di tiga tempat yang berbeda. Acara minum kopi di tiga tempat itu akan saya kisahkan di tulisan yang berbeda. Termasuk cerita tentang kejadian tak terlupakan di Blimbingsari dekat UGM dan di wilayah yang terkenal dengan kupu-kupu malamnya, Sarkem alias Pasar Kembang.

Sumber gambar: koleksi pribadi

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here