pecel Madiun

Kereta Majapahit memasuki Stasiun Madiun pukul 2.20 WIB. Terlambat 16 menit dari yang dijadwalkan dan yang tertera di tiket. Meski PJKA terus memperbaiki pelayanan, keterlambatan seperti ini bukan hal aneh. Jika dibandingkan sebelum-sebelumnya, terlambat enam belas menit masih lebih baik dibandingkan satu jam, tentunya.

Begitu kereta meneruskan perjalanan ke stasiun akhir di Malang, hampir semua penumpang sudah menghilang. Stasiun Madiun menjadi lengang. Hanya ada seorang ibu yang mungkin menunggu penjemputnya dan satu bapak-bapak yang kalau dilihat dari baju seragam yang dipakai, dia seorang kuli angkut. Saya masih mengisi baterai hape di colokan yang disediakan pihak stasiun sambil menunggu teman yang akan menjemput, Jidat nama panggilannya. Setelah dia datang, yang saya lakukan pertama kali adalah mengajaknya nyari nasi pecel. Jam sudah menunjukkan pukul 2.30 lebih tapi sepagi itu tak jadi soal makan nasi pecel Madiun. Warung nasi pecel di depan stasiun yang direkomendasikan seorang teman, yang katanya buka 24 jam ternyata tutup. Jidat kemudian mengajak ke warung lain di Jl. W.R. Supratman dekat POM bensin. Warung itu entah melayani pembeli hanya sore sampai pagi atau selama 24 jam. Yang jelas, nasi pecel yang dia jual begitu nikmat. Lebih lezat dari pecel Madiun yang dijual di Bogor. Sambil lesehan, meski tersedia juga kursi, saya menikmati nasi pecel Madiun yang merupakan menu wajib untuk dinikmati jika ke Madiun. Sudah jam tiga lebih saat beres makan. Perjalanan dilanjutkan ke tempat kos Jidat untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Ini malam pertama, lebih tepatnya menjelang terang hari pertama di Madiun.

Nasi kuncar di angkringan pinggir lapangan Margobawero.

Paginya, sarapan di angkringan pinggir lapangan Margobawero. Ada banyak menu pilihan berujud nasi bungkus. Ada beberapa kelompok bungkusan nasi. Yang menarik perhatian saya ada dua jenis nasi bungkus yang namanya baru bagi saya. Nasi jotos dan nasi kuncar. Saya mengambil nasi kuncar. Rupanya nasi ini semacam nasi kucing yang biasa dijual di warung angkringan, hanya saja lauknya lebih beragam. Selalu menarik ketika menemukan hal baru, apa pun. Bisa dipastikan, saya pasti mencoba. Apalagi urusan kuliner.

Menikmati kopi sudah pasti saya sempatkan. Namanya juga #jalurkopi, bagaimana saya harus mempertanggungjawabkannya jika di program ini tidak ada acara minum kopi? Kesempatan itu datang kala saya main ke rumah seorang teman masa kuliah dulu yang sekarang tinggal di Desa Manisrejo, Madiun. Kopi yang saya nikmati hanya kopi rumahan, bukan kopi premium yang dijual di kafe yang orang suka mengistilahkan single origin atau specialty atau apalah. Apakah ini kopi Kandangan yang katanya khas Madiun? Saya tak sempat tanya. Yang pasti, ini kopi makcrot sekali nikmatnya. Sore atau malam ini, sebelum meluncur ke Ponorogo besok pagi, semoga saja ada kesempatan mencicipi kopi Kandangan. Bila tidak, setidaknya saya sudah menikmati menu wajib bila berada di Madiun: PECEL.

Sumber gambar: koleksi pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here