Rencana ke Ponorogo yang tadinya mau dijalankan hari ini mengalami perubahan. Tadi malam, saya ke Ponorogo. Sebelumnya saya pikir akan naik angkutan umum, ternyata diajak naik sepeda motor. Ini menyenangkan. Saya menikmati jalan dan desa entah, selama kurang lebih 45 menit, Madiun-Ponorogo. Hanya kegelapan malam, lampu jalan di ruas jalan tertentu, dan kadang-kadang remang lampu dari rumah penduduk yang saya temui sepanjang jalan.

Sebelum meluncur ke Ponorogo, saya ke Stasiun Madiun memesan tiket pulang ke Jakarta. Setelah itu ke alun-alun Madiun untuk menikmati pecel Madiun yang terkenal enak dan ramai. Dibandingkan pecel yang saya makan saat hari pertama datang, pecel yang di alun-alun lebih merangsang karena variasi lauk pendamping yang disediakan bermacam-macam. Saya menikmati suasana malam sambil menyantap pecel. Mulut ini berdesis. Kembali saya menikmati kuliner khas Madiun nan lezat. Untuk kedua kalinya, dan dua-duanya sama lezatnya. Saya penasaran ada tidak sih pecel yang tidak enak di Kota Pecel ini? Bila Madiun mengklaim dirinya sebagai Kota Pecel saya tak heran. Dua kali saya menemukan patung mbok-mbok tukang pecel yang melayani pembeli. Si mbok penjual pecel bertumpu di kedua lututnya, laki-laki yang beli pecel posisinya agak menyoja seperti orang rukuk saat salat.

Menikmati secangkir espresso kopi Kandangan. (foto: @septisutrisna)
Menikmati kembali hobi yang sudah lama tak dijalani: bermain catur.

Saya tak keberatan dan tak bosan bila harus menikmati pecel lagi selama di Madiun atau di Ponorogo (dan ini kejadian paginya di Ponorogo saat sarapan). Setelah mengisi perut di alun-alun, acara selanjutnya menyeruput kopi. Akhirnya harapan saya terkabul untuk mencoba kopi Kandangan. Kandangan adalah nama perkebunan kopi terluas di Indonesia yang berada di Desa Kare, 15 kilometer dari Kota Madiun. Perkebunan yang pernah menjadi rute gerilya Jenderal Sudirman ini merupakan warisan Belanda tahun 1911. Walaupun tak sempat mengunjungi perkebunannya, setidaknya sudah mencicipi kopinya. Kesempatan minum kopi Kandangan saya peroleh di Kafe After Hour Coffee yang berada di Ruko PGM B7 Serayu, Madiun. Saya bersama @Jidat dan @septisutrisna dijamu seorang teman yang baik hati, @dituneik, menikmati kopi di kafe itu. Meski perkebunan Kandangan memiliki dua macam kopi, arabika dan robusta, tadi malam di kafe adanya hanya yang jenis robusta. Tidak semantap arabika memang tapi lumayanlah. Espresso kopi robusta Kandangan tetap bisa menjadi pemuas syahwat kopi saya sebelum bertolak ke Ponorogo.

Memperkenalkan dan menularkan cara bermain truf. (foto: @Jidat)

Setelah berbincang sejenak bersama para sahabat, pukul 21.00 WIB, dengan dibonceng motor, saya berangkat ke Ponorogo. Kami berusaha tidak terlalu malam di Madiun karena sudah di tunggu teman-teman di sebuah tempat ngopi yang oleh mereka suka disebut Kopi Kandang di Jl. Pramuka, Ponorogo. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Kopi Kandang. Di tempat itu, saya kembali menikmati kopi. Kali ini es kopi putih sachet. Tetap nikmat. Teman-teman yang sebagian besar sudah pernah saya temui di acara #NgopiKere ini sangat ramah. Rasa persaudaraannya begitu tinggi. Tak ada basa-basi memuakkan yang saya rasakan. Percakapan begitu mengalir hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul satu malam. Meski sebenarnya masih ingin berbincang lebih lama, kami kemudian ramai-ramai pulang ke sebuah rumah di Desa Joresan, Mlarak, Ponorogo yang ternyata jadi markas tempat berkumpul teman-teman dari Ponorogo ini. Di markas ini, bukannya tidur, kami malah melanjutkan acara ngobrol bahkan bermain truf yang sebelumnya saya perkenalkan dan ajarkan. Sebuah permainan kartu yang dulu pernah saya mainkan bersama teman-teman kos di Semarang. Kami bermain truf hingga pagi menjelang.

Saya sangat menikmati malam baik saat di Madiun dan setelah sampai di Ponorogo. Kopi dan obrolan adalah dua hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Selain itu, bermain truf saat sudah berada di markas dan bermain catur bersama @Njowotenan saat berada di Kopi Kandang menjadi aktivitas yang tak akan terlupakan. Lebih-lebih dua permainan ini sudah lama, bertahun-tahun, tidak saya lakukan. Di Ponorogo ini, kegembiraan dari bermain truf dan catur kembali mendatangi.

Sumber gambar: koleksi pribadi

4 COMMENTS

  1. Selalu ada kenangan disetiap perjalanan. Dan, jangan pernah berhenti untuk melangkah. Akan semakin banyak cerita, saat kita semakin jauh berjalan. Selamat! Anda telah berbagi sebagian kisah dari belahan dunia ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here