jadilah pemarahNggak apa-apa bila anda jadi memusuhi saya gara-gara membaca judul tulisan ini. Namun anda pasti akan mengerti ajakan menjadi pemarah saya bila anda mau bersabar meniti huruf per huruf dari artikel ini.

Saya tidak bercanda ketika menyarankan anda menjadi pemarah. Adakalanya menjadi pemarah itu baik. Dalam keadaan tertentu menjadi pemarah lebih perlu daripada diam dan bersabar. Namun semua kembali ke pendirian anda masing-masing. Orang boleh setuju boleh juga menganggap nggak mutu saran yang saya sampaikan tersebut. Di akhir tulisan ini saya akan ajukan sebuah pertanyaan dan saya yakin anda pasti menjawab ’ya’. Kecuali …

Aneh memang bila ada yang menyarankan seperti yang saya sarankan. Biasanya yang kita dengar adalah ajakan untuk menjadi orang sabar, jangan gampang marah, dan anjuran-anjuran sejenis. Tidak salah dan pasti dibenarkan bila kita menyarankan semacam itu. Akan menjadi saran yang membuat orang memelototkan mata atau mengernyitkan dahi jika kita menyarankan sebaliknya. Biasa kan? Namanya juga melawan arus. Menjadi menarik perhatian ketika berlawanan dengan kelaziman. Seperti slogannya para jurnalis dalam memburu berita, ”Anjing gigit orang biasa. Orang gigit anjing luar biasa.” Sadar atau tidak, padahal sebenarnya banyak orang yang gigit anjing alias RW (daging anjing), kok tidak diberitakan?

Lalu mengapa harus menjadi pemarah jika orang yang suka marah itu tidak disenangi orang? Betul bila anda bertanya seperti itu. Harus ada alasan yang meyakinkan dan bisa diterima tentunya agar anda rela menjadi pemarah. Pasti anda menolak keras mempertaruhkan nama baik anda jika alasannya tidak masuk akal. Tidak usah khawatir, saya akan kasih alasan yang masuk nalar agar anda mau menjadi pemarah sesuai anjuran tulisan ini. Tidak sekarang tentu saja.

Ada atau tidak ada tulisan ini, faktanya ada orang yang suka marah-marah. Si pemarah ini mungkin ada di sekitar anda. Atau barangkali malah serumah dengan anda. Mereka yang gampang naik darah, mudah tersulut dengan sedikit ketidakcocokan, cepat meninggi emosinya adalah orang-orang yang pantas disebut pemarah. Jika si pemarah ini benar-benar serumah dengan anda, anda pasti lebih tahu bagaimana rasanya seatap dengan dia. Dan… pasti anda menolak keras jika ada yang menganjurkan untuk menjadi orang seperti si pemarah yang serumah dengan andah (biar belakangnyah ah semuah yah?).

Seorang teman pernah mengisahkan ketemu dengan seorang pemarah. Saat dia ada di rumah makan, calon pembeli lain datang dengan naik mobil. Satu orang turun dari mobil itu dan satunya hendak memarkirkannya. Entah bagaimana kejadiannya, tempat parkir yang tadinya akan diisi oleh mobil tersebut tiba-tiba oleh tukang parkir diberikan ke mobil lain yang penumpangnya juga mau makan. Meledaklah orang yang sudah turun duluan. Dia ngotot bahwa tempat parkir itu miliknya. Yang disalahkan juga tidak mau kalah. Katanya, tukang parkir yang menyuruh dia parkir di tempat itu. Perkelahian fisik tidak akan terelakkan jika yang datang belakang tidak mengalah. Dan untungnya juga, teman si pemarah berusaha meredakannya dan menenangkan orang yang menjadi lawan temannya. Nampaknya dia tahu jika temannya seorang pemarah. Akhirnya orang yang datang belakangan yang nampaknya lebih stabil emosinya memilih pergi dan tidak jadi makan di tempat itu. Sebuah keputusan yang bijak dan itu lebih baik tentunya.

Nah, anjuran menjadi pemarah yang satu ini berbeda dengan menjadi pemarah seperti yang diceritakan teman saya di atas. Alasan saya menganjurkan anda menjadi pemarah adalah karena memang dibutuhkan seorang pemarah untuk hal-hal di bawah ini. Dan anda bisa dikategorikan orang yang peduli dengan nasib orang lain, sadar keadilan, dan menegakkan kebenaran. Itu beberapa di antara banyak alasan mengapa saya mengajurkan anda untuk marah. Belum jelas? Lanjutkan saja membacanya.

Ini yang saya maksudkan. Marahlah ketika bertemu tindakan korupsi. Marahlah saat mendapati penyalahgunaan kekuasaan. Marahlah saat berjumpa penindasan dan pendzoliman. Jadilah pemarah waktu anda bertemu ketidakbenaran dan ketidakadilan. Tentu saja tidak cukup hanya dengan marah-marah. Perlu tindakan lanjutan untuk menuntaskan kepedulian yang anda awali dengan kemarahan tersebut. Pun, jika ternyata anda hanya bisa menjadi pemarah, buat saya itu lebih baik daripada anda diam tidak peduli saat menemukan hal-hal yang seharusnya membuat anda marah.

Betulkah anjuran tulisan ini?

Sumber gambar: di sini

18 COMMENTS

  1. Jadi inget bukunya Redi Panuju “Menulislah dengan Marah”, antara lain berisi anjuran menggunakan energi “kemarahan” untuk menulis, menumpahkannya ke dalam tulisan seperti mengenai hal-hal yang layak dimarahi pada akhir postingan ini.
    Aku sendiri belum bisa begitu. Misalnya saat sudah sangat marah pada KRL yang sering banget mengalami gangguan hingga telat melulu, akibatnya malah jadi malas nulis perihal itu.

  2. @Siti Fatimah Ahmad: waalaikumsalam wb.wb. maaf baru dijawab skg. slmt hari raya idul adha juga. semoga berkah selalu dilimpahkan ke bunda Siti dan keluarga di Sarikei, Serawak πŸ™‚
    @windcute selalusetiapsaat: betul, setuju
    @Dira: trmksh komennya, salam kenal juga πŸ˜‰
    @z4nx: nggak papa, mksh dah mampir πŸ˜‰

  3. Assalaamu’alaikum WongKamFung…

    Sahabat…. Tiada embun yang lebih bening selain beningnya hati
    Di bulan Zulhijjah, Iedul Adha kembali menyapa hari
    Kemaafan dipohon untuk khilaf dan salah jika mengkhianati
    Sebuah pengorbanan tulus jadi iktibar membaiki diri

    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    Salam keindahan Iedul Adha 1431 H dari saya di Sarikei, Sarawak.

  4. @Zoel: pemarah dan peramah, tidak ada yg beda unsur huruf pembentuknya tapi bertolak belakang maknanya πŸ˜‰
    @sjafri mangkuprawira: marah pemicunya istighfar peredamnya… betul pak prof πŸ˜‰

  5. …pemarah adalah “tukang” marah..dari asal kata marah dtambah awalan pe…jadi kalau tukang marah setiap ada kejadian yg dinilai di luar normanya dia langsung pasti akan marah…nah kalau ada koruptor,penzaliman,manipulator,dsb boleh saja “marah”… yg setiap orang derajadnya berbeda-beda satu sama lainnya…namun agar cepat reda dan emosi kita menurun…maka beristighfar dan berdoa saja agar mereka kembali ke jalan lurus…itu idealnya…

  6. setuju pak,,,,, ama koruptor itu harus marah… ama yang berbuat dzolim harus marah… dan ini rasional πŸ™‚
    dan kalau kalau marah karena ego atau emosi bukan pada tempatnya, bikin jantung kita deg-deg-an secara cepet… nah untuk marah yang satu ini (karena ego, emosi) syaitan turut serta menabuh genderang…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here