Saya tidak menyepelekan anda yang mencalonkan diri sebagai bupati. Itu hak anda sebagai warga negara. Itu juga hak partai-partai yang mencalonkan anda. Hanya saja saya ingin mengajukan satu pertanyaan dan tolong dijawab dengan jujur. Anda mau nggak jika bisul anda dioperasi oleh seorang tukang potong ayam, bukan dokter?

Saya yakin anda pasti tidak akan bersedia menjadi kelinci percobaan dengan melibatkan bisul anda, kecuali anda memang mencari celaka dengan menyerahkan pekerjaan bukan pada ahlinya. Terus terang saja saya kasihan sekaligus prihatin dengan nasib masyarakat Pacitan. Entah habis mimpi apa mereka sampai sebagian kaum politisinya berulah tidak karuan seperti itu. Apakah untuk mencari sensasi? Atau ada hidden agenda yang sedang mereka jalankan? Tak taulah. Yang pasti, pencalonan simbol pornografi menjadi bupati yang terjadi di Pacitan itu jelas merupakan sebuah tindakan yang melukai nurani masyarakat yang masih berhati bersih. Sebuah perbuatan yang kontroversial namun sia-sia.

Ini adalah dagelan kesekian kalinya yang sedang dimainkan badut-badut politik di negara ini. Kali ini lawakan tidak lucu itu sedang digelar oleh politisi-politisi Pacitan. Jika lelucon itu berlangsung di ruang tidurnya para politisi, hal itu tidak jadi masalah. Itu memang kamar pribadi yang menjadi privasi mereka sendiri. Tapi ini lain. Kelakuan yang tidak mengenakkan itu terjadi di ruang publik. Masyarakat dipaksa menonton tingkah polah ganjen dari para wakil rakyat Pacitan yang entah sebenarnya rakyat Pacitan yang mana yang diwakili mereka.

Rakyat Pacitan pasti sakit hati. Saya yang bukan orang Pacitan saja tersinggung dengan ulah komplotan politisi murahan itu. Boleh-boleh saja mengusung calon dari kalangan artis. Tidak ada larangan dan tidak ada yang melarang. Tetapi mengapa pilihannya jatuh pada penjual pepaya gantung? Sudah tidak adakah pilihan calon yang menenteramkan, tidak menyakiti hati, tidak menimbulkan jengah, santun, dan (terlihat) kompeten? Pasti masih banyak. Tidak sedikit kok selebriti yang mumpuni. Dan saya sangat setuju bila kalangan selebriti tidak boleh diremehkan. Namun jangan disalahkan juga bila masyarakat meng-underestimate artis bila artisnya sendiri tidak bisa membuktikan untuk tidak diremehkan.

Hak untuk berpolitik memang hak seluruh warga negara. Begitu juga dengan hak menduduki sebuah jabatan di pemerintahan. Namun kadang-kadang kita ini lupa dengan nilai lain seperti norma moral ketika hak itu digunakan. Tidak ada masalah artis siapapun jadi bupati. Yang jadi tandatanya kemudian adalah akan seperti apa jadinya Pacitan dan rakyatnya bila pemimpinnya … aahhh saya bingung harus bilang apa. Populer memang, namanya juga artis, pasti banyak yang kenal. Apalagi sering muncul di televisi. Apakah hanya populer itu saja yang diandalkan? Bisakah roda pemerintahan dijalankan hanya dengan popularitas? Terlalu menyederhanakan bila berpikiran seperti itu.

Manusia bisa berubah, sangat mungkin. Lebih baik mantan orang jahat daripada mantan orang baik-baik, bagus. Tetapi apa nggak ketar-ketir hati ini memiliki seorang pemimpin mantan rampok misalnya? Kalau ada pilihan yang lebih baik, kenapa tidak itu saja yang diambil? Dalam hal ini, taking risk bukan hal yang relevan untuk dilakukan. Jelas ada pilihan yang lebih baik. Jika tetap saja niat (saya anggap jahat) para politisi Pacitan itu diteruskan, tidak heran bila ada semakin banyak rakyat yang memiliki keyakinan bahwa politik itu kotor apalagi politisinya. Ini jelas proses pembelajaran berpolitik yang tidak sehat.

Saya tidak menyalahkan si artis. Dia sih senang-senang saja diusulkan sebagai calon bupati. Sudah pasti akan menjadi publikasi gratis baginya. Tidak peduli kasus itu kemudian menjadi kontroversi. Yang penting namanya makin terkenal, dan itulah keuntungan yang akan dia peroleh. Masalah nanti benar-benar tetap maju, meskipun banyak orang meragukan kemampuannya, itu urusan lain. Yang kebangetan ya yang mencalonkan dia itu. Kira-kira apa ya yang ada di dalam otak mereka yang ngeres. Rasa-rasanya, keledai yang terkenal tolol sekalipun tidak akan berbuat sebodoh itu.

Apapun profesinya, termasuk pedagang, boleh saja menjadi calon bupati. Namun jika yang ingin jadi bupati itu pedagang pepaya gantung yang sangat tidak jelas kompetensi dan pengalamannya, hahahahahahaha…. hiks hiks hiks…. bisa kembung perut masyarakat Pacitan.

Sampai di sini sajalah saya menulis. Jika anda termasuk yang simpati dan berempati dengan masyarakat Pacitan, turutlah berdoa mudah-mudahan mereka diselamatkan dari ulah politisi hitam.

Sumber gambar: di sini

7 COMMENTS

Leave a Reply to wongkamfung Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here