iwak manuk, bukan iwak peyek

Semoga Anda, terutama yang orang Jawa atau mengerti bahasa Jawa, tidak berpikiran ngeres ketika membaca judul tulisan ini, Iwak Manuk. Kata ‘manuk’ memang riskan digunakan karena maknanya bersayap atau multi tafsir.

Berikut ini saya salinkan dari KBBI tentang arti kata manuk atau burung, sekadar untuk menunjukkan bahwa saya tidak mengada-ada:

buยทrung n 1 binatang berkaki dua, bersayap dan berbulu, dan biasanya dapat terbang; unggas; 2 sebutan jenis unggas (biasanya yg dapat terbang); 3 cak kemaluan laki-laki;

 

Tuh, tidak salah kan jika saya bilang multi tafsir? Apalagi bila melihat makna yang ketiga, Anda pasti maklum jika saya mengkhawatirkan ke-ngeres-an yang bakal terjadi. Celakanya lagi, makna ganda tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman yang kemudian menjadi pertengkaran. Tetapi untungnya yang sering terjadi adalah manuk atau burung bermakna ganda itu lebih sering dijadikan candaan. Salah satu contoh misalnya yang terjadi pagi ini di rumah mertua. Percakapan tentang manuk bisa dibelokkan ke makna nomor tiga di atas tanpa perlu penjelasan apapun dan semua yang hadir tahu. Percakapan berlangsung di ruang tamu ketika adik istri saya menawarkan lauk untuk sarapan kepada suaminya yang tentara, Amin, yang akan berangkat piket. Sedangkan percakapan yang terjadi adalah antara adik istri (AI), ibu mertua (IM), dan bapak mertua (BM).

 

BM: Amin wis sarapan? (Amin sudah sarapan?)

IM: Durung ana lawuh, ki? Tapi ana iwak manuk mentah kae, lho. (Belum ada lauk, tuh? Tapi ada lauk burung mentah, lho.)

AI: Manuke digoreng, piye? (Burungnya digoreng, gimana?)

BM: Aja! Mesakke Amin. (Jangan! Kasihan Amin.)

 

Semua orang dewasa yang ada di ruang tamu tertawa mendengar percakapan yang baru saja usai. Kami tahu ke mana arah pembicaraan tersebut.

 

Bila tulisan ini saya beri judul Iwak Manuk, yang saya maksudkan dengan manuk adalah manuk yang sebenarnya sebagaimana makna nomor satu dan dua dalam KBBI tersebut di atas. Di Demak, manuk dijadikan lauk atau iwak, dan iwak manuk adalah salah satu kuliner khas Kota Wali tersebut. Setiap mudik lebaran seperti sekarang ini, iwak manuk selalu tersaji di meja makan. Ibu tahu bahwa di Bogor saya pasti tidak pernah makan iwak manuk karena lauk itu tidak ada. Mungkin ada di suatu tempat di Bogor tetapi selama saya tinggal sejak 1993, saya tidak pernah menemukannya. Sekali pun.

 

iwak manuk mentah

Iwak manuk ini asalnya dari burung sawah. Besarnya seukuran merpati atau burung puyuh. Meskipun jenis unggas, yang mengherankan saya adalah aromanya amis seperti ikan saat burung ini masih hidup. Burung ini dijual sudah dalam bentuk matang berwarna kuning hasil direbus dengan kunyit. Nantinya tinggal dibumbui dan dimasak sesuai selera. Harga per ekornya dalam keadaan siap masak tersebut Rp 4000. Sayangnya makanan ini tidak gampang ditemukan di warung dan rumah makan. Saat keliling alun-alun depan Masjid Agung Demak dalam rangka deoporisasi kemarin, saya tidak melihat ada satu pun angkringan yang menjual. Untungnya ibu mempunyai tukang belanja langganan yang siap menyuplai iwak manuk kapan pun diminta, khususnya saat lebaran, ketika anak kesayangannya ini mudik.

 

Sumber gambar: koleksi pribadi

8 COMMENTS

  1. wah..sip.. kapan kapan pesen nang Ibu ya iwak manuke… beberpa kali ke demak ga dapat iwak manuk sapai ke betokan yang jualan juga ga dapat… Bojoku juga penasaran rasane tak critani thok tapi qodarullah nek pas ke demak cari ga pernah dapat…..
    Sukses…selalu dek…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here