katak dalam tempurungXlangkah Lebih Maju, itu bahasanya XL untuk katak yang kenal internet. Dan, percayalah, sebenarnya menjadi katak itu tidak enak. Apalagi katak dalam tempurung. Hanya gelap dan pengap yang ditemui. Tapi lain ceritanya bila si katak sudah kenal yang namanya internet, terang akan datang setelah gelap menghilang.

Imun dari internet saat ini bisa ditamsilkan katak yang mengenal dunianya hanya sebatas luas tempurungnya. Barangkali berlebihan perumpamaan tersebut tetapi hal itu tidak salah juga. Selain mendapat tudingan sebagai manusia ‘jadul’ dan ketinggalan jaman, kenyataannya sangat mungkin kita akan menjadi orang lambat dalam mendapatkan informasi terbaru bila asing dengan internet. Dunia maya ini tentu bukan satu-satunya sumber informasi tetapi siapa yang bisa menandingi kecepatan internet dalam mewartakan? Internet yang bisa diibaratkan buku maya ini tak kan terkalahkan bahkan oleh koleksi ratusan ribu buku yang ada di perpustakaan termodern di dunia sekalipun dalam hal kecepatan dan kelengkapan jenis informasi. Tidak percaya? Coba ketik satu kata kunci di mesin pencari, dalam hitungan detik apa yang anda inginkan tersebut akan tersaji di layar komputer. Bukan hanya ribuan, bahkan bisa jutaan tautan yang diberikan.

Keberadaan internet sebagai sumber informasi bagi siapapun yang berselancar di dalamnya tentunya menarik perhatian siapa saja yang ingin mewartakan apapun bagi penduduk dunia ini, termasuk saya. Peluang emas itu tidak saya sia-siakan. Tahun 1996, ketika ekowisata (ecotour) mulai digembor-gemborkan di Indonesia sebagai alternative model wisata pilihan saya langsung mengambil langkah dengan melibatkan teknologi internet. Seperti yang menjadi slogan XL sekarang, tindakan saya saat itu bisa dibilang Xlangkah Lebih Maju. Bagaimana tidak? Ketika internet bisa diandalkan, saya tidak perlu bergantung pada program pemerintah lagi. Dengan sebuah situs di internet (http://bogorfreeguide.tripod.com), saya mempromosikan keindahan desa tempat tinggal saya sebagai obyek ekowisata ke seluruh penduduk dunia. Dengan adanya internet pula, saya tidak harus menjadi anggota asosiasi pemandu wisata. Saya menjalankan profesi pemandu wisata independen. Internet memungkinkan hal tersebut. Selain itu, saya tidak perlu berebut turis asing yang baru turun dari KRL di stasiun Bogor dengan pemandu wisata lainnya. Saya menyambut mereka yang akan datang ke Bogor melalui situs wisata saya di internet. Bila ingin berinteraksi, mereka bisa langsung menghubungi saya melalui surat elektronik atau email. Jika sudah tercapai kesepakatan, barulah secara fisik saya akan menjemput mereka di tempat yang mereka inginkan, bisa di bandara Soekarno-Hatta atau bahkan di stasiun Bogor. Praktis dan hemat biaya.

Internet menjadikan saya selangkah lebih maju juga terjadi ketika saya menjalani profesi saya sebagai pengajar. Ketika teman-teman pengajar satu kantor masih menggunakan buku, OHP, dan papan tulis beserta alat tulisnya sebagai media belajar, saya telah memanfaatkan internet. Segala fasilitas yang tersedia di internet saya gunakan semaksimal mungkin. Blog yang sering disebut juga buku harian maya saya manfaatkan untuk mengajar. Facebook tidak lagi sekadar sebagai media untuk narsis tetapi saya pergunakan pula untuk mentransfer pengetahuan. Media sosial ini memiliki banyak fasilitas yang bisa dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Fasilitas membuat grup yang ditawarkan Facebook saya manfaatkan untuk berinteraksi dengan anak didik. Untuk penyerahan tugas atau pekerjaan rumah, saya menggunakan inbox atau kotak surat.

Selain Facebook, jejaring sosial yang banyak diminati pengguna internet adalah Twitter. Saya juga tidak mau ketinggalan. Akun saya di Twitter saya manfaatkan seoptimal mungkin. Selain sebagai media silaturahim dengan sahabat, Twitter saya pakai pula untuk berinteraksi dengan anak didik. Jumlah kalimat yang bisa ditulis di media ini memang terbatas tetapi hal itu tidak mengurangi niat saya untuk memanfaatkannya. Dahsyatnya lagi, antara Twitter, Facebook, dan blog, ketiganya bisa diintegrasikan untuk menghasilkan sebuah sinergi. Ini jelas sangat tepat guna dan tepat sasaran. Hanya dengan sekali menulis di Twitter, teman saya di Facebook dan pengunjung blog saya bisa langsung ikut membaca.

katak dalam tempurung

Internet sudah pasti sangat membantu kita dalam segala hal. Sebagai seorang pengajar, misalnya, saya betul-betul pernah terbantu oleh teknologi informasi ini ketika saya harus menjelaskan tentang beagle puppy. Dengan mengetikkan kata itu di Google, dalam sekejap mesin pencari itu menyuguhkan ratusan ribu tautan informasi perihal beagle puppy, baik tulisan maupun gambar. Tersedianya data itu menolong saya menerangkan dengan gamblang dan tanpa salah bentuk beagle puppy itu seperti apa karena dilengkapi dengan foto.

Rasanya aneh bila di jaman teknologi informasi yang berkembang pesat ini, kita masih gagap dengan internet. Perihal tudingan internet bisa mencelakakan, itu ibarat menyalahkan pisau yang mengiris jari kita. Baik buruknya internet bukan karena siapa-siapa melainkan kita sendirilah penentunya. Jika kita ingin lebih maju, tak perlu takut dengan keberadaan internet. Jangan sampai kita menjadi katak dalam tempurung karena ketakutan yang tidak beralasan terhadap internet. Karena pada dasarnya, internet mampu membebaskan katak dalam tempurung. Sebagaimana yang dikampanyekan XL, dengan internet, kita bisa Xlangkah Lebih Maju.

Sumber gambar: katak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here