sastra inggris 85 undip semarang

Dua hari yang lalu tidak disangka ada email dari teman lama di mailbox. Rupanya mantan teman-teman kuliah di Undip lagi rame beremail-emailan. Begitu lihat nama-nama yang ada teringat nama panggilan mereka ketika kuliah dulu: Mpik, Babah, Hok, Kuncoro, Iwuk, Kenik, Sisil, Sari. Rasanya seperti melewati time tunnel atau lorong waktunya Deddy Mizwar. Kenangan terlempar kisaran dua puluh tahun yang lalu.

Kampus berujud bangsal rumah sakit karena memanjang dan berkesan kuno, ada juga yang bilang mirip SD inpres, menjadi saksi terjalinnya persahabatan. Dimulai dari anak-anak desa yang berniat melanjutkan kuliah, datang berkumpul di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang. Saat itu tahun 1985. Dengan didasari kepentingan yang sama, merasa senasib sependeritaan di tempat orang, bersemilah benih pertemanan. Awalnya teman yang kemudian menjadi sahabat. Kebiasaan berkumpul, bertemu, dan main bareng, lebih-lebih yang sering ngumpul di Tawangsari menjadikan hati kami semakin dekat. Bak hati ampela gulung di warung mang Dudung yang lagi linglung.

Setelah mulai ada yang diwisuda tahun 1991, kami menyebar mencari kehidupan masing-masing. Garis hidup yang sudah dibuat oleh Allah mengarahkan langkah kaki kami ke tempat periuk nasi masing-masing. Meski tersebar, tapi saya yakin, hati kami masih terjalin. Kenangan yang pernah dibuat tidak akan hilang ditelan masa. Someday, pasti ada perjumpaan yang sudah diatur Yang Kuasa. Dan itu terbukti dua hari yang lalu di mailbox saya, meski tidak secara fisik.

Sekarang saya mesti berterimakasih dengan teknologi. Internet dan email memungkinkan saya berkomunikasi dengan sahabat-sahabat yang sudah puluhan tahun hilang. Email menjadikan kami bisa saling bercanda, berbagi suka dan suka (nggak ada dukanya), meski jarak memisahkan fisik kami. Kenik di Belgia – Iwuk di Lombok – Kuncoro di Copenhagen – Babah, Dodo, Mpik & istrinya Wiz di Semarang – Sisil di Iowa, US – Hok di Tulungagung – Yulius di Madiun – saya di Bogor – dan gondez-gondez yang lain yang entah di mana tempatnya, bisa saling ngobrol.

Teknologi memang top, tapi lebih top lagi yang bikin pembikin teknologi – Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here