(foto: @rudigints)

Sengaja baru sekarang saya menulis profil musisi jazz Indonesia yang satu ini. Bukan apa-apa. Saya hanya tak ingin menuliskan profil seseorang sementara saya dalam keadaan terbius euforia. Ketika berhadapan dengan seorang pesohor kemudian menulis tentang dia, saya tak yakin hasilnya akan lebih objektif dibandingkan bila bahan tersebut diendapkan dahulu sebelum dituliskan. Hal itulah yang saya lakukan ketika akan membuat tulisan tentang Idang Rasjidi. Setelah berkali-kali bertemu dengannya, sekaranglah saatnya saya mengisahkan seorang Idang Rasjidi yang banyak omong ini. 😉

Saya yakin banyak orang di Indonesia terutama generasi tahun 90-an dan sebelumnya kenal dengan sosok musisi jazz yang satu ini. Kiprahnya dalam perkembangan musik jazz Indonesia sudah tidak dipungkiri lagi besarnya. Dia tidak sendiri tentu saja dalam membangun pondasi jazz di Indonesia. Ada orang-orang besar baik yang seangkatan dengan Idang Rasjidi maupun seniornya yang berjasa besar dalam membesarkan jazz di Indonesia sehingga generasi jazz muda sekarang bisa melenggang dengan tenang tanpa bertemu batu sandungan yang berarti. Oleh karena itu, sangat wajar bila musisi jazz sekarang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada mereka kaum tua pembuka belantara blantika jazz Indonesia yang salah satunya adalah Idang Rasjidi.

Mendengarkan Idang Rasjidi berbicara seperti menikmati dongeng yang kadang mengharu biru, kadang-kadang menyentak menggugah semangat. Ketika kesempatan berbincang dengannya datang untuk kesekian kalinya, saya kembali dibukakan mata saya tentang dunia jazz yang telah dia geluti lebih dari 40 tahun. Kisah-kisah yang keluar dari mulutnya, perjalanannya menyusuri jalur panjang musik jazz begitu menarik. Bagaimana dia berjuang membangun jazz sehingga bisa menjadi seperti sekarang bagaikan sebuah kisah petualangan yang menegangkan. Banyak suka duka yang terjadi di dalamnya. Ketika dia ditanya perihal manis pahitnya berjuang di jalur jazz, dengan bangga dia katakan manis pahitnya perjuangan itu tak lagi dia pedulikan dan rasakan setiap dia ada di depan pianonya. Jemarinya yang menari di atas tuts piano telah meleburkan jiwanya ke dalam musik jazz.

Pertemuan dengannya tadi malam semakin mengokohkan keyakinan saya bahwa Idang Rasjidi memang bukan musisi jazz abal-abal. Banyaknya penghargaan yang dia terima dari dalam dan luar negeri menjadi bukti bahwa dia adalah musisi jazz Indonesia kelas dunia. Penghargaan itu berbicara banyak tentang kualitas bermusiknya. Jika ada pihak yang tidak suka dengannya, saya curiga hal itu karena faktor iri atas kemampuan yang dia miliki. Sirik tanda tak mampu, begitu kata remaja sekarang.

Bob James (wikipedia.org)

Pengalamannya bermusik sudah tidak diragukan lagi. Musisi yang pernah bermain bareng Bob James, dedengkot jazz asal Marshall, Missouri, Amerika Serikat ini sudah menjelajahi festival-festival musik jazz besar di banyak tempat di bumi ini. Sebut saja misalnya North Sea Jazz Festival  (Belanda), Festival jazz di Norwegia, Jakarta International Jazz Festival (JakJazz), Jakarta International Java Jazz Festival (Java Jazz), Jazz Goes to Campus, Ngayogjazz, Surabaya Traffic Jazz Festival, Bogor Jazz Reunion dan lain-lain.

Musisi kelahiran Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung 26 April 1955 ini mahir memainkan banyak instrumen musik. Sebelum Idang Rasjidi dikenal sebagai pianis handal, dia pernah memainkan biola, drum, dan bass. Mulutnya yang suka monyong-monyong saat menirukan bunyi-bunyian itu juga luar biasa bagi saya. Dari situ bisa keluar berbagai bunyi alat musik semacam trompet, trombon, dan perkusi. Kok bisa ya, mulut yang semua orang juga punya dapat dieksploitasi semacam itu. Apakah semua musisi jazz atau penyanyi mampu mengkaryakan mulutnya seperti Idang Rasjidi? Saya yakin hanya beberapa yang bisa sebagus dia.

Tulisan yang saya buat ini bukan tentang perjalanan karir Idang Rasjidi. Jadi, bila anda berharap dengan membaca tulisan ini anda akan menemukan perjalanan panjang bermusiknya, mungkin anda akan kecewa. Saya rasa tak perlu mengisahkan kehebatan dia dalam musik jazz karena bisa dibilang banyak meski tidak semua penduduk negeri ini yang sudah mengetahui. Andapun bisa mengembara di belantara internet untuk mengorek tentang dia. Banyak informasi tentangnya. Ketika tulisan ini saya buat, kata kunci ‘idang rasjidi’ saja sudah menghasilkan 143.000 tautan di mesin pencari Google. Tulisan ini lebih berisi tentang sisi Idang Rasjidi dalam interaksinya di luar panggung hiburan. Idang Rasjidi sebagai manusia biasa yang doyan ngomong.

Shaku Rasjidi (foto: @rudigints)
Shadu Rasjidi (foto: @rudigints)

Memang, saat ini dengan mudah kita dapat membaca perjalanan panjang karir Idang Rasjidi melalui internet. Namun, semua data yang tersaji tersebut tak akan mungkin mampu memberikan sebuah rasa seperti ketika kita berhadapan langsung dan berinteraksi berkali-kali dengan yang bersangkutan. Kesempatan berdekatan secara fisik dan ngobrol dengannya beberapa kali membuat emosi saya semakin dekat dengannya. Hal yang sama juga saya rasakan terhadap orang-orang dekatnya baik anak kandung dia maupun bukan yang tergabung dalam grup jazznya sekarang yang bernama Idang Rasjidi Syndicate, yaitu Shaku Rasjidi (Qadra Shaku Hachi), Shadu Rasjidi (Shadu Shah Chaidar), Ticco Laksana, dan Sastrani Titaranti Dewantara.

Ticco Laksana (foto: @rudigints)

Saya tidak ingat kapan mulai mengenal Idang Rasjidi. Barangkali saat dia muncul pertama kali dengan Abadi Soesman Band di TVRI atau di acara Salam Canda yang pembawa acaranya Ebet Kadarusman, atau dalam acara kuis Berpacu dalam Melodi yang juga pernah ditayangkan TVRI pada tanggal 20 Desember 1988 s/d 31 Januari 1998, setiap Selasa dan Kamis selama 1 s/d 1 ½ jam. Perkenalan saya dengannya tentu saja sebatas penonton televisi dan pelakon yang ada di layar kaca tersebut. Tak ada bayangan sama sekali suatu saat saya akan dipertemukan secara langsung dengan sosok yang saya tonton itu. Terus terang saja, Idang Rasjidi itu bukan idola saya saat saya menonton acara-acara itu. Berpacu dalam Melodi misalnya, saya menonton acara tersebut karena berisi tebak-tebakan tentang lagu dan penyanyinya. Itu yang menarik dan menyenangkan saya. Saya lebih perhatian terhadap Koes Hendratmo sebagai pembawa acaranya dibandingkan grup musik yang mengiringi yang salah satu personilnya adalah Idang Rasjidi. Jadi bisa dikatakan saya tidak tahu siapa itu Idang Rasjidi. Baru ketika bergabung dengan Rumah Kata Bogor yang dibidani Idang Rasjidi, di situlah saya mulai kenal dia. Setidaknya kenal lebih banyak dibandingkan saat dia menjadi bagian dari kuis ciptaan Ani Sumadi itu.

Sastrani Titaranti Dewantara (foto: @rudigints)

Bergabungnya saya ke Rumah Kata Bogor, sebuah komunitas pecinta sastra yang bermarkas di rumah Idang Rasjidi, mau tidak mau menjadikan saya sering bertemu dan berinteraksi dengannya. Sejak itulah saya mulai tahu siapa Idang Rasjidi dan kiprahnya. Kegemarannya bercanda, pandangannya tentang negeri ini, keberanian dia melawan penguasa, kisah tersembunyi dari dunia jazz, dan hal-hal lain yang sudah tentu tidak terungkap atau dibeberkan di media saya temukan dalam obrolan yang intens dan berkali-kali dengannya. Bisa dibilang, bukan hanya sisi putih dari Idang Rasjidi saja yang sekarang saya ketahui tetapi juga sisi hitam juga abu-abunya.

Idang Rasjidi Syndicate mengiringi Kemala Ayu (foto: @rudigints)

Bila saya memberi judul tulisan ini Idang Rasjidi yang Banyak Omong, memang seperti itulah kenyataannya. Dia banyak bicara tetapi bicara yang ada isinya. Bukan hanya sekadar tong kosong berbunyi nyaring. Bicaranya blak-blakan tetapi dia juga pintar basa-basi. Dia juga pandai bercerita. Sebuah lelucon yang dia ceritakan akan menjadi hidup bila dia yang membawakan karena caranya sangat ekspresif. Saya ingat betul ketika malam-malam di teras rumahnya, dia mengisahkan komandan pasukan yang orang Betawi atau, di malam yang lain, kisah tentang (maaf) Kampung Kontol. Idang Rasjidi memang penghibur sejati. Bukan hanya di atas panggung dia pandai menyenangkan penontonnya, di kehidupan sehari-haripun dia piawai membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya tertawa dan terhibur.

(foto: @wkf2010)

Bang Idang, saya memanggilnya seperti itu, sering membuat saya rindu untuk bertemu dan bercakap dengannya. Bukan merindukan Idang Rasjidi yang musisi jazz legendaris tetapi dia yang manusia biasa. Sisi kehidupan manusia normal yang dimiliki semua pesohor termasuk selebriti sekelas Idang Rasjidi. Saya selalu menunggu waktu bertemu Idang Rasjidi yang banyak omong itu. :mrgreen:
——————————————————-
Informasi tentang perjalanan karir Idang Rasjidi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Idang_Rasjidi

 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here