>Dalam majalah Intisari edisi bulan ini (November), ada artikel tentang penyakit kejiwaan yang lebih sering menghinggapi kaum hawa. Ya, histrionik namanya. Anda yang perempuan, jangan sinis dulu dengan saya. Penyakit ini memang memalukan. Tapi bila kemudian saya menuliskannya di sini, itu bukan salah saya kan?

Saya sempat dituduh yang tidak-tidak ketika mengucapkan kata itu beserta artinya di depan teman-teman kantor yang di ktp mereka disebutkan berjenis kelamin perempuan. Dikiranya saya mendiskreditkan mereka. Saya dituduh mengada-ada dan mengarang-ngarang untuk mencari sensasi. Mereka tidak percaya bahwa penyakit itu memang ada. Bagaimana dengan anda (khususnya anda yang perempuan), nggak percaya juga?

Bisa dimaklumi bila teman sekantor saya yang perempuan bersikap seperti itu. Meskipun faktanya sebagian wanita menunjukkan tanda-tanda mengidap histrionik tetapi mungkin saja mereka tidak menyadari kelainan yang dialaminya. Dengan demikian, mereka protes keras dengan informasi yang diterima. Tengsin juga kan bila cantik-cantik punya kelainan? Apalagi sudah jelek, kelainan lagi! Idih, kejam amat ya ungkapannya.

Saya tidak tahu apakah anda pernah bertemu dengan penderita histrionik. Saya pernah. Meskipun tidak yakin apakah mereka penderita kelainan kepribadian itu tetapi bila melihat ciri-cirinya, tidak salah lagi. Mereka kemungkinan besar adalah mengidap histrionik. Anda yang merasa kenal dan menjadi teman saya, jangan sinis dulu sama saya. Bukan anda yang saya maksudkan. Namun bila anda merasa bahwa saya sedang membicarakan anda, itu kesimpulan anda. Jadi, jangan salahkan saya. Salahkan saja orang-orang yang sedang dibui. Memang di situlah tempat orang-orang yang salah. Lalu seperti apa ciri-ciri dari histrionik?

Penderita histrionik biasanya memiliki ciri-ciri seperti di bawah ini. (Intisari, Nov 2008, halaman 175)

  1. Emosinya naik turun.
  2. Gampang GR (gede rasa).
  3. Merasa dirinya menarik. dandanan dan busananya mencolok, tetapi belum tentu pantas. bukan karena ia tergolong modis, namun semata-mata untuk menarik perhatian.
  4. Keadaan mood-nya dramatik dan labil.
  5. Sering mengeluh sakit, tapi dokter tak menemukan sakit apa pun.
  6. Alur bicaranya tidak runtut, dan kalau ditanya lebih lanjut tak bisa mengurai secara rinci.

Histrionik adalah penyakit kejiwaan yang penderitanya suka caper alias mencari perhatian. Anda yang perempuan kemudian mungkin protes, kan laki-laki pun ada juga yang suka caper? Anda tidak salah. Memang bukan hanya perempuan, laki-laki ada juga yang suka menjadi pusat perhatian. Namun dari hasil survei, yang sering ditemukan menderita kelainan ini adalah perempuan. Terima sajalah fakta yang ada. Atau, jangan-jangan anda sedang mencurigai diri anda sendiri? Anda khawatir jangan-jangan… jangan-jangan… anda seorang pengindap histrionik.

Seorang dengan histrionik-nya ini suka banget diperhatikan. Itu semua demi kepentingan dan kenyamanan diri sendiri. Bukan hanya menarik perhatian dengan berdandan nyeleneh dan mboten-mboten, bila perlu dengan sakit pun akan dia jalani. Dengan demikian, perhatian dari sekelilingnya akan dia terima. Padahal bila dibawa ke dokter dan diperiksa, tidak ada satupun penyakit yang ditemukan.

Pengidap histrionik benar-benar seorang drama queen. Sebegitu hebat permainan peran yang dijalankan penderita histrionik. Sampai-sampai fisiknya pun mendukung kelainan psikis tersebut. Bila dia mengeluh sakit, tubuhnya bisa mengeluarkan keringat dingin, jantung berdebar-debar, atau nafas ngos-ngosan.

Kadang juga ditemukan seorang penderita histrionik sering merasa terancam jiwanya. Oleh karena itu dia akan selalu curiga dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya, lebih-lebih yang dia tidak kenal. Akibatnya dia juga menjadi seorang paranoid.

Kira-kira, histrionik ini penyakit keturunan atau nemu di jalan (maksudnya dalam perjalanan hidup)? Bila dikatakan histrionik itu terjadi karena faktor genetik, ternyata para ahli belum menyepakatinya. Memang pada tahun 1993 Dahl pernah meneliti bahwa ada riwayat keluarga yang pernah mengalami gangguan kepribadian psikosomatis (berkaitan dengan emosi atau mental).

Penderita histrionik tidak membahayakan orang lain. Meskipun demikian, bisa sangat menyebalkan. Oleh karena itu, perlu ditangani dengan benar agar sembuh. Seorang psikolog adalah pihak yang tepat untuk melakukan terapi penyembuhan. Jangan dibawa ke dukun, ya?

Saya rasa bila si penderita sadar bahwa dirinya sedang sakit, dia pasti ingin sembuh. Repotnya, kerap kali mereka ini tidak menyadari bahwa dirinya menderita kelainan. Mereka merasa baik-baik saja dengan perilakunya yang suka mencari perhatian. Baginya, mendapatkan perhatian bukan sebuah kesalahan, apalagi dosa. Jadi, apa salahnya?

Bila setelah membaca tulisan ini kemudian anda bertanya, “Siapa sih anda?” Maka saya akan jawab, “Saya bukan seorang psikolog yang lagi memberikan kuliah. Hanya seorang blogger yang sedang mencoba berbagi tentang hal-hal kecil yang barangkali sedang terjadi di lingkungan anda atau sedang anda hadapi.” Jika anda ingin tahu lebih banyak lagi tentang histrionik, barangkali informasi dari Kompas.com yang saya link ini bisa bermanfaat bagi anda.

SHARE
Previous articleMoving Class
Next articleWisata Sastra

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here