hari ibuSaya tahu Hari Ibu itu diperingati kemarin. Tetapi saya ingin mengucapkan selamatnya hari ini karena bagi saya Hari Ibu itu bukan hanya setiap tanggal 22 Desember. Bagi saya, Hari Ibu itu terjadi setiap hari. Tidak pernah seorang ibu melepaskan fungsinya sebagai seorang ibu meski dalam sehari. Setiap hari si ibu adalah seorang ibu. Untuk itu mengapa memperingatinya hanya setahun sekali?

Tidak ada maksud tidak baik dengan membuat tulisan ini. Jika tidak ada, mengapa saya membuat artikel yang judulnya saja membuat dahi berkerut. Apa ini maksudnya? Begitu kan? Terus terang saya sendiri tidak tahu (atau mungkin lupa) mengapa tanggal 22 Desember yang dipilih untuk memperingati Hari Ibu. Bagi saya nggak masalah, mau tanggal berapa. Toh hanya sekedar acara seremonial. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengerti, menghargai, menghormati peran dan fungsi seorang ibu.

Seorang ibu itu bisa dibilang awal dari kehidupan manusia. Dari dialah manusia ini dilahirkan. Dengan bertaruh nyawa, seorang ibu berjuang melahirkan dan meneruskan kehidupan berikutnya. Perjuangannya yang mempertaruhkan nyawa itu jelas tidak cukup hanya sekedar diperingati, apalagi hanya setahun sekali. Kalaupun diperingati, ibu berhak bukan hanya diperingati setahun sekali, lebih dari itu, setiap detik bila perlu. Begitu pentingnya peran ibu sampai Sang Nabi (Muhammad) menyebut ’ibu’ tiga kali sebelum akhirnya mengatakan ‘bapak’.

Sayangnya, selain ibu yang mulia, ada pula ibu yang tega dengan darah dagingnya. Entah sudah berapa kali saya bertemu dengan berita yang mengabarkan seorang ibu tega membunuh anaknya sendiri, seorang ibu membuang atau meninggalkan bayi mungilnya, seorang ibu menyiksa keturunannya. Dengan berbagai alasan, ibu-ibu berhati monster ini membenarkan perbuatannnya. Ibu yang seperti ini jelas tidak termasuk yang diperingati di Hari Ibu dan tidak berhak mendapat penghormatan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Yang jelas si ibu yang satu ini sudah kehilangan keibuannya. Hatinya sudah bukan lagi hati seorang ibu.

Bagi kaum bapak dan calon bapak, hanya ada tiga hal yang tidak bisa dikerjakan sebagaimana yang dilakukan para ibu, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui (ASI). Anda yang laki-laki memang tidak dapat melakukan hal itu dan hanya bisa menyerahkan sepenuhnya kepada kaum ibu. Apa artinya? Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tidak ada alasan untuk menolak pekerjaan di luar ketiga hal itu karena alasan pekerjaan perempuan. Apa contohnya? Masak, menyapu, cuci baju, dan mencuci piring adalah contoh pekerjaan yang bukan monopoli perempuan. Siapapun bisa mengerjakan. Merupakan argumen yang tidak masuk akal bila pekerjaan-pekerjaan itu dikatakan sebagai pekerjaan perempuan. Pembagian tugas boleh saja dilakukan tetapi kaum pria tetap bisa melakukan tugas itu bila memang diperlukan. Saya mengatakan demikian bukan karena penggiat feminisme. Saya tidak termasuk penganut atau pembela kaum feminis tetapi memang seperti itulah kenyataannya. Hanya ada tiga pekerjaan yang menjadi hak eksklusif kaum ibu.

Karena eksklusifitas pekerjaan kaum ibu yang menyangkut keberlangsungan kehidupan umat manusia itulah maka Hari Ibu wajib diperingati, bahkan bukan hanya setahun sekali. Dengan demikian, peringatan Hari Ibu yang ditetapkan pada 22 Desember tidak ada bedanya bila kemudian dirubah 29 Februari. Namun demikian, acara seremonial itu tidak ada gunanya bila kita durhaka kepada ibu. Begitu juga, tidak ada manfaatnya Hari Ibu diperingati untuk para ibu yang berhati dajjal.

Sumber gambar: koleksi lama hasil googling tapi lupa mencatat url-nya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here