>Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Ini bukan jelangkung lho. Ketika membaca kalimat pertama itu, barangkali yang muncul di kepala anda sosok jelangkung. Memang ungkapan itu menjadi populer setelah mainan mistis berupa ritual memanggil setan itu difilmkan. Tetapi tahukah anda arti sebenarnya dari kata-kata itu yang sejatinya adalah peribahasa bangsa kita? Saya yakin tidak semua orang, termasuk anda mungkin, tahu makna sebenarnya. Ya toh? Tapi nggak usah terlalu dipikirkan. Anda sama dengan saya. Sebelum membuka-buka buku peribahasa yang memang saya miliki, saya juga tidak ngeh jika kalimat itu merupakan sebuah peribahasa dan memiliki arti yang berbeda dengan arti tertulisnya. Kebangeten ya? Sama bahasa sendiri kok nggak tahu. Yah, terserahlah ape lu kate. Memang itu faktanya.

Itulah yang terjadi. Kadang-kadang kita ini bangga dengan milik orang lain. Tidak jarang orang sibuk belajar menguasai bahasanya bangsa lain, sementara bahasa ibunya sendiri masih dangkal. Ya seperti saya inilah. Rasanya kesadaran berbahasa saya belum bisa dibanggakan. Saya yang lahir di negeri ini hanya belajar bahasa sebatas berada di bangku sekolah ditambah dengan lingkungan bermain. Itu belum cukup. Seharusnya apa yang sudah diterima dari guru di sekolah diperdalam lagi dengan membaca referensi-referensi lain. Dengan demikian, apa yang dimiliki bukan biasa-biasa saja tetapi benar-benar berbobot. Kan keren jadinya.

Balik lagi tentang peribahasa di atas, ternyata makna sebenarnya adalah memperlakukan seseorang tidak sebagaimana mestinya. Versi lain dari peribahasa itu yang saya baca di buku kumpulan peribahasa memang sedikit berbeda. Dalam buku itu ditulis, “Datang tidak berjemput, pulang tidak berantar”. Hanya beda di awalan, juga tak dan tidak, maknanya sendiri sama. Kenapa peribahasa itu bisa muncul, sudah pasti berdasarkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Apakah anda pernah mengalami kejadian sebagaimana dimaknakan dalam peribahasa itu?

Sadar atau tidak, mungkin kita pernah memperlakukan orang lain tidak sebagaimana layaknya. Contoh gampang saja, kita tidak menghormati orang yang lebih tua yang selayaknya memang harus kita hormati. Saya tidak menyalahkan yang muda dan membenarkan yang tua. Bisa saja itu terjadi karena ada sebab tertentu yang menjadi si muda tidak gampang menaruh hormat. Terbiasa dilayani, misalnya. Atau, bisa juga karena suatu hal yang ada di pihak yang tua yang menyebabkan dia tidak pantas diberi hormat oleh si muda. Orang tua yang pemabuk contohnya. Namun demikian, sopan santun yang ada di dalam masyarakat mendidik kita untuk menghormati orang tua. Alasan pertama adalah karena dari segi usia mereka memang lebih tua. Kemudian wawasan luas yang berasal dari banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki bisa menjadi sumber belajar bagi yang muda. Setelah itu, perilaku positifnya bisa memberikan keteladanan. Itu ajaran yang kita terima, dan itu bukan berarti mendudukkan yang tua untuk jadi gila hormat.

Yang perlu ditambahkan dari etika itu, barangkali bukan hanya yang muda saja yang menaruh hormat kepada yang tua. Sebagai orang tua, tidak ada buruknya memberi contoh yang baik dengan menghormati juga yang muda. Penghormatan kepada yang muda di sini maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa sudah selayaknya manusia hidup itu saling menghormati. Orang tua yang menghormati anaknya menjadikan perilakunya itu sebagai pelajaran perlunya menghargai kepentingan pihak lain. Contoh dari orang tua mengajarkan untuk tidak mementingkan diri sendiri dan mendidik kepentingan kelompok (masyarakat) supaya lebih diutamakan. Orang tua atau orang muda sama-sama memiliki kepentingan dan masing-masing juga seharusnya saling menghormati.

Saya sendiri tidak ada masalah jika harus menghormati yang lebih muda. Dan saya memang selalu berusaha melakukan hal itu. Tidak ada ruginya buat saya. Nenek moyang saya (bukan ding) bilang nothing to lose lah. Apa ruginya jika menghormati yang lebih muda kemudian menghasilkan hubungan yang harmonis dan silaturahim jadi terpelihara? Tauladan ini diajarkan oleh nabinya orang Islam, Muhammad. Dan kalau anda ingin tahu, ini merupakan perilaku yang, menurut Stephen R Covey dalam 7 Habits-nya, dimiliki orang-orang efektif. Si Kofi ini menaruh habit itu ke dalam urutan yang kelima yang dia sebut dengan “Mengerti baru dimengerti.” Jadi bisa anda simpulkan toh, bagaimana sikap saya terhadap orang yang lebih tua. Sama yang muda saja seperti itu, apalagi sama yang tua. Saya juga punya prinsip lain yang berhubungan dengan tua-muda. Pengen tahu? Ini prinsip saya, “Kalau makan sama yang muda, jika tidur sama yang tua.” Jangan ngeres dulu! Saya bukan penganut dan pendukung poligami, meskipun itu sah. Dan saya juga tidak mau membalik prinsip itu yang barangkali buat anda yang ngeres akan lebih enak menjadi “Kalau makan sama yang tua, jika tidur sama yang muda.” Emang situ mau makan sayur bambu dan tidur di atas rebung?

Perihal hormat-menghormati, ternyata ada lho orang-orang yang gila hormat. Dan menurut saya, inilah contoh orang-orang yang tidak dewasa. Dari segi usia mereka memang tua, tetapi perilaku yang ditunjukkan tidak ada bedanya dengan anak tk yang suka ngambek. Gila hormat bisa juga menjadi cerminan jiwa orang yang egois. Harus keperluannya dulu yang dipentingkan. Sebagai kepala, dia merasa berhak dihormati anak buah. Sebagai orang tua, hanya si anak yang wajib menghormati. Hormat juga bisa menjadikan seseorang arogan. Karena merasa semua orang menghormati, maka jika harus menghormati orang lain, mulutnya atau dalam hatinya akan bilang no way! Kita juga harus hati-hati untuk tidak gila hormat. Bisa jadi gara-gara hormat nanti malah jadi gila beneran. Jika itu yang terjadi maka tidak ada bedanya dengan orang tidak waras yang suka berkeliaran di dekat kampus IPB Darmaga. Kerjaan dia setiap hari jalan kaki menyusuri jalan raya ke arah Bogor dan di lain waktu ke arah Leuwiliang. Dengan rambut gimbal Bob Marley-nya yang berkibar, tanpa busana secuilpun sehingga tititnya (maaf) melambai-lambai, sekujur tubuhnya kehitaman penuh daki dan sudah pasti baunya tidak ketulungan, dia berjalan dengan dada tegap mengikuti jalan. Itu dia lakukan setiap hari. Jika suatu saat dia melakukan perbuatan dengan menaruh tangannya di depan jidat seolah-olah sedang menghormat dalam upacara bendera, dia lah yang benar-benar disebut gila hormat sejati. Betul-betul orang gila yang sedang menghormat. Kira-kira mau nggak anda disamakan dengan si Bob Marley ini?

Selamat deh kalau begitu. Selamat jika anda tidak gila hormat. Selamat juga kalau anda sama dengan si gila hormat nudis dari kampus IPB, mudah-mudahan pintu hati anda segera dibukakan.

SHARE
Previous articlePertemanan
Next articleKortek

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here