gangnam style - gadis koreaKisah rekaan ini merupakan tulisan ketiga dalam Grup 02 #RantaiCerita #DeklarasiKK yang beranggotakan lima blogger: @zackySCHF, @Sansanmwawaa, @wkf2010, @rrizkie, @aguzzasimido. Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini. Untuk informasi selengkapnya silakan dibaca dalam tulisan berjudul Rantai Cerita #DeklarasiKK.

—————————————————————

“Selamat pagi. Maaf, mau tanya.”

Tiga lelaki seusiaku itu serentak membalikkan badan. Ketiganya menatapku dengan mulut menganga. Bukan sekali ini kejadian itu kualami meski yang pertama untuk hari ini. Kembali lelaki yang saya tanya tidak menjawab, hanya mematung seperti terhipnotis. Ketiga-tiganya.

“Eh, apa, Mbak?” Yang berambut ikal mulai menyadari apa yang tengah berlangsung. Meski sorot matanya tidak senanar tadi, dia masih menatapku. Mukanya kemerahan, mungkin karena malu akan sikapnya terhadapku. Pertanyaannya membuat kedua temannya juga tersadar.

“Aku mau tanya di mana ruangan Pak Mario.” Saya coba tersenyum dan berusaha tidak memperlihatkan bahwa aku tahu sikap mereka terhadapku tadi.

“Oh, ya. Aku Gangnam.” Aku memperkenalkan diri.

“Gangnam Style?” Si rambut ikal langsung menyambar dengan mata terbelalak. Nampak sekali dia terkejut mendengar nama saya.

“Hehehe… bukan, Mas. Teman-teman yang kadang memanggil saya dengan nama itu. Nama lengkap saya Gangnamiyah Sutilah. Biasa dipanggil Gangnam. Boleh tahu nama mas-mas ini?”

“Aku Zak.” Si rambut ikal menyebut namanya.

“Fahrul.”

“Rizky.”

Kedua teman Zak kemudian satu-satu menyebutkan nama masing-masing.

“Tadi tanya di mana ruangan Pak Mario? Mbak Gangnam naik saja ke tangga yang ada di ujung gang itu. Ruang beliau berada di lantai dua menghadap tangga itu.” Rizky mencoba membantu.

“Terima kasih, Mas.” Aku langsung menuju tangga yang ditunjuk. Sekilas terdengar gumam percakapan di antara tiga lelaki muda di belakangku. Entah siapa yang berucap apa tetapi obrolan mereka jelas tertangkap kedua telingaku.

Beuh, cantik benar makhluk satu itu.”

“Jangan-jangan dia jurig.”

“Ngaco, lu! Coba lihat kakinya.”

“Lebih keren lagi, panggilannya Gangnam.”

Aku hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka dan sengaja mengabaikannya. Khawatir mereka jadi salah tingkah bila saya membalikkan badan. Lagian, kejadian seperti itu juga bukan sekali ini. Hampir bisa dipastikan, mahluk tuhan berkelamin laki-laki, entah itu remaja, dewasa, bahkan orang tua, selalu salah tingkah bila menghadapiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali bersabar dan memaklumi bila bertemu dengan kejadian seperti yang dialami tiga lelaki muda yang mengaku bernama Zak, Fahrul, dan Rizky tadi.

Teman-temanku bilang, aku ini gadis yang luar biasa. Mereka menyebutku mahluk dengan kecantikan sempurna. Aku menganggap mereka berlebihan. Namun bila bertemu dengan lelaki yang salah tingkah karena menghadapi aku seperti yang baru saja terjadi, aku menjadi ragu dan mulai memikirkan ucapan mereka. Sampai sehebat itukah pengaruhku? Kadang-kadang aku juga ketakutan jika karunia tuhan ini justru menjadi petaka bagiku. Satu lagi yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepadaku adalah kecerdasan. Sejak sekolah dasar hingga lulus SMA aku selalu menjadi juara kelas. Karena kecerdasan pula, aku selalu dapat beasiswa. Ini yang menggembirakan hatiku karena dengan demikian bapak yang hanya buruh tani tidak terbebani  biaya sekolahku. Juga, atas prestasiku ini, setelah lulus pihak sekolah kemudian mengirimku ke sebuah perusahaan di Pasar Rebo, Jakarta Timur, untuk bertemu Pak Mario yang merupakan teman Bu Dedeh kepala sekolah SMA-ku. Katanya perusahaan ini telah menawarkan beasiswa untuk pendidikan S1-ku di Universitas Indonesia dengan syarat aku mau bekerja bagi perusahaan itu baik saat masih kuliah maupun setelah wisuda. Bapak dan ibu langsung setuju ketika tawaran itu aku sampaikan ke mereka.

Aku berjalan menuju tangga yang tadi ditunjuk Rizky. Satu-satu anak tangga itu aku lewati. Sampai di puncak tangga, di depanku ada sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Di pintu itu ada dua baris tulisan. Tulisan di baris pertama berhuruf lebih besar terbaca MARIO DAMANIK, M.M. Di bawahnya tertulis jabatannya: Direktur Utama. Aku perlahan mendekati pintu. Sambil mengetuk kuucapkan salam, “Permisi, selamat pagi.” Pintu itu kuketuk lagi setelah beberapa saat kemudian tidak ada jawaban. Aku menunggu. Hanya kesunyian yang aku dapat dari dalam ruang Pak Mario. “Hmm.. mungkin Pak Mario sedang sibuk.” Begitu gumamku dalam hati. Untuk ketiga kalinya pintu itu aku ketuk. Jika tidak ada jawaban lagi, aku berniat melongok ke dalam melalui celah pintu yang sedikit terbuka itu. Pak Mario sedang sibuk nampaknya. Dari celah pintu, kulihat dia duduk di kursi kerjanya. Posisi tubuhnya menghadap tempat di mana aku berdiri. Kepalanya menunduk seperti melihat sesuatu di pangkuannya.

“Pak Mario? Selamat pagi, Pak.” Meski perlahan aku ucapkan tapi aku yakin dia pasti mendengar sapaanku.

Yang disapa diam. Tak ada gerakan atau reaksi apa pun. Rupanya Pak Mario sedang konsentrasi penuh melihat atau membaca yang ada di pangkuannya. Aku sendiri tidak bisa melihat apa yang ada di atas pangkuan dia karena terhalang meja.

“Selamat pagi.” Kembali aku menyapa. Kali ini nada suara aku tinggikan.

Pak Mario tetap bergeming. Tiga kali aku menyapa bahkan yang ketiga dengan suara cukup keras, dia tetap diam. Sebegitu tinggikah konsentrasinya membaca atau melihat, entahlah, apa yang ada di hadapannya? Jangan-jangan? Ah, aku tak mau berspekulasi atau berprasangka buruk. Haruskah aku masuk begitu saja? Aku bingung.

Bersambung ke blog @rrizkie

Sumber gambar: hasil gugling

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here