Awalnya saya membeli buku ini karena harganya yang diobral. Diskon sampai hampir 80% menjadikan tangan saya enteng untuk merogoh kantong. Buku pertama berjudul Gadis Tangsi dan yang kedua dengan judul Kerajaan Raminem merupakan dua buku dari trilogi yang ditulis Suparto Brata. Saya terlenakan oleh trilogi ini. Kok bisa?

Gambar sampul yang memberi kesan kuno menarik minat saya, ketika saya jalan-jalan di tempat obral buku yang sering digelar di depan toko buku Gramedia di Mal Ekalokasari Bogor. Sampul itu mengingatkan saya pada tetralogi Bumi Manusia milik Pram. Saya ingin tahu lebih lanjut tentang isinya, apakah juga sejenis dengan tetraloginya Pram. Oleh karena itu, saya beli dua buku tersebut. Sayangnya buku ketiganya tidak saya temukan di tempat obral itu.

Saya sempat buka-buka buku pertama yang berjudul Gadis Tangsi sebelum benar-benar membacanya. Di buku itu alur ceritanya merambat pelan. Teyi yang menjadi tokoh utama digambarkan sebagai gadis kecil anak seorang prajurit di sebuah tangsi. Karena dendam ibunya terhadap istri dari kakak suami menyebabkan Teyi harus keliling tangsi berdagang pisang goreng setiap hari. Teyi menyiapkan dagangannya sejak adzan subuh bersama ibunya. Setelah hari menjadi terang, pisang goreng itu baru dijual dengan menyusuri gang-gang di dalam tangsi. Semua itu dilakukan demi ambisi ibunya dalam mengumpulkan kekayaan.

Kisah yang awalnya biasa-biasa saja dalam Gadis Tangsi lama-kelamaan menjadi menarik. Rupanya memang harus sabar dalam membaca novel ini. Konflik yang dibangun berjalan dengan pelan. Suparto Brata tidak buru-buru dalam membangun konflik. Dia dengan teliti menggambarkan tokoh-tokoh yang ada dan memunculkan satu per satu. Pelan tapi pasti. Namun percayalah, buku ini menarik. Suparto Brata sebagai penulisnya menjadi jaminan. Dia bukan penulis kacangan. Dia merupakan penulis yang pernah mendapat penghargaan dari Yayasan Rancage. Sebuah yayasan pemberi penghargaan setiap tahun kepada sastrawan yang digagas oleh Ajip Rosyidi.

Novel Gadis Tangsi ini sempat saya abaikan. Bahkan buku ini pernah saya taruh di kamar mandi sebagai teman ‘nongkrong’. Itu artinya, memang saya baca setiap pagi karena saat itulah saya biasa nongkrong, namun hanya pada saat itu saja. Begitu selesai nongkrong, buku itu akan masuk keranjang buku yang sengaja saya sediakan di kamar mandi. Baru besoknya buku itu saya baca lagi.

Ternyata setelah dapat hampir setengahnya, ceritanya mulai menarik. Buku itu saya tarik dari keranjang kamar mandi. Saya kebut membacanya agar segera mengetahui akhirnya.

Gadis Tangsi berakhir dengan happy ending. Itu merupakan akhir yang saya senangi bila membaca buku cerita apapun, dan saya kira banyak pembaca yang juga senang dengan akhir seperti itu. Bukankah begitu? Kerja keras Teyi dan ibunya membuahkan hasil. Kekayaan yang didambakan akhirnya terkumpul. Namun anda jangan berharap bisa menjumpai ibunya Teyi melampiaskan dendamnya di buku pertama ini. Keingintahuan anda tentang dendam kesumat itu baru akan dituangkan oleh Suparto Brata di buku kedua.

Judul buku kedua, Kerajaan Raminem, didasarkan pada dendam seorang perempuan bernama Raminem, ibu Teyi. Di buku pertama Raminem akan membalas dendam dengan menguasai sawah-sawah nomor satu yang ada di desa asalnya. Dia ingin membangun kerajaan Raminem dari kekayaan yang dia kumpulkan selama tinggal di tangsi. Dengan menjadi kaya, dia tidak akan dilecehkan lagi oleh iparnya.

Novel Kerajaan Raminem berlatar belakang penjajahan Jepang yang menggantikan kekuasaan Belanda. Tangsi di mana Teyi dan keluarganya tinggal awalnya di bawah kekuasaan Belanda. Ketika Jepang datang, seluruh penghuni tangsi yang masih tinggal hanya kaum perempuan dan anak-anak. Sedangkan suami dan bapak mereka telah dikirim ke medan perang. Mereka harus keluar dari tangsi untuk mengungsi. Perjalanan para pengungsi ini diceritakan dengan menarik. Begitu juga dengan perlakuan tentara Jepang terhadap para perempuan pengungsi ini.

Mahligai di Ufuk Timur merupakan buku terakhir dari trilogi Gadis Tangsi. Saya menemukan buku ini secara tidak sengaja. Saat jalan ke toko buku, saya lihat buku ini terpajang di rak yang saya hadapi. Langsung saja saya ambil dan saya lihat harganya. Alamak… harganya lima kali lipat dari dua buku sebelumnya. Entah oleh pihak penerbitnya buku itu sengaja dikeluarkan terakhir sehingga orang seperti saya yang sudah memiliki buku pertama dan keduanya mau nggak mau terpaksa harus beli, atau memang mereka tidak memiliki maksud apa-apa. Saya dalam keadaan dipaksa membeli meskipun harganya yang lima kali lipat demi melengkapi trilogi Gadis Tangsi yang kurang satu itu. Kali ini dengan berat hati tetapi tidak bisa menolak, tangan saya merogoh begitu dalam kantong celana saya.

Di buku ketiga ini, Teyi sudah menjadi perempuan dewasa sepenuhnya. Dialah yang menjalankan kehidupan keluarganya semenjak ayanya meninggal. Kisah meninggalnya suami Raminem ini dikisahkan di buku pertama. Dalam Mahligai di Ufuk Timur, Teyi berjuang untuk dapat membangun rumah tangga dengan pria yang menjadi idamannya. Siapa dia, anda akan mengutuk saya bila saya katakan di sini.

Yang menarik sekaligus membuat geregetan adalah adanya sepasang tokoh antagonis yang merupakan bapak anak. Tokoh Manguntaruh dan Dasiyun yang menjadi anaknya seperti duri dalam daging. Dua tokoh ini sudah muncul sejak di buku pertama. Dengan adanya bapak anak ini, cerita jadi menarik. Ibarat makan sayur anda akan ketemu dengan cabe yang ada kalanya mengganggu namun bila dihilangkan akan mengurangi kenikmatan.

Membaca buku-buku dari trilogi Gadis Tangsi membuat saya seperti mendaki gunung. Ada klimaks yang menjadi puncaknya. Namun dalam perjalanan menuju puncak itu, ada kejutan-kejutan yang menjadikan saya terus bersemangat. Anda boleh mencobanya jika tidak percaya dengan saya. Mencoba membaca trilogi Gadis Tangsi boleh, mencoba mendaki gunung juga silakan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here