founder komunitas serabi jenggot“Belum akan pulang, kan?” Tanya Duloh kepada Hohah.
“Sebentar lagi. Masih pengen nyantai.” Hohah telah menyerahkan dua tiket bus pesanan Duloh. Sepiring ketoprak sudah tandas dilalap. Tinggal piring kosong tergeletak di atas meja. Hohah menyebut ketoprak yang sekarang berada di dalam perutnya ketoprak setan karena saking pedasnya. Bibirnya kemerahan sisa serangan panas dari cabai jablai dalam bumbu ketoprak.

Wekape masih berada di tempat warung Duloh. Tadi dia balik ke kios korannya sebentar karena ada pembeli datang. Setelah itu Wekape kembali bergabung dengan kedua temannya.

“Pe, founder itu apa, sih?” Duloh bertanya.
“Memang ada apa?” Bukannya menjawab, Wekape malah balik bertanya.
“Tidak ada apa-apa. Cuma tadi aku baca kata itu dalam foto di koran. Di belakang tiga orang yang duduk di sofa, di belakangnya ada tulisan besar: Bincang Sehat Bersama Founder Komunitas Sadar Gizi.”
“Itu artinya bedak bayi. Soalnya tetanggaku, Yu Ngatemi, pernah mengatakan kata founder ke Kang Kondor, waktu suaminya itu mau ke warung. Dia bilang, ‘Nanti kalau ke warung jangan lupa beli bedaknya thole, Kang. Tadi pagi thole sudah tidak bedakan. Kasihan.’ ‘Bedak yang gimana?’ kata suaminya. ‘Itu tuh yang ada tulisannya bebi ponder.’ Gitu kata Yu Ngatemi.” Wekape menjawab penuh keyakinan.
“Hlah, masak artinya bedak bayi? Jadi yang di koran itu artinya ngobrol sehat bareng bedak bayi komunitas sadar gizi, gitu? Gak mungkin, ah. Aneh banget artinya.” Duloh protes atas penjelasan Wekape.
“Terus apa, dong?” Wekape balik bertanya.
“Aku pernah lihat di bio profilnya seorang laki-laki yang tampangnya sudah bapak-bapak di Twitter. Di situ dia tulis founder Komunitas A. Mungkin arti founder itu bapak.”
“Tapi aku juga baca tulisan founder di bio seorang perempuan. Masak perempuan, bapak?” Wekape ganti memprotes.
“Bisa jadi dia sebenarnya laki-laki.” Duloh bersikukuh.

Hohah yang diam dari tadi hanya senyum-senyum. Dia sengaja mendiamkan kedua temannya memperdebatkan arti founder. Hohah asyik mendengarkan. Tak ada niat menyela obrolan itu meskipun dia tahu makna kata itu, Dia merasa belum waktunya turun tangan.

“Coba tanya Hohah.” Wekape mengusulkan.
“Kamu tahu artinya, Hah?” Tanya Duloh.
“Kamu berdua tuh memang kemlinthi. Sok tahu. Tukang ketoprak debat sama tukang koran ya begini hasilnya. Debat kusir. Hancur.”
“Woh! Kamu juga kemlinthi. Kuli saja berani mencela kami yang pengusaha.” Duloh tak terima dibilang debat kusir.
“Ya, pengusaha kere.”
“Sudah, sudah. Sebenarnya kamu tahu ndak sih, Hah?” Wekape menengahi.
“Founder itu artinya pendiri. Jadi yang kalian lihat di bio Twitter seseorang atau di koran yang Duloh baca artinya ya itu.” Hohah menjelaskan.
“Berarti aku bisa disebut founder Komunitas Serabi Jenggot, dong?” Tanya Duloh.
“Jelas.”
“Berarti aku bisa tulis di bio Twitter-ku, founder Komunitas Serabi Jenggot.”
“Ya. Memang kamu sendiri yang mendirikan komunitas ini?”
“Berlima, termasuk aku dan Wekape.”
“Kalau kamu tulis seperti itu, yang empat lainnya gimana? Kan kesannya kamu sendiri yang mendirikan komunitas itu?”
“Hlah, kan memang aku yang mendirikan? Memang masalah?”
“Betul. Kamu yang mendirikan. Ini bukan masalah atau tak masalah. Tapi lebih ke persoalan etis nggak etis. Menurutku, meskipun kamu salah satu pendirinya, kesannya kamu mengangkangi atau memonopoli komunitas itu ketika di bio kamu tulis founder atau pendiri komunitas A atau B. Lebih etis jika ditulis salah satu pendiri, atau salah satu dari lima pendiri, misalnya.”
“Ah, kepanjangan.” Duloh beralasan.
“Ya, itu risiko. Tapi itu lebih etis dan lebih menghargai founder lainnya. Bisa saja yang lain tak mau menulis atau menyebut dirinya founder karena merasa bukan dia sendiri yang mendirikan. Itu terserah kamu. Aku kan orang luar. Jadi kalau aku melihatnya seperti itu.”
“Bagaimana kalau minta ijin dulu sebelum menuliskannya?” Duloh tampaknya masih berhasrat menuliskan kata founder dalam bio Twitter.
“Baguslah kalau begitu. Tapi buat apa?”
“Itu kan kebanggaan, Hah. Sebuah prestasi yang patut dicatat. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang akan mengakui bila kita ini founder? Jika kitanya sendiri saja tak mau mendeklarasikan, bagaimana orang akan tahu? Katanya, itu yang disebut strategi personal branding.” Kebiasaan Duloh melahap semua bacaan di kios Wekape mulai memperlihatkan hasil. Di dalam kalimat-kalimat yang dia lontarkan, terselip kata-kata yang tak lazim keluar dari mulut seorang pedagang ketoprak. Lebih cocok perkataan itu diucapkan seorang akademisi. Mereka yang lulusan pendidikan tinggi. Bukan jebolan SMP macam Duloh.
“Lagian, masak harus minta ijin ke semua jika, misalnya, pendirinya berjumlah seratus?” Duloh melanjutkan, dengan pengandaian yang berlebihan.
“Bagaimana jika misalnya yang dimintai ijin hanya satu karena merasa paling dekat dan sering ketemu, sementara kamu salah satu dari sembilan puluh delapan founder lain yang tidak dimintai ijin? Gimana perasaanmu? Sakit hati, tidak?”
“Ya tidak apa-apa. Silakan. Aku tidak sakit hati. Aku legowo.”
“Itu kamu. Apakah kamu yakin yang lain juga akan bersikap legowo sepertimu? Berempatilah. Tidak semua orang sama seperti kamu, Loh. Bisa jadi yang kelihatan legowo, ikhlas, sebenarnya tidak legowo dan tidak ikhlas. Mungkin karena tidak enak hati, atau tidak berani, mereka lebih memilih diam. Sikap seperti ini tidak bagus juga tapi kenyataannya ada yang seperti itu. Bisa saja, misalnya, Wekape yang termasuk salah satu dari lima founder Komunitas Serabi Jenggot ini membiarkanmu menulis kata founder di bio Twitter atau di acara-acara lain, sebenarnya tidak sepenuh hati menerima perbuatanmu itu. Karena tidak enak saja sama kamu, dia lebih memilih tutup mulut.”
“Aku ikhlas kok kalau Duloh mau menulis founder Komunitas Serabi Jenggot di bio Twitter,” kata Wekape, “tapi, sekadar ingin tahu, buat apa sih, Loh?”
“Seperti yang kubilang, buat personal branding. Terutama untuk keperluan di acara #NgopiKere nanti. Biar kita ini dianggap oleh peserta lain. Meskipun sampai saat ini follower-ku baru ada tiga puluh tiga, setidaknya aku seorang founder.”
“Duh, Loh, Loh. Jauh amat berpikirmu. #NgopiKere itu apa? Kan hanya acara minum kopi sambil ngobrol dan main gaple? Ndak beda dengan acara lek-lekan kawinan atau sunatan. Lagi pula slogan acara itu Berbeda Tetap Setara. Itu artinya tidak ada tingkatan atau kasta bagi yang datang. Semua dianggap dan diperlakukan sama. Jika dianggap juragan, ya juragan semua. Bila dibilang babu, semua babu. Lupakan saja niat personal branding-mu itu. #NgopiKere tak butuh itu. Yang penting, siapkan saja perutmu untuk menampung kopi dari beragam daerah, colok matamu biar melek terus selama tiga hari tiga malam.”
“Sini, matamu yang aku colok.” Duloh meraih lengan Wekape yang bergegas menghindar.

Duloh akhirnya memutuskan tidak menulis kata founder di dalam bio Twitter. Apa yang disampaikan kedua temannya bisa dia pahami. Acara yang akan diadakan di Gunung Kelir dari tanggal sepuluh sampai duabelas Mei itu memang bukan ajang pamer gengsi. Tak ada yang perlu dipamerkan untuk acara kere semacam itu. Bagaimana tidak disebut kere jika pesertanya harus bayar ongkos transpor sendiri untuk bisa sampai di tempat itu? Duloh sudah mantap hatinya sekarang. Dia akan datang ke #NgopiKere tanpa membawa embel apa-apa. Duloh tak peduli dirinya akan dikenal sebagai seorang founder atau tidak. Itu tak penting lagi untuknya.

Obrolan dengan dua temannya itu makin membuka nalar Duloh. Setelah dia pikir-pikir, pada dasarnya semua orang adalah founder. Seorang pendiri dalam bidang tertentu, entah yang didirikan itu dikenal khalayak atau tidak. Besar atau kecil, komunitas atau apa pun bentuknya, pasti akan membuat bangga pendirinya, founder-nya. Jika demikian, buat apa bersombong diri pada orang lain yang sebenarnya juga seorang founder? Bukan hanya di depan founder lain, takabur di depan siapa pun, tak pantas dilakukan oleh siapa saja. Biarlah orang lain membusungkan dada karena menjadi seorang founder. Bagi Duloh, bertemu kawan baru lebih penting dan bernilai dibandingkan bila dirinya dikenal sebagai founder Komunitas Serabi Jenggot yang hadir di #NgopiKere.

Sumber gambar: di sini

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here