Betul juga kata Menteri Pendidikan Nasional bahwa UAN itu bagaikan lab. Hasilnya seperti apapun bukan masalah. Misalnya setelah periksa darah kok hasilnya memperlihatkan hb darah yang rendah, biarin saja. Jadi, jika hasil UAN menunjukkan 100% gagal, itu hal yang wajar. Namun bila anak menteri itu yang tidak lulus UAN kemudian bunuh diri, barangkali akan lain ceritanya.

Ujian Akhir Nasional atau UAN yang diselenggarakan belum lama ini kembali menjadi hal yang kontroversial. Munculnya berbagai kasus siswa yang nekat mengakhiri hidup atau ramai-ramai menghancurkan sekolahnya sendiri akibat tidak lulus UAN dianggap angin lalu oleh pemerintah. Standar pendidikan yang menjadi fokus pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menjadikan pemerintah seperti kuda yang dipakaikan kacamata. Faktor psikologis siswa yang justru lebih penting dibandingkan sekedar nilai akademis tidak terlihat atau lebih tepatnya tidak digubris oleh pemerintah. Apakah perolehan nilai akademis yang tinggi dapat menjadi indikator meningkatnya mutu pendidikan? Saya rasa itu pikiran yang naif mengingat banyaknya kecurangan untuk mendongkrak nilai yang dilaporkan. Tidak seharusnya ambisi pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dengan mengorbankan anak bangsa. Seorang siswa itu merupakan mahluk hidup  yang tidak hanya sekedar mesin yang dapat di-upgrade begitu saja layaknya komputer. Hanya dengan menaikkan spesifikasi CPU yang lebih tinggi otomatis kemampuan akan meningkat. Peningkatan kualitas siswa seharusnya memperhitungkan juga sisi psikologis siswa.

Sudah sering dipaparkan di media tentang kualitas pendidikan yang tidak seragam antara satu daerah dengan yang lain. Bisa anda bayangkan alangkah akan tersengal-sengalnya siswa dari pedalaman Kalimantan bila dilawankan dengan pelajar dari Jakarta. Beberapa laporan dari dosen Universitas Pakuan Bogor menyebutkan betapa lemahnya mahasiswa-mahasiswa asal Papua yang dikirim pemerintah daerahnya untuk studi di perguruan tinggi itu. Anda pasti yakin bahwa mereka yang dikirim belajar itu tentunya bukan lulusan-lulusan SMA yang biasa-biasa saja. Namun pada kenyataannya mereka ketinggalan jauh dibandingkan mahasiswa lain yang berasal dari Bogor dan sekitarnya. Contoh satu kasus yang ditemukan di lapangan itu cukup dapat menjadi bukti perbedaan kualitas pendidikan yang ada di daerah dan di pusat.

Sikap keukeuh pemerintah melaksanakan UAN menyebabkan munculnya banyak tanda tanya. Dugaan terkuat adalah yang berkaitan dengan sangat besarnya nilai rupiah dalam pelaksanaan UAN yang akan dinikmati panitia pelaksana. Anggaran UAN 2010 sebesar hampir 573 miliar bukanlah kecil. Yang diterima petugas pemantau ujian saja lumayan besar, apalagi pada tingkat yang lebih tinggi. Sehingga dianggap tidak aneh bila meskipun pihak pemerintah dulu pernah dilarang Mahkamah Agung menyelenggarakan Ujian Nasional, sebagai pemegang kekuasaan bidang pendidikan melalui Departemen Pendidikan Nasional mereka tetap menyelenggarakan.

Dugaan uang besar di balik pelaksanaan UAN tentu saja perlu pengusutan serta pembuktian dan itu tidak gampang. Pasti akan terjadi keruwetan dan jurus patgulipat akan dimainkan bila ada yang berusaha membongkar ’skandal’ UAN. Dan anda bisa menebak siapa yang kemungkinan besar akan menang. Setiap muncul masalah termasuk di bidang pendidikan, selalu bermuara pada UUD, ujung-ujungnya duit. Apakah manusia Indonesia ini sebagian besar mata duitan?

UAN memang bukan berita baru sekarang. Namun, proyek pemerintah yang dinilai cacat hukum itu akan terus akan menjadi berita baru yang memprihatinkan setiap tahunnya karena selalu menghasilkan cerita-cerita menyedihkan tentang anak didik kita. Mudah-mudahan di negeri ini akan muncul pemerintahan yang mau mendengarkan dan memahami ratapan rakyatnya.

Sumber gambar: di sini

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here