Modal utama berbisnis adalah kejujuran. Dan itu aset pertama dan terutama. Uang, gedung, sarana prasarana fisik lainnya adalah pelengkap. Keberanian mengambil resiko, ulet, tahan banting, berani malu, kalau perlu berani mati, adalah pelengkap lain yang intangible alias tidak berujud. Jadi bila diurutkan, modal yang berada di urutan nomor satu adalah kejujuran. Jujur itulah intisari dari etika bisnis. Sayangnya, banyak bukti yang menunjukkan sebagian pengusaha kita tidak memiliki modal penting itu.

Saya tidak tahu apakah para pengusaha curang itu tidak mengerti atau tidak peduli dengan etika bisnis. Tapi rasa-rasanya kok tidak mungkin tidak tahu kalau mencampur bensin dengan solar itu perbuatan curang, membuat penampilan makanan menjadi menarik dengan menggunakan pewarna tekstil itu membahayakan kesehatan, dan banyak perilaku curang lainnya. Yang sangat mungkin adalah, mereka semata-mata hanya mencari keuntungan. Perihal bagaimana cara mencarinya, itu tidak penting. Repot juga jika ketemu dengan orang-orang curang seperti ini.

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol dengan teman baik perihal kecurangan-kecurangan yang terjadi di tempat dia dulu pernah kerja. Sungguh prihatin mendengarkan cerita curang yang dilakukan secara berjamaah. Bagaimana orang-orang itu mencampur satu kuintal pasir dengan dua ton beras agar bobotnya naik, atau kadang dicampur dengan bekatul untuk memberi kesan bahwa bekatul itu asalnya dari tempat penggilingan beras. Bentuk penipuan lain misalnya gula dicampur tepung kemudian digiling lagi. Jika anda ketemu gula halus yang rasa manisnya kurang, bisa jadi gula itulah yang saya maksudkan. Kadang-kadang kita menemukan kacang merah atau jenis kacang lain di antara kacang hijau. Itu bukan kebetulan. Ternyata sebelum diedarkan ke pasar, kacang hijau dicampur dengan bahan lain yang harganya lebih rendah yang selama ini kita anggap kebetulan saja.

Ada saja pikiran kreatif tapi negatif untuk meningkatkan keuntungan. Bukan rahasia lagi misalnya di antara para penjaja jasa penyemiran sepatu sebagian ada yang mencampur semirnya dengan isi batu baterai bekas. Kulit sepatu yang disemir dengan bahan campuran ini tentu saja akan cepat rusak. Siapa yang peduli? Di salah satu televisi swasta setiap minggu disiarkan praktek kecurangan dalam berusaha. Saya pernah melihat siaran tentang pedagang sate maranggi (kulit sapi) yang membuat sate marangi palsu dari tepung aci (sagu). Di lain waktu ada liputan tentang terasi palsu. Ketika mendekati lebaran di mana kebutuhan daging sapi meningkat, sapi-sapi yang tidak berdosa disiksa dulu dengan cara dimasukin air menggunakan selang lewat mulut yang disebut digelonggong. Tujuan menggelonggong ini sudah pasti agar berat daging bertambah setelah dipotong. Entah dapat ide sadis dari mana mereka, menyiksa binatang seperti itu.

Perkembangan teknologi juga membuat bentuk penipuan semakin bervariasi. Dulu saya pernah mendapat pengalaman kena tipu dengan menjadi homeworker. Meskipun ini jelas-jelas penipuan tetapi saya yang sudah terlanjur menjadi korban menganggapnya sebagai pelajaran berharga. Memang tidak gratis sih pelajaran itu. Namanya juga pelajaran berharga, pasti ada harganya. Saya harus merelakan uang  $100. Biarlah uang itu melayang. Yang namanya ilmu memang kadang harus dengan biaya untuk memperolehnya. Pepatah Jawa ‘Jer basuki mawa bea’ sungguh pas untuk pengalaman saya itu.

Entah sudah berapa kali saya mendapat email pemberitahuan telah menang lotere. Beli saja tidak pernah kok tiba-tiba diumumkan menjadi pemenang. Penipuan lewat email memang beragam bentuknya. Dulu ketika masih kerja di Jakarta, saya pernah sengaja melayani penipuan yang ditujukan ke saya melalui email. Sampai-sampai saya menelepon ke Nigeria sekedar ingin tahu. Barangkali si penipu sadar kalau saya permainkan, tiba-tiba saja dia menghilang begitu saja. Alamat email dia yang saya coba hubungi lagi sudah tidak aktif. Email saya di-bounce. Nomor telepon yang sebelumnya bisa saya hubungi mendadak menjadi tulalit.

Penipuan melalui sms juga beberapa kali saya terima dengan iming-iming dari yang berbentuk barang seperti mobil sampai uang jutaan rupiah. Belum lama ini ada sms masuk di hape saya yang mengabarkan berita gembira. Seperti ini beritanya:

————————————————————————

+6285210042072

XL (123)
PROMO HADIAH
“XL Rp. 100Jt”
U/ pemilik No.
0818170xxx
Resmi menang 15Jt. di undi smlm di ANTV
U/ Info hub kntr
XL CENTER jkrt:
021 32225187
021 32225197

————————————————————————–

Siapa yang tidak senang? Tiba-tiba saja ada rejeki nomplok di siang bolong. Itu kalau benar! Masalahnya ini penipuan. Yang menggelikan, nampaknya si penipu tidak pernah atau jarang membaca dan bodoh pastinya. Undian itu kan hanya berlangsung dari Januari s/d 28 Februari 2010 kemarin. Padahal sekarang sudah Mei, dan dia masih saja mengirimkan sms tipu-tipu itu. Alangkah o-onnya. Sayangnya, tetap masih ada orang sial yang tergiur kemudian menjadi korban.

Mudah-mudahan saja yang namanya kejujuran masih banyak yang memiliki. Sudah pasti kejujuran yang menjadi rohnya etika berbisnis ini tidak ada dalam etika bisnisnya para penipu. Lebih-lebih etika bisnis penipu bodoh. Boleh saja kita bodoh. Namun, sungguh celaka bila kita ini sudah bodoh, penipu lagi. Betul?

Sumber gambar: di sini


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here