Semenjak listrik ditemukan, kehidupan ini semakin berkembang dan menyenangkan. Namun, jangan percaya begitu saja dengan kalimat pembuka itu. Munculnya listrik ternyata membuat kualitas hidup ini jadi merosot. Kok bisa??

Hari Bumi atau Earth Hour yang ramai dikampanyekan dan telah diperingati 27 Maret kemarin pasti memiliki tujuan yang sangat bagus. Anjuran mematikan listrik dua hari yang lalu selama satu jam dimulai pukul 20.30 wib sampai 21.30 wib tentunya akan berdampak positif pada penghematan listrik di bumi ini. Mengingat peringatan itu memiliki efek yang baik bagi bumi, sudah seharusnya kita mendukung. Dukungan itu kita wujudkan dalam bentuk ikut memadamkan listrik selama satu jam. Tidak terlalu lama dan bukan pekerjaan sulit. Saya yakin anda pasti bisa. Apalagi belakangan ini kita (yang di Bogor) sudah terlatih dengan kondisi listrik mati meskipun bukan atas kehendak kita sendiri. Bukan hanya satu jam, bahkan bisa seharian.

Mengapa bumi diperingati? Saya pikir inilah salah satu bentuk terima kasih manusia kepada bumi. Selama ada peradaban manusia, selama itu pula bumi telah dimanfaatkan oleh manusia. Adakalanya pemanfaatan itu bukan hanya sekedar mengambil sesuai kebutuhan tetapi sifatnya sudah mengeksploitasi. Berapa sih, misalnya, kebutuhan kayu untuk membuat sebuah rumah untuk satu keluarga? Tidak banyak. Dibandingkan ketersediaan kayu yang ada, kebutuhan itu belum seberapa. Namun fakta bicara lain. Karena keserakahan, pemanfaatan itu melebihi jumlah yang sebenarnya dibutuhkan. Ini terjadi bukan hanya pada kayu, hasil bumi yang lainpun mengalami hal yang sama.

Sebagai manusia yang ‘katanya’ dibedakan dengan binatang karena bisa berpikir, bukan hanya sekedar punya otak, sudah seharusnya memikirkan kelangsungan hidup bumi, bukan manusia. Begini maksud saya. Manusia akan silih berganti menempati bumi ini sebagai tempat dia hidup, dan itu tidak abadi. Akan datang generasi manusia menggantikan generasi sebelumnya untuk hidup di atas bumi. Jika generasi sebelumnya tidak merawat baik-baik bumi ini, generasi berikutnya bakal menerima bumi yang rusak, dan akan semakin rusak bila tidak ada upaya merawat.

Salah satu tindakan merawat bumi adalah dengan menggunakan listrik secara bijak. Sebenarnya bijak nggak bijak, kinerja PLN mempunyai andil menjadikan manusia Indonesia otomatis berhemat listrik.  Bagaimana tidak? Sering listrik ini mati hidup, kadang-kadang tanpa sebab yang jelas. Artinya, tidak hujan, tidak ada petir, tahu-tahu mati begitu saja. Saya mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan ini selama 14 tahun dari 20 tahun saya tinggal di Bogor. Dua tahun pertama saya tinggal di daerah Sempur yang berada persis di sebelah Kebun Raya Bogor. Selama tinggal di wilayah itu, sangat jarang sekali listrik mati. Barangkali karena di tengah kota. Setelah itu saya pindah ke wilayah Kebun Pedes, masih satu kecamatan dengan Sempur yaitu Tanah Sareal. Karena masih masuk Kodia Bogor, mungkin itu pula yang menyebabkan Kebun Pedes jarang mati lampu. Empat tahun saya hidup di Kebun Pedes. Setelah itu saya memutuskan pindah ke Cibadak, daerah pinggiran yang masuk Kelurahan Ciampea. Setelah 12 tahun pindah lagi ke Sukaraja. Selama 12 tahun tinggal di Cibadak dan hampir dua tahun di Sukaraja yang keduanya masuk Kabupaten Bogor, saya sering dipaksa oleh PLN untuk berhemat. Hemat listrik memang, tapi boros di peralatan elektronik. Sudah berapa saja peralatan elektronik yang rusak karena listrik yang ngaco.

Untuk berhemat listrik tentu saja tidak perlu dipaksa-paksa. Akan lebih nyaman bila penghematan itu karena niat yang muncul dari diri sendiri. Caranya pun bisa macam-macam. Yang biasa saya lakukan dalam berhemat listrik adalah mematikan listrik yang tidak diperlukan, menonton televisi bila memang ada acara yang ingin ditonton, dan menggunakan lampu CFL bukan bohlam di hampir seluruh bagian rumah. Belum maksimal memang tetapi setidaknya sudah mencoba melakukan. Anda saya sarankan juga untuk mulai berhemat. Tidak perlu menunggu Earth Hour baru mematikan listrik. Bila itu yang dilakukan, kan berarti hanya setahun sekali sengaja menghemat listrik? Biarlah Earth Hour datang untuk mengingatkan kita berhemat listrik, seperti PLN dengan listriknya yang byar-pet.

Jika di awal tulisan ini saya katakan listrik membuat kualitas hidup jadi merosot, hal itu semakin terbukti benar adanya bila PLN sebagai perusahaan monopoli tidak terus memperbaiki kinerjanya. Jika byar-petnya listrik membuat penduduk Indonesia ini jadi stres, bagaimana bisa dikatakan kualitas hidupnya bagus apalagi meningkat bila setiap hari stres?

4 COMMENTS

  1. cie cie dah dua nih yang ikutan Kumkum.. aku baru ikutan nih hari ini gara2 baca tulisannya kang Asep..

    semoga menang yaa kang asep en wongkamfung..

    btw.. saya ama kang asep akan mengagendakan makan di AB Priai loh.. tunggu tanggal maennya hehe..

    • marilah saling mendoakan agar menang semua. untk smtara ABP bukanya cuma malam (18.00 s/d 21.00) lho, hari minggu ke 2 dan ke 4 setiap bulannya tutup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here