Bisakah anda bayangkan apa yang akan terjadi di ruang kuliah dengan dosen gagap berdiri di depan mahasiswanya? Bila pengajar itu memang selebriti gagap yang pura-pura sedang mengajar, pasti akan menjadi meriah kelasnya. Namun bila yang gagap itu dosen sungguhan, saya tidak bisa membayangkan bencana yang bakal menimpa anak didiknya. Celakanya di dunia pendidikan, banyak dosen gagap bergentayangan. Ingin bukti?

Berbicara tentang gagap, istilah itu bukan hanya mengacu pada gangguan bicara atau kesalahan dalam ucapan dengan mengulang-ulang bunyi, suku kata, atau kata. Gagap bisa juga terjadi pada perilaku seseorang yang belum siap menghadapi suatu keadaan baru. Alangkah celakanya para anak didik bila ternyata mereka dididik oleh pengajar berperilaku gagap. Bila keadaan ini tidak segera ditangani dengan baik, yang sangat mungkin terjadi adalah sebuah institusi pendidikan akan menghasilkan lulusan yang tidak berkualitas.

Seorang yang gagap dalam hal berbicara mungkin saja menjadi seorang dosen. Namun rasanya peluang itu kecil sekali. Jika sampai terjadi, mungkin itu karena penyimpangan sistem perekrutan alias terjadi nepotisme. Yakinkan anda bila seorang gagap bicaranya akan diterima sebagai dosen saat dia melamar? Misalkan bila anda yang memutuskan, akankah anda menerima pelamar gagap untuk posisi dosen di institusi pendidikan anda? Saya yakin, anda akan bilang tidak. Anda pasti tidak bersedia mempertaruhkan reputasi, baik pribadi maupun institusi anda, dengan mempekerjakan dosen gagap, kecuali institusi anda memang bertujuan menghasilkan pelawak-pelawak (yang pura-pura) gagap.

Memang bisa dipastikan tidak ada dosen gagap dalam berbicara. Namun sangat banyak dosen berperilaku gagap. Ketika teknologi informasi masuk ke ranah pendidikan, banyak dosen tergagap-gagap. Salah satu bentuk teknologi itu misalnya internet. Tidak sedikit dosen kebingungan dalam menyikapi hadirnya internet. Karena kegagapan itu, respon yang diberikan bukan memanfaatkan kedahsyatan internet untuk menunjang profesi dia sebagai pengajar tetapi lebih bersifat pribadi. Berjuta jenis informasi pendidikan yang disediakan internet diabaikan begitu saja. Yang dilakukan memang memanfaatkan internet, namun yang dieksplorasi dan dieksploitasi masih sebatas jejaring sosial yang sifatnya untuk iseng (keperluan pribadi). Mereka lebih ahli dengan media sosial semacam friendster, facebook, twitter, youtube, atau situs-situs penyedia mp3 dan film. Mereka masih tergagap-gagap dengan situs-situs yang berisi bahan ajar atau materi lain pendukung proses belajar mengajar. Kalaupun pernah mengunjungi, frekuensinya masih minim. Tidak sebanding dengan waktu yang digunakan untuk ber-facebook ria.

Kegagapan terhadap internet sangat mungkin akan menjadi kegagapan di dalam kelas. Dosen akan tergagap-gagap ketika berhadapan dengan mahasiswa yang internet literate (melek internet). Internet memang bukan satu-satunya tempat untuk memperbaharui pengetahuan, tetapi siapa atau apa yang dapat mengimbangi kecepatan internet dalam meng-update informasi? Dunia maya yang bisa dimasukin siapa saja sangat memungkinkan mahasiswa menjadi lebih melek pengetahuan termutakhir dibandingkan dosennya. Jika dosen hanya mengandalkan pengetahuan jadul yang dimiliki tanpa rajin memperbaharui maka kegagapan itu pasti terjadi. Dosen akan terlihat bodoh dan out of date di mata mahasiswa yang rajin menyambangi sumber pengetahuan di dunia maya. Misalnya sebagai dosen, apakah anda akan terus mencari-cari alasan untuk menghindar menjawab pertanyaan mahasiswa yang diperoleh dari internet yang anda tidak paham? Jangan, anda jangan lakukan itu. Sebaiknya anda harus mengimbanginya dengan terus meng-upgrade dan meng-update pengetahuan anda.

Dosen gagap juga kadang memperlakukan mahasiswa seperti siswa taman kanak-kanak yang harus terus dicekoki dengan peraturan yang tidak kreatif. Mereka tidak diberi kebebasan untuk berekspresi hanya dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar. Contoh konkret misalnya peraturan tentang rambut dan cara berpakaian. Memang akan terlihat baik meskipun belum tentu menarik dengan memiliki rambut dan pakaian rapi. Namun bila ini yang dijadikan orientasi, saya khawatir justru yang terjadi adalah salah prioritas. Yang lebih dipentingkan justru kulit, bukan isi. Ibarat komputer, yang penting casing-nya, bukan hardware dan software canggih di dalamnya.

Peraturan memang penting tetapi bila peraturan itu digunakan untuk menutupi ketidakmampuan maka peraturan itu sudah tidak lagi efektif. Wibawa dosen yang dijaga melalui peraturan yang diterapkan dengan ‘membabi buta’ justru menghasilkan pelecehan. Dosen gagap tetap kasat mata. Diakali dengan berbagai bentuk peraturan apapun untuk menutupinya tetap tidak akan bisa sepenuhnya berhasil. Sepintar-pintar membungkus yang busuk, akhirnya berbau juga. Yang namanya loyang (tembaga kuning/kuningan) tetap loyang, tidak mungkin menjadi emas. Untungnya dosen gagap itu bukan loyang, jadi dia masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi emas.

Anda dosen loyang apa dosen emas? Dosen anda loyang atau emas?

8 COMMENTS

  1. @asepsaiba: betul, internet sangat memungkinkan murid memiliki pengetahuan yg tidak dimiliki gurunya.
    @Blog Bisnis dan Pemasaran: guru juga manusia 😉
    @dheelaa: benar.
    @Asrul: dan lebih baik lagi guru yang di pedalaman jg membekali diri dg kemampuan berinternet. Jangkauan operator telepon skg sudah semakin luas bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa.
    @Radio and Tv Online: :mrgreen:
    @Info Apa aja boleh: setuju sekali

  2. Ulasan yang superb…

    Teknologi (tidak terbatas pada internet), tak terhingga luasannya.. Dan tak pernah terhenti oleh waktu.. Selayaknya para pengajar dapat mengimbangi perkembangan teknologi tersebut…

    Pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” tampaknya sudah tidak berlaku lagi di jaman sekarang karena kedahsyatan pengaruh teknologi (baca: internet) itu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here