es teh - detoksifikasi syahwat ramadhanKurang afdol rasanya bila di bulan Ramadhan ini saya tidak menulis tentang puasa. Banyak hal yang bisa dituliskan terkait dengan puasa Ramadhan. Salah satunya adalah manfaat yang ada di dalamnya.

Manfaat yang sering disebut-sebut dalam puasa Ramadhan adalah detoksifikasi, yaitu penawaran atau penetralan toksin atau racun yang ada di dalam tubuh. Anda bisa membaca tentang detoksifikasi lebih rinci dalam tulisan di blog ini pula yang berjudul Ramadhan, It’s Overhaul Time. Saya tidak akan membahas tentang hal tersebut untuk tulisan yang sedang anda baca ini meski judulnya menggunakan kata ‘detoksifikasi’. Meskipun demikian, saya akan berbagi pengalaman dengan anda tentang suatu hal yang sangat terkait dengan detoksifikasi yaitu kesehatan.

Dengan menjalankan puasa Ramadhan, disadari atau tidak tubuh kita menjadi lebih sehat khususnya alat pencernaan. Yang biasanya di siang hari, pencernaan terus menggiling makanan yang masuk, di saat Ramadhan, mereka memiliki waktu untuk istirahat sejenak. Namun di sisi lain, kesehatan saat Ramadhan juga rentan karena faktor makanan yang dikonsumsi terutama pada saat buka. Karena seharian menahan haus dan lapar maka ketika waktunya buka puasa, sebagian dari kita kemudian menjadi ‘kalap’. Segala rupa makanan dan minuman kemudian masuk ke dalam perut. Bila dikatakan salah satu nikmat puasa adalah saat berbuka, hal itu tidak mengherankan. Faktanya, sebagian dari kita begitu ‘menikmati’ hidangan berbuka puasa. Di balik kenikmatan inilah kemudian ancaman terhadap kesehatan muncul.

Walaupun saat ini saya menulis tentang kesehatan, sayangnya saya tidak dalam keadaan sehat. Penyebabnya tidak lain karena ‘kekalapan’ saya menyantap menu buka. Bukan penyakit fatal tetapi lumayan mengganggu aktifitas. Karena sering menyantap gorengan dan minum es meski tidak tiap hari, flu datang menyerang. Batuk, pilek, dan kepala pusing sudah tiga hari ini masih bertahan. Yang bikin tidak nyaman adalah batuk yang selalu datang setiap berbaring akan tidur atau tiduran. Mudah-mudahan saja semua ini akan hilang segera. Semoga puasa Ramadhan juga menjadi obat bagi penyakit saya ini.

Melihat banyak teman yang sudah serak suaranya, batuk-batuk, dan ingusan karena ‘penyakit Ramadhan’ di minggu pertama puasa, saya sebenarnya sudah mencoba untuk waspada dan hati-hati dalam mengkonsumsi makanan. Namun karena ‘kalap’ dalam kenikmatan berbuka puasa, di sepuluh hari terakhir Ramadhan akhirnya saya tumbang juga. Seperti biasanya, penyesalan datang belakangan. Mengapa saya tidak tahan untuk tidak minum es, mengapa saya sering makan gorengan yang jelas tidak sehat untuk berbuka puasa, dan masih banyak penyesalan lainnya. Jelas semua penyesalan itu tidak ada gunanya. Menyalahkan diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah. Yang harus saya lakukan adalah berusaha untuk tidak mengulangi lagi. Setidaknya kalaupun saya harus minum es atau makan gorengan, saya harus memastikan dahulu bahwa kondisi saya memang benar-benar fit. Ketika penyakit sedang bersemayam seperti saat ini, barulah saya sadar dan bisa merasakan betapa nikmatnya sehat.

Dalam Ramadhan, detoksifikasi memang terjadi. Namun saya berharap, bukan hanya pencernaan saja yang mengalami detoksifikasi tetapi dalam syahwat menyantap makanan juga. Dengan demikian, bukan hanya menjadi fresh kembali setelah berpuasa sebulan tetapi juga sehat selama menjalankan ibadah yang selalu dinanti ini. Bagaimanapun juga, sakit saat puasa dalam Ramadhan ini menjadi episode indah dari sinetron hikmah Ramadhan dalam kehidupan saya. Bagaimana dengan anda?

 

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here