desakuIni merupakan kali kedua emosi saya teraduk-aduk. Yang pertama adalah saat menyaksikan Gempita Bulan Bahasa yang diadakan oleh Rumah Kata Bogor. Di kesempatan yang kedua, kembali emosi saya bergejolak ketika menyaksikan sebuah peluncuran novel karya Kembangmanggis berjudul Desaku. Hmm, baru kali ini acara peluncuran buku menyebabkan mata saya basah oleh airmata. Mengapa bisa terjadi?

Jam mulai yang tertera di undangan peluncuran buku itu sebenarnya pukul 16.00 WIB. Karena ada bencana alam di rumah (ketiduran), saya datang ke acara sekitar pukul 17.00 WIB. Saat sampai di lokasi yang bertempat di sebuah rumah makan, acara sudah di mulai. Ruangan tempat acara berlangsung berada di lantai dua namun di lantai satu disediakan televisi layar lebar bila tidak ingin naik ke lantai dua. Dari layar televisi tamu undangan yang berada di ruangan lantai dua terlihat sudah penuh. Saya tetap naik dan berharap masih ada dua tempat duduk buat saya dan istri saya. Tarraaa… ada dua kursi kosong bersebelahan. Tetapi adanya di barisan terdepan? Sip! Justru itu yang saya inginkan. Seandainya saya datang awalpun, kursi-kursi di barisan terdepan itulah yang pasti saya incar. Dengan anggunnya, saya berjalan menuju singgasana yang sudah tersedia itu. Mantap!

Entah acara apa yang sudah berlangsung sebelumnya, yang saya hadapi sekarang adalah sebuah pembacaan salah satu bab dari novel tersebut. Cara membacanya begitu mengesankan. Saya tertarik. Kisahnya tentang acara wisuda di ITB. Hingga saat sampai pada bagian cerita yang menghisahkan paduan suara menyanyikan Gaudeamus Igitur, munculah satu-persatu di atas panggung para pemain yang memerankan anggota paduan suara lengkap dengan baju toganya. Di bagian inilah emosi saya mulai bergemuruh. Lantunan lagu dari paduan suara yang mengisi ruangan begitu masuk ke sanubari terdalam. Kenangan saya saat diwisuda dulu hadir seketika. Inilah yang akhirnya membuat saya menangis. Belum lama saya masuk ruangan dan duduk namun saya langsung dibuat begitu sentimentil oleh acara yang dikemas sangat provokatif dan menghibur.

Secara keseluruhan acara peluncuran buku ini sangat bagus. Meskipun persiapan acaranya hanya satu bulan sebagaimana yang disampaikan Kembangmanggis, kenyataannya panitia dan para pendukung acara mampu menyajikannya dengan menarik. Acara berlangsung hingga jam 18.30 WIB diakhiri dengan sesi penandatangan oleh penulisnya untuk novel yang sudah dibeli para tamu undangan di lantai satu.

Yang saya sampaikan di atas adalah tetek-bengek terkait acara seremonial. Panitianya memang cukup professional dan memperhatikan segala pernak-pernik publikasi yang perlu disiapkan seperti tiruan novel setinggi tiga meter di depan gedung tempat peluncuran misalnya. Nilai yang saya berikan untuk segala tetek-bengek tersebut 100, sempurna.

Sekarang waktunya membincangkan novel Desaku. Segala acara pendukung yang disajikan begitu sempurna itu hanyalah sebatas kegiatan basa-basi untuk membuat tamu undangan senang. Acara itu tidak akan mampu menambah atau atau mengurangi kualitas dari novel yang diluncurkan. Desaku merupakan novel yang ‘mengerikan’ untuk pembaca pemula, bukan penggila buku, bila melihat bentuknya yang montok. Halaman berjumlah 928 untuk ukuran sebuah novel bisa dibilang sangat tebal. Itu belum apa-apa. Ada kejutan lain yang terembunyi di dalamnya. Pembaca, sekali lagi yang bukan penggila buku, akan berteriak, “Tidaaakkkk…” ketika dia membuka novel tersebut. Mengapa? Ternyata, selain jumlah halaman yang menuju 1000, tulisannya kecil-kecil. Perkiraan saya ukuran hurufnya 10 pixel, dua pixel lebih kecil dari ukuran standar (normal). Itu artinya, bila novel itu dicetak dengan huruf normal bisa diperkirakan jumlah halamannya bisa membengkak menjadi 1500-an. Wow! Betul-betul sebuah perjuangan dan tantangan bagi orang yang berniat membaca novel tersebut.

Kembangmanggis - Desaku
sumber: goodreads.com

Satu lagi yang ditemukan dari novel ini adalah keinginan sang penulis untuk tidak diketahui selain nama penanya. Jangan berharap akan menemukan biodata dari Kembangmanggis. Entah alasan apa yang melatari keputusannya menyembunyikan diri di balik nama pena tersebut. Apakah ini sebuah bentuk ketidakpercayaan diri, seorang pemalu, atau bentuk perlindungan wilayah pribadinya? Hanya Kembangmanggis yang bisa menjawabnya. Bagi saya pribadi, barangkali juga pembaca yang lain, adakalanya mengetahui siapa jati diri penulisnya bisa mendekatkan jarak psikologis dengan kreator buku yang sedang dibaca.

Kembangmanggis sebenarnya bukan novelis baru. Tahun 80-an dia cukup dikenal dengan cerita bersambungnya yang berjudul TIA. Cerbung itu rutin nongol di majalah remaja Hai. Gramedia Pustaka Utama kemudian menerbitkan TIA menjadi sebuah novel. Penerbit yang sama juga menerbitkan novel-novel dia lainnya seperti Warisan, Burung-burung Kecil (pemenang Sayembara Mengarang Novelet FEMINA 1990), dan LT1. Di novel terbarunya ini, entah mengapa Kembangmanggis yang merupakan doktor filsafat dan bernama asli Baby Ahnan tidak mencantumkan biodata.

Hal yang melegakan sebagaimana disampaikan Kembangmanggis sebagai penulisnya adalah bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami. Dia juga berjanji bahwa meskipun tebal, isinya sangat ringan dan gampang dimengerti. Bahkan novel tersebut bisa dibaca dan dapat dipahami oleh anak SMP. Novel Desaku memang ditulis untuk semua kalangan pembaca. Kembangmanggis yang berlatar belakang pendidikan ilmu filsafat sama sekali tidak memasukkan unsur filsafat yang terkenal ‘berat’ di dalamnya, apalagi politik. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat umum.

Bahasa yang ringan dan isi yang mudah dipahami mungkin bisa membujuk pembaca untuk mulai membuka. Namun pembaca yang gampang terpengaruh dengan kesan pertama, ketebalan dan ukuran huruf yang mungil merupakan penampakan yang mengerikan. Mereka sangat mungkin akan mundur teratur bahkan lari tunggang langgang menjauh karena kengerian itu.

Bagi saya sendiri, novel Desaku cukup menggoda untuk dibaca. Proses penyusunannya yang memakan waktu delapan tahun dan bahkan si penulis sampai harus menyepi di Ubud, Bali untuk merampungkannya membuat saya makin penasaran untuk segera melahapnya.

Sumber gambar: koleksi pribadi

 

10 COMMENTS

  1. nah ini dia penulisnya ternyata awak nyari2 di cover buku tak ada
    hadoooh kekmana caranya supaya bisa punya buku ini tapi gak ngeluarin duit? wkwkwkkwwk :p

  2. wow,,, mantap nian.. dengan ukuran font segitu dan jumlah halaman yg ckckckckck.. mati tuh tikus kalu di timpuk * kidding.. hehehe.. mantafff!!!

    sayang novel.. andai itu yg selaen novel mungkin saiia makin penasaran kang 🙁

  3. @sugeng: terima kasih kunjungannya, sejahtera keluarga yang di Tabanan. salam kembali dari Bogor. 😉
    @titoHeyzi: di toko buku manapun belum ada. Kalau tidak salah untuk saat ini belinya hanya lewat online di kembangmanggis.com atau di jaringan resto milik penulis di Bogor (Pia Apple Pie atau Makaroni Panggang) 😉
    @NoerDblog: selemat sore juga, sukses juga untuk anda 😉

  4. Dari judulnya “Desaku” terkesan si penulis memiliki kecintaan yg mendalam terhadap tempat tinggalnya. Tapi entah ya karena saya jg belum baca novelnya…
    Selamat sore kang, sukses selalu untuk anda…

  5. jadi penasaran sama novelnya,, kebetulan saya salah satu penggila novel.. bisa untuk merefresh otak yg stiap hari di isi dengan diktat kuliah,, Hha..

    Sudah masuk ke Gramedia blum ya, atau limited edition om??

  6. Membaca novel,…… saya koq sekarang gak pernah lagi membaca yang seperti ini. Jangankan yang semacam fiksi, yang biogarfi saja sudah gak pernah lagi 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here