Miki, tamu undangan yang lebih memilih jongkok di bawah meja (foto: @rudigints)

Malam Minggu ini saya habiskan waktu bersama para santri dan pengurus Pesantren Daarul Uluum, Bogor. Sebuah acara yang diberi nama Charity Night (Malam Amal), Program Gerakan Orang Tua Asuh untuk Santri Yatim & Dhu’afa sedang diadakan untuk menggalang dana. Dalam kesempatan ini, saya begitu terkesan dengan citra yang dibangun oleh Daarul Uluum sebagai sebuah pondok pesantren.

Tidak seperti gambaran pesantren yang selama ini saya kenal, Daarul Uluum yang mengklaim dirinya sebagai pondok pesantren modern memberikan citra yang berbeda. Tanpa meninggalkan atribut sebuah lembaga pendidikan keagamaan, pesantren ini tidak alergi dengan perkembangan jaman. Seperti yang terlihat pada malam ini, bukan hanya yang satu ‘spesies’ yang hadir menjadi undangan tetapi mereka juga mengundang kelompok berbeda. Itulah sebabnya di antara meja-meja bundar yang disediakan untuk tamu terlihat komunitas blogger. Selain itu, seorang selebriti sekaligus politikus Wanda Hamidah yang dekat dengan blogger juga hadir bersama suaminya. Penyanyi yang namanya ramai dibicarakan ketika berseteru dengan Marissa Haque yaitu Dee Kartika Djoemadi datang pula menyumbangkan suara indahnya dalam dua lagu religi yang terdapat dalam cd albumnya bersama Memes dan Rida.

 

Wanda Hamidah (foto: @rudigints)
Dee Kartika Djoemadi (foto: @rudigints)
Erha Limanov (foto: @wkf2010)
Abah Zoer (foto: @rudigints)

Bagi saya, hiburan semacam marawis atau kasidah dalam sebuah acara yang diselenggarakan sebuah pesantren bukanlah luar biasa. Kelompok musik semacam itu bisa dibilang sudah galipnya memang harus ada. Namun ketika hiburan itu diisi oleh penyair-penyair yang membacakan puisi seperti Erha Limanov dan Abah Zoer yang seorang polisi, ini yang menarik. Dari jenis pengisi acara serta heterogennya tamu undangan, Daarul Uluum memang ingin memberi kesan bahwa yang namanya pondok pesantren itu ya harus menyatu dengan masyarakat, bukan sebuah lembaga eksklusif dan tak membaur. Pondok pesantren juga harus beradaptasi dengan tuntutan jaman. Jika tidak, lembaga pendidikan yang ‘berbau sorga’ ini akan ditinggal jaman dan dianggap kuno. Itulah sebabnya meskipun atribut yang dipakai tetap sarung, baju koko, dan peci, mereka memanfaatkan media sosial semacam Twitter dalam geraknya. Tak heran juga jika salah satu pemimpin pondok pesantren Daarul Uluum terlihat ke mana-mana menenteng Galaxy Tab.

Sebagian blogger yang ikut meramaikan acara: @masfajar, @harrismaul, @abahzoer, @wkf2010, @May_Qbie, @utamiutar (foto: @rudigints)

6 COMMENTS

  1. @MT: Dua koran Bogor edisi pagi ini di dalamnya tak kutemukan reportase acara semalam. 😉
    @rudigints: tak ada kata basi untuk sebuah tulisan. Saya juga gembira bersilaturahim dg orang dahsyat sepertimu. 🙂

  2. Hiks…hiks… Semoga tulisanku nanti tidak basi… Terimakasih mas MT, mas Wong Kam Fung yang sudah mengundang. Senang berada diantara kalian..

    Salam

  3. wah wah, kalah deh koran dalam memberitakan acara ini krn keduluan kang WKF.
    terimakasih, kehadiran teman2 menambah kaya pengalaman DU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here