curug seribuPagi ini saya ke Curug Seribu yang berada di lereng gunung Salak lagi. Karena sudah janji nemenin istri yang akan ngajak hiking kenalannya dari Amerika, saya berdua dengannya berangkat ke Bogor menjemput mereka. Keluar dari rumah jam 06.45 wib dan sampai di tempat mereka menginap 08.05 wib.

Mereka berasal dari Seattle, USA. Keluarga tersebut terdiri Wayne Jacobson, Char istrinya, Annelise (14 th) putri pertamanya, dan Claire (12 th) putri kedua. Merupakan keluarga jangkung. Semua tinggi-tinggi terutama Wayne. Kedua anaknya cantik-cantik. Meskipun baru berusia belasan, tinggi tubuhnya mengalahkan saya. Apalagi dengan istri saya.

Kami ngobrol sambil mereka melakukan persiapan. Char menyerahkan dua topi yang dibawanya dari Seattle buat Izal dan Reyhan. Topi cap warna biru dengan bordiran bangunan dan menara serta tulisan Seattle di bawahnya. Souvenir khas kota tersebut. Sayangnya kedua anak saya ini nggak bisa ikut. Mereka lebih suka tinggal di rumah karena kebetulan nenek dan tantenya datang.

Kami berangkat setelah persiapan selesai. Kebetulan mobil yang disediakan oleh Cinta Baca, perpustakaan tempat Wayne dan keluarganya menginap, juga terlihat sudah menunggu di depan. Sepanjang perjalanan kami ngobrol hingga tak terasa sudah sampai di Curug Seribu. Kami semua bergantian ke toilet yang ada di dekat warung sebelum memulai hiking menuju Curug Seribu. Jam menunjukkan pukul 11.10 wib.

Sampai di Curug Seribu, Char kelelahan. Dia tidak mau turun ke bawah karena takut nggak kuat naik lagi. Dia lebih memilih duduk di depan Curug Seribu memandangi keindahannya sambil menunggu kami yang turun ke bawah. Di bawah merupakan aliran sungai yang berasal dari air terjun. Di sinilah, kecuali Wayne, pada main air.

Annelise duduk di atas batu di tengah sungai sambil merendam kakinya. Kadang malah tiduran di atasnya. Seluruh celananya sudah basah kuyup. Begitu juga kaosnya bagian bawah. Padahal dia nggak bawa baju ganti. Dia sempat terpeleset dan kejebur dua kali. Kata Wayne, nama Annelise diambil dari karakter dalam bukunya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Dia gunakan nama itu karena terkesan dengan tokoh yang digambarkan Pram tersebut.

Claire bermain air dengan hati-hati. Celananya digulung tinggi agar tidak basah. Dia ini tidak banyak omong dan melakukan segalanya dengan pelan. Maknya bilang dia memang begitu, bahkan ketika masih bayi. Beda dengan Annelise kakaknya. Claire lebih banyak membaca dan menulis. Dia bawa bacaan dan buku tulis di dalam tasnya.

Jam 13.10 wib diputuskan balik setelah puas main air. Karena berangkatnya tadi jalannya lebih banyak menurun maka pulangnya harus mendaki. Kasihan Char, dia benar-benar kepayahan. Badannya yang termasuk subur membuatnya jadi cepat cape. Sebentar-sebentar istirahat. Benar-benar kecapean. Sampai-sampai dia bilang, “Really, like have a baby. I’m sorry. I have to stop and take a rest if I feel dizzy. If not, I’ll fall.” Duh, kasihan banget. Saking capenya, dia merasa sama dengan saat melahirkan. Dan hal itu juga membuatnya berkunang-kunang. Mukanya terlihat kemerahan.

Meskipun perlahan, akhirnya sampai juga di warung tempat kami memulai perjalanan tadi. Jam tangan saya menunjukkan 14.30. Sambil istirahat, kami menikmati indomie rebus panas yang lezat. Saya dan istri juga salat lohor dulu di warung tersebut.

Wayne, we’ve just had a great time together today.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here