crot tahi ayamIni memang tulisan jorok. Tidak apa-apa jika anda menyebut seperti itu. Tulisan ini bisa pula disebut inspiratif. Itu juga kalau anda mau menganggapnya begitu. Yang pasti, ‘crot’ bisa ditemukan di mana-mana. Dan mungkin juga, anda bingung dengan ‘crot’ yang menjadi judul tulisan ini sampai kemudian anda menyadari apa itu ‘crot’ begitu selesai membaca tulisan ini. “Diancuk!” barangkali umpatan kekesalan itu anda lontarkan setelah tahu bahwa ternyata ‘crot’ yang saya tuliskan ini adalah sesuatu yang sepele dan menjijikan buat anda. Siap-siap sajalah. Dan mohon maaf  bila itu yang terjadi.

Awalnya membuat tulisan ini seperti sebuah angkot yang tiba-tiba melintas di sebelah saya. Ide tentang ‘crot’ tiba-tiba berkelebat dan berhasil menggerakkan jemari saya untuk membuka Microsoft Word dan menuliskannya. Sepele memang. Benar kan sepele? Kemudian, apa yang ingin saya tuliskan tentang kata yang multi tafsir itu tentu saja akan saya biarkan mengalir. Apa yang akan tertulis di hadapan anda ini adalah sikap saya membebaskan pikiran untuk mengembara mengikuti alur ‘crot’ yang berlarian ke mana-mana.

Apa yang anda pikirkan bila membaca atau mendengar kata ‘crot’? Bisa macam-macam jawabannya tergantung latar belakang yang anda miliki dengan kata itu. Bagi saya, ‘crot’ hanya memiliki satu konotasi, khususnya saat ini. Apa itu? Mari kita melangkah ke paragraf berikutnya.

Betul. Buat saya, kata ‘crot’, baik yang tertulis maupun terdengar, hanya mengacu pada satu hal. Dan hal itu sangat familiar dalam kehidupan saya. Begitu akrabnya saya dengan ‘crot’ sehingga bisa dikatakan ‘yang satu itu’ sudah menjadi bagian dari kehidupan. Hal itu mungkin disebabkan perjalanan kehidupan saya yang begitu heterogen, penuh warna, tidak monoton. Saya pernah tinggal di kampung, di desa, di kota kecil maupun kota besar, pernah menikmati hidup di luar pulau Jawa, pernah tinggal di luar Indonesia meskipun hitungannya hari bukan bulan atau tahun dan masih di benua Asia. Dari perjalanan kehidupan itulah kemudian membuat saya tidak antipati dan menganggap biasa dengan ‘crot’. Bagi anda yang tinggal di kota besar dan apalagi tinggal di apartemen, misalnya, barangkali anda tidak pernah kenal dengan yang namanya ‘crot’. Kalaupun kenal, barangkali ‘crot’ yang anda miliki berbeda dengan ‘crot’ kepunyaan saya.

Apalagi seperti sekarang ini di mana saya tinggal di kampung yang buat ukuran orang dari kota besar mungkin masih dianggap ‘katro’. Sebuah kampung yang penduduknya begitu menyatu dengan alam. Tentang kampung yang saya tinggali sekarang, saya pernah menuliskannya meskipun tidak secara komprehensif dalam Bermandikan Kabut. Dikelilingi dengan lingkungan yang begitu bersahaja dan penduduknya yang mayoritas memelihara produsen ‘crot’, tidak heran jika setiap hari saya menemukan ‘crot’ di teras rumah. Ada kalanya geregetan saat menemukan ‘crot’ di teras, terutama bila teras tersebut baru saja dipel. Namun lebih sering maklum karena pemiliknya tidak pernah ‘makan’ sekolah dan tentu saja tidak tahu bahwa yang dilakukan itu tidak sopan. Reaksi saya jelas akan berbeda bila yang meninggalkan ‘crot’ di teras itu adalah pemilik produsen ‘crot’. Dan rasanya hal itu tidak mungkin terjadi.

Akan berkepanjangan dan membosankan jika tulisan sepele dan menjijikkan ini tidak saya paksa untuk ditutup. Intinya, saya memaksa diri saya sendiri untuk berhenti menulis. Yang jelas, anda pasti sudah bisa menebak apa yang dimaksud dengan ‘crot’. Begitu membaca atau mendengar kata ‘crot’, yang terlintas di benak saya adalah TAHI AYAM. Samakah ‘crot’ anda dengan ‘crot’ saya?

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here