Awas! Jangan mencret di KRL. Ada larangan dilengkapi gambar yang bisa dibaca dan dilihat di setiap dinding dekat pintu keluar/masuk KRL Bogor.
Aksi provokatif tulisan itu betul-betul ampuh. Memang, dia tidak bersuara, hanya sebuah frasa merah dua kata, tapi telinga ini terasa mendengar cemoohannya. ”Pengen ya? Sori, menu ini buat orang berduit. Bukan untuk mahasiswa kos-kosan sepertimu. Silakan ngences (ngiler). Boleh datang bila sudah ada uang.”
Sebab-musabab namanya seperti itu tidak penting bagi kami. Yang paling penting adalah kami bisa menggunakan kolam wudhu bersejarah itu untuk bermain air. Berenang kesana-kemari layaknya perenang yang bertanding dalam kolam skala olimpiade.
Bukan bentuk dan warnanya yang menarik dan membuat penasaran tetapi jumlahnya yang berubah-ubah saat dihitung. Bila ditanya berapa jumlah sebenarnya dari piring Putri Campa itu, saya sendiri belum menghitungnya lagi. Biarlah itu jadi misteri tak terpecahkan bagi saya sekarang.
Setelah merasa menjadi pemenang karena bisa sampai di puncak menara, melihat dan memegang lonceng menara Masjid Agung Demak yang tidak akan terlihat dari bawah, serta melihat pemandangan kota, kami selanjutnya turun. Sampai di bawah, seorang petugas masjid berbadan besar sudah menunggu.
Jalan alternatif yang ada berlubang-lubang. Angkot terguncang-guncang. Kami yang ada di dalam terlempar-lempar. Reyhan anak millenium meringis-ringis menahan sakit.
Saya ketemu Christina Aguilera di stasiun Wates Yogyakarta. Dia sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal orang Jawa.
Sebelum 31 Juli 2010, secara emosional saya tidak ada ikatan dengan Yogyakarta. Namun semenjak bertemu sebuah komunitas bernama Gelatik Selam, saya dipaksa menggadaikan emosi saya di kota gudeg itu.
Melihat baju yang dipakai, mereka perlu dikasihani. Kebanyakan baju yang mereka kenakan kekurangan bahan. Semoga mereka tidak masuk angin. Kan tidak lucu, bidadari kok masuk angin.
Menjadi anggota tim sar memang membanggakan, tetapi bukan tim sar yang satu ini.
Saya ini kan ingin jadi pemandu wisata beneran, bukan bullshit guide alias pemandu tahi kebo.
Berminat? Syaratnya gampang, hanya dengan membaca tulisan ini sampai selesai. Serius. Saya tidak bohong. Jika anda memiliki uang Rp 3000, anda sudah bisa melancong ke negara manapun yang anda suka di dunia ini. Bahkan kadang-kadang nggak sampai Rp 3000. Ada...
Tidak mudah untuk mencapai Ujung Genteng. Bukan dalam artian langkanya tranportasi atau lokasinya yang begitu terpencil, tetapi lebih karena tuntutan fisik dan mental yang prima. Kenapa saya berkata demikian?

Rumah Baru!

Ini rumah baru dan kedua saya. Pindah dari  rumah lama di http://kampungantenan.blogspot.com ke tempat ini mulai 22 Januari 2010. Semua tulisan yang saya buat selanjutnya akan saya taruh di sini. Jika anda ingin membaca tulisan saya sebelumnya, silakan datang...
Ada kejadian menggentarkan pada saat pendakian ke Puncak Gede kemarin. Saya menghadapinya di pekat malam hanya diterangi lampu senter. Peristiwa yang barangkali akan membuat sebagian pendaki membatalkan pendakiannya.
9 dan 10 bulan ini adalah Sabtu dan Minggu. Tanggal 9-nya kebetulan merah. Artinya, anak saya yang terkecil sekolahnya libur. Sesuai yang direncanakan jauh-jauh hari, tanggal itu saya, anak, dan maknya berangkat ke Pondok Halimun (PH).

Liar

Saya yakin dalam diri setiap orang selalu ada sisi liar. Meskipun tidak semua orang mau memperlihatkannya. Ada yang secara ekspresif mengakomodirnya, ada juga yang berupaya untuk mencegah keliaran dalam dirinya terlihat. Bagi saya, sifat liar yang salah satu bentuknya...
Baru 25 Januari dan 22 Februari kemarin, dua-duanya hari Minggu, saya sempatkan gentayangan jalan kaki mengitari Bogor mencari yang tidak pasti.
Sepuluh menit kemudian pepes itu datang. Pembawanya tidak cukup hanya satu pelayan melainkan dua orang. Dibawa dengan nampan yang bentuknya seperti tandu. Jelas sebuah nampan yang khusus didesain untuk membawa menu yang ukurannya tidak tanggung-tanggung. Seberapa besar pepes ikan yang pernah anda makan? Saya berani taruhan pasti tidak sebesar pepes yang satu ini.

Wisata Sastra

Teman saya yang penulis dan juga kritikus sastra itu diundang untuk menjadi pembicara dalam Peluncuran dan Diskusi Novel Mutiara Karam karya Tusiran Suseno. Acara tersebut diadakan di Taman Ismail Marzuki (TIM).

MEDIA SOSIAL

491PengikutMengikuti
731PengikutMengikuti
2,378PengikutMengikuti
8PelangganBerlangganan
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.