Bila tak ingin stres, bermainlah. Bila Perlu ke Hong Kong Disneyland sekalipun.
Menikmati sabtunya Jakarta bersama Revelionwhiz 2012 dari Revel.
Bogor bukan hanya punya Tanjakan Setan di Gunung Gede tetapi juga Tanjakan Iblis di Gunung Salak.
Di punggung gunung Salak yang terakhir kali meletus tahun 1699 ini, segala petualangan saya dimulai, sebuah ekspedisi ke masa 5.000 SM.
Bagi perantau, mudik menjelang lebaran bukan hanya sekedar tradisi. Ada aneka ‘rasa’ di dalamnya. Untuk mereka, mudik bisa menjadi sebuah keniscayaan.
Arrgggghhhh… konyolnya lagi, pertigaan tersebut ternyata sudah saya lewati ketika saya menuju daerah Pasirangin, kemudian saya lewati lagi ketika saya ke Dayeuh.
Sayangnya rumah yang paling ujung bukan bernomor 39 tetapi 37. Sebelah rumah itu? Kuburan! Masak nomor 39 kuburan dan orangnya tinggal di situ?
Menjadi anggota tim SAR tentu saja membanggakan. Tetapi bukan tim SAR yang satu ini.
Bandung euy! Meskipun kamu sudah tidak sedingin dulu dan jadi kota macet, saya tetap akan datang menemuimu.
Yang namanya jalan-jalan tidak harus mengeluarkan biaya mahal. So? Backpacking adalah jawabannya.

Menguangkan Blog

Gelatik Selam dan para 'penganggurannya' di Yogya sana adalah contoh komunitas mantan fakir bandwidth yang sekarang berhasil menjadi peternak domain. Merekalah orang-orang sukses dalam menguangkan blog.
Awas! Jangan mencret di KRL. Ada larangan dilengkapi gambar yang bisa dibaca dan dilihat di setiap dinding dekat pintu keluar/masuk KRL Bogor.
Aksi provokatif tulisan itu betul-betul ampuh. Memang, dia tidak bersuara, hanya sebuah frasa merah dua kata, tapi telinga ini terasa mendengar cemoohannya. ”Pengen ya? Sori, menu ini buat orang berduit. Bukan untuk mahasiswa kos-kosan sepertimu. Silakan ngences (ngiler). Boleh datang bila sudah ada uang.”
Sebab-musabab namanya seperti itu tidak penting bagi kami. Yang paling penting adalah kami bisa menggunakan kolam itu untuk bermain air. Berenang kesana-kemari layaknya perenang yang bertanding dalam kolam skala olimpiade.
Bukan bentuk dan warnanya yang menarik dan membuat penasaran tetapi jumlahnya yang berubah-ubah saat dihitung. Bila ditanya berapa jumlah sebenarnya dari piring-piring itu, saya sendiri belum menghitungnya lagi. Biarlah itu jadi misteri tak terpecahkan bagi saya sekarang.
Setelah merasa menjadi pemenang karena bisa sampai di puncak menara, melihat dan memegang lonceng menara yang tidak akan terlihat dari bawah, serta melihat pemandangan kota, kami selanjutnya turun. Sampai di bawah, seorang petugas masjid berbadan besar sudah menunggu.
Jalan alternatif yang ada berlubang-lubang. Angkot terguncang-guncang. Kami yang ada di dalam terlempar-lempar. Reyhan anak millenium meringis-ringis menahan sakit.
Saya ketemu Christina Aguilera di stasiun Wates Yogyakarta. Dia sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal orang Jawa.
Sebelum 31 Juli 2010, secara emosional saya tidak ada ikatan dengan Yogyakarta. Namun semenjak bertemu sebuah komunitas bernama Gelatik Selam, saya dipaksa menggadaikan emosi saya di kota gudeg itu.
Melihat baju yang dipakai, mereka perlu dikasihani. Kebanyakan baju yang mereka kenakan kekurangan bahan. Semoga mereka tidak masuk angin. Kan tidak lucu, bidadari kok masuk angin.

MEDIA SOSIAL

489FollowersFollow
670FollowersFollow
2,373FollowersFollow
6SubscribersSubscribe
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.