Pagi ini saya ke Curug Seribu yang berada di lereng gunung Salak lagi. Karena sudah janji nemenin istri yang akan ngajak hiking kenalannya dari Amerika, saya berdua dengannya berangkat ke Bogor menjemput mereka. Keluar dari rumah jam 06.45 wib dan sampai di tempat mereka menginap 08.05 wib. Mereka berasal dari Seattle, USA. Keluarga tersebut terdiri […]
Keluarga Van Motman akhirnya bisa saya jumpai. Mereka salah satu pemilik perkebunan kopi di Bogor.

Surken

Dalam keadaan hujan, kami menyusuri alun-alun Suryakencana. Rencananya akan melewati puncak Gede terus pulang lewat Cibodas. Udara makin dingin, kabut semakin tebal ada di atas dan sekeliling kami.
Mereka sudah nggak sabar pengen hari yang ditunggu segera tiba. Maklum saja, ini merupakan camping beneran yang pertama buat mereka.
Tempat ngopi di Bandung yang satu ini memang penuh kisah romantis. Ini yang menjadikannya wajib disambangi. Lebih-lebih bagi Anda yang mencintai sejarah.
Mau ikut gabung di #jalurkopi? Ayo.
Jalan alternatif yang ada berlubang-lubang. Angkot terguncang-guncang. Kami yang ada di dalam terlempar-lempar. Reyhan anak millenium meringis-ringis menahan sakit.
Baru 25 Januari dan 22 Februari kemarin, dua-duanya hari Minggu, saya sempatkan gentayangan jalan kaki mengitari Bogor mencari yang tidak pasti.
Di hari pertama program #jalurkopi ini, saya kejatuhan koper segede anak kerbau.
Bagi perantau, mudik menjelang lebaran bukan hanya sekedar tradisi. Ada aneka ‘rasa’ di dalamnya. Untuk mereka, mudik bisa menjadi sebuah keniscayaan.
Sepuluh menit kemudian pepes itu datang. Pembawanya tidak cukup hanya satu pelayan melainkan dua orang. Dibawa dengan nampan yang bentuknya seperti tandu. Jelas sebuah nampan yang khusus didesain untuk membawa menu yang ukurannya tidak tanggung-tanggung. Seberapa besar pepes ikan yang pernah anda makan? Saya berani taruhan pasti tidak sebesar pepes yang satu ini.

Whipping Tree

A whipping tree in the forbidden forest as mentioned by JK Rolling in her phenomenal book series, Harry Potter, can be found in Bogor Botanical Gardens.
Sebelum 31 Juli 2010, secara emosional saya tidak ada ikatan dengan Yogyakarta. Namun semenjak bertemu sebuah komunitas bernama Gelatik Selam, saya dipaksa menggadaikan emosi saya di kota gudeg itu.
Di punggung gunung Salak yang terakhir kali meletus tahun 1699 ini, segala petualangan saya dimulai, sebuah ekspedisi ke masa 5.000 SM.

Sukabumi

Kunjungan ke Selabintana ini merupakan pertama kalinya buat kami semua yang dari Bogor. Sebenarnya tempatnya menyenangkan dengan udara yang sejuk dan hijau serta rindangnya pepohonan yang ada di komplek Selabintana. Sayangnya ...
Arrgggghhhh… konyolnya lagi, pertigaan tersebut ternyata sudah saya lewati ketika saya menuju daerah Pasirangin, kemudian saya lewati lagi ketika saya ke Dayeuh.
Menjadi anggota tim SAR tentu saja membanggakan. Tetapi bukan tim SAR yang satu ini.
Tulisan Malam Jahanam di Yogyakarta ini sebenarnya sambungan dari cerita yang pernah saya buat pada 23 Oktober 2014 berjudul #Jalurkopi2: Malam Jahanam di Yogyakarta. Ternyata sudah berlangsung tiga tahun lebih kejadian tak terlupakan di Kota Gudeg itu, dan baru sekarang saya tuliskan.
Yang namanya jalan-jalan tidak harus mengeluarkan biaya mahal. So? Backpacking adalah jawabannya.
Bukan bentuk dan warnanya yang menarik dan membuat penasaran tetapi jumlahnya yang berubah-ubah saat dihitung. Bila ditanya berapa jumlah sebenarnya dari piring Putri Campa itu, saya sendiri belum menghitungnya lagi. Biarlah itu jadi misteri tak terpecahkan bagi saya sekarang.

MEDIA SOSIAL

490PengikutMengikuti
731PengikutMengikuti
2,378PengikutMengikuti
7PelangganBerlangganan
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.