Pagi ini saya ke Curug Seribu yang berada di lereng gunung Salak lagi. Karena sudah janji nemenin istri yang akan ngajak hiking kenalannya dari Amerika, saya berdua dengannya berangkat ke Bogor menjemput mereka. Keluar dari rumah jam 06.45 wib dan sampai di tempat mereka menginap 08.05 wib. Mereka berasal dari Seattle, USA. Keluarga tersebut terdiri […]
Menjadi anggota tim SAR tentu saja membanggakan. Tetapi bukan tim SAR yang satu ini.
9 dan 10 bulan ini adalah Sabtu dan Minggu. Tanggal 9-nya kebetulan merah. Artinya, anak saya yang terkecil sekolahnya libur. Sesuai yang direncanakan jauh-jauh hari, tanggal itu saya, anak, dan maknya berangkat ke Pondok Halimun (PH).
Bila Anda bermaksud berwisata ke Rangkasbitung dari Bogor, tulisan ini pas untuk dibaca. Yang menyenangkan, Rangkasbitung bisa dijangkau cukup menggunakan kereta rel listrik Commuter Line (CL) pulang-pergi. Cepat, murah, bebas macet.
Demak dikenal sebagai Kota Wali, bukan Kota Kopi. Di kota inilah berdiri Masjid Agung Demak dan merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Tidak ada perkebunan kopi. Demak memang bukan kota kopi tapi pasti ada kopi di sana. Mari berburu kopi di Kota Wali.
Menikmati malam di Madiun dan Ponorogo yang tak terlupakan.
Asyik itu ketika kita yang berada di masa sekarang bisa jalan-jalan di masa prasejarah. Kisah tapak tilas menyusuri peninggalan Kerajaan Tarumanegara.
26 Oktober 2006 (Kamis): Rumah di Atas Bukit Hari sudah terang ketika saya bangun. Lelap betul tidur semalam setelah seharian melakukan perjalanan Bogor Sadawangi. Setelah sholat subuh, saya keluar rumah menikmati sejuknya udara pagi desa Sadawangi. Jalan raya di depan...
Saya dan tiga penggoda iman itu hanya terpisah oleh lorong. Sebenarnya tak masalah bila mereka hanya duduk dan ngobrol. Entah saya ini tepatnya disebut penumpang istimewa atau penumpang kena kutukan.
Mau ikut gabung di #jalurkopi? Ayo.
Sebab-musabab namanya seperti itu tidak penting bagi kami. Yang paling penting adalah kami bisa menggunakan kolam wudhu bersejarah itu untuk bermain air. Berenang kesana-kemari layaknya perenang yang bertanding dalam kolam skala olimpiade.
Siapa sangka sudah tigabelas tahun tinggal di Bogor, baru sekarang tahu kalau ada jalan yang namanya Jl. Cincau. Hari ini saya menjadi turis lokal. Dengan diantar salah satu mahasiswa saya, Mis Sutiawan (saya pasang fotonya disini), saya berangkat dari Panaragan...
Di hari pertama program #jalurkopi ini, saya kejatuhan koper segede anak kerbau.
Setelah merasa menjadi pemenang karena bisa sampai di puncak menara, melihat dan memegang lonceng menara Masjid Agung Demak yang tidak akan terlihat dari bawah, serta melihat pemandangan kota, kami selanjutnya turun. Sampai di bawah, seorang petugas masjid berbadan besar sudah menunggu.
Sayangnya rumah yang paling ujung bukan bernomor 39 tetapi 37. Sebelah rumah itu? Kuburan! Masak nomor 39 kuburan dan orangnya tinggal di situ?
Tidak mudah untuk mencapai Ujung Genteng. Bukan dalam artian langkanya tranportasi atau lokasinya yang begitu terpencil, tetapi lebih karena tuntutan fisik dan mental yang prima. Kenapa saya berkata demikian?
Saya ini kan ingin jadi pemandu wisata beneran, bukan bullshit guide alias pemandu tahi kebo.

Surken

Dalam keadaan hujan, kami menyusuri alun-alun Suryakencana. Rencananya akan melewati puncak Gede terus pulang lewat Cibodas. Udara makin dingin, kabut semakin tebal ada di atas dan sekeliling kami.
Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi saat wisata di Rangkasbitung. Museum Multatuli, Douwes Dekker Huis, Perpustakaan Saidjah Adinda di antaranya yang perlu disebut. Atau mau berburu kuliner khas Rangkasbitung?
Yang namanya jalan-jalan tidak harus mengeluarkan biaya mahal. So? Backpacking adalah jawabannya.

MEDIA SOSIAL

490PengikutMengikuti
731PengikutMengikuti
2,306PengikutMengikuti
10PelangganBerlangganan
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.