Saya ketemu Christina Aguilera di stasiun Wates Yogyakarta. Dia sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal orang Jawa.
Bagi perantau, mudik menjelang lebaran bukan hanya sekedar tradisi. Ada aneka ‘rasa’ di dalamnya. Untuk mereka, mudik bisa menjadi sebuah keniscayaan.
Sebab-musabab namanya seperti itu tidak penting bagi kami. Yang paling penting adalah kami bisa menggunakan kolam itu untuk bermain air. Berenang kesana-kemari layaknya perenang yang bertanding dalam kolam skala olimpiade.

Deoporisasi

Deoporisasi sangatlah penting dilakukan. Program ini tak ada bedanya dengan detoksifikasi. Jika detoksifikasi adalah pembuangan racun dari dalam tubuh, deoporisasi merupakan proses menetralisasi dari rasa enek akibat terlalu banyak makan opor. Hlah, apa pula ini? Jangan dibawa serius, ya. Deoporisasi...
Aksi provokatif tulisan itu betul-betul ampuh. Memang, dia tidak bersuara, hanya sebuah frasa merah dua kata, tapi telinga ini terasa mendengar cemoohannya. ”Pengen ya? Sori, menu ini buat orang berduit. Bukan untuk mahasiswa kos-kosan sepertimu. Silakan ngences (ngiler). Boleh datang bila sudah ada uang.”
Sebelum 31 Juli 2010, secara emosional saya tidak ada ikatan dengan Yogyakarta. Namun semenjak bertemu sebuah komunitas bernama Gelatik Selam, saya dipaksa menggadaikan emosi saya di kota gudeg itu.
Di hari pertama program #jalurkopi ini, saya kejatuhan koper segede anak kerbau.
Keluarga Van Motman akhirnya bisa saya jumpai. Mereka salah satu pemilik perkebunan kopi di Bogor.
Mau ikut gabung di #jalurkopi? Ayo.
Asyik itu ketika kita yang berada di masa sekarang bisa jalan-jalan di masa prasejarah. Kisah tapak tilas menyusuri peninggalan Kerajaan Tarumanegara.

Mau ke Mana?

Kadang masalahnya bukan karena senang tinggal di rumah ketika tidak pergi tetapi karena tidak tahu harus ke mana.
Sepuluh menit kemudian pepes itu datang. Pembawanya tidak cukup hanya satu pelayan melainkan dua orang. Dibawa dengan nampan yang bentuknya seperti tandu. Jelas sebuah nampan yang khusus didesain untuk membawa menu yang ukurannya tidak tanggung-tanggung. Seberapa besar pepes ikan yang pernah anda makan? Saya berani taruhan pasti tidak sebesar pepes yang satu ini.
Awas! Jangan mencret di KRL. Ada larangan dilengkapi gambar yang bisa dibaca dan dilihat di setiap dinding dekat pintu keluar/masuk KRL Bogor.

Puncak Salak I

Semangat kami menggebu-gebu. Langkah kaki dipercepat. Sudah tidak sabar rasanya menjejakkan kaki di ketinggian yang selama ini hanya bisa saya nikmati setiap kali jalan di Pankid atau saat berada di terminal angkot Bubulak.

Pulang ke Demak

Demak sudah banyak berubah semenjak aku tinggalkan tahun 1992. Alun-alun tempat aku bermain bola, nonton layar tancep dan lain-lain sudah tidak seperti dulu lagi.
Pecel itu menu wajib yang harus dinikmati bila ke Madiun.
Sabtu pagi jalan-jalan mengelilingi Kebun Raya Bogor bersama Komunitas Blogor.
Kopi asli Bogor kembali diulas. Di daerah Empang Bogor, ada kisah warung kopi yang seduhan kopinya harus diaduk 75 kali dahulu sebelum disajikan.

Curug Nangka

Karena sudah direncanakan jauh-jauh hari, meskipun Minggu (17/2) pagi itu gerimis, saya sekeluarga tetap berangkat ke Curug Nangka. Ada acara Family Gathering di sana.
Mereka sudah nggak sabar pengen hari yang ditunggu segera tiba. Maklum saja, ini merupakan camping beneran yang pertama buat mereka.

MEDIA SOSIAL

488FollowersFollow
682FollowersFollow
2,376FollowersFollow
6SubscribersSubscribe
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.