Siapa sangka sudah tigabelas tahun tinggal di Bogor, baru sekarang tahu kalau ada jalan yang namanya Jl. Cincau. Hari ini saya menjadi turis lokal. Dengan diantar salah satu mahasiswa saya, Mis Sutiawan (saya pasang fotonya disini), saya berangkat dari Panaragan Kidul sekitar jam 4.30 wib. Setelah pulang kuliah. Saya dengan Mis jalan kaki. Sengaja. Karena […]
Ada lajur jalan di Ponorogo yang ramai dengan pedagang kopi lesehan di kiri-kanannya setiap malam.
Mereka sudah nggak sabar pengen hari yang ditunggu segera tiba. Maklum saja, ini merupakan camping beneran yang pertama buat mereka.

Surken

Dalam keadaan hujan, kami menyusuri alun-alun Suryakencana. Rencananya akan melewati puncak Gede terus pulang lewat Cibodas. Udara makin dingin, kabut semakin tebal ada di atas dan sekeliling kami.
pulang ke demak

Pulang ke Demak

Demak sudah banyak berubah semenjak aku tinggalkan tahun 1992. Alun-alun tempat aku bermain bola, nonton layar tancep dan lain-lain sudah tidak seperti dulu lagi. Halaman depan masjid sudah dipaving semua.

Pondok kok Halimun

Kenapa obyek tersebut dinamakan Pondok Halimun (PH)? Apa pondoknya terbuat dari halimun? Mungkin ada pondok yang selalu diselimuti halimun?
Setiap berdiri di depan pintu ini dan menatap ukir-ukirannya, saya selalu ingat kisah si penangkap petir, Ki Ageng Sela. Pintu Petir tersebut berada di tengah bangunan utama menuju ruang utama untuk salat.
Sepuluh menit kemudian pepes itu datang. Pembawanya tidak cukup hanya satu pelayan melainkan dua orang. Dibawa dengan nampan yang bentuknya seperti tandu. Jelas sebuah nampan yang khusus didesain untuk membawa menu yang ukurannya tidak tanggung-tanggung. Seberapa besar pepes ikan yang pernah anda makan? Saya berani taruhan pasti tidak sebesar pepes yang satu ini.
Saya dan tiga penggoda iman itu hanya terpisah oleh lorong. Sebenarnya tak masalah bila mereka hanya duduk dan ngobrol. Entah saya ini tepatnya disebut penumpang istimewa atau penumpang kena kutukan.
Hari ini saya sudah jalan kaki hampir 14,5 jam.
Menjadi anggota tim SAR tentu saja membanggakan. Tetapi bukan tim SAR yang satu ini.
Mau ikut gabung di #jalurkopi? Ayo.
Keluarga Van Motman akhirnya bisa saya jumpai. Mereka salah satu pemilik perkebunan kopi di Bogor.
27 Oktober 2006 (Jum’at): Ngariung Sebelah Saung di Cikawung Malam Jum’at saya, istri, dan aak Jaja (anak tertua dari wak Endus) asik ngobrol sampai jam setengah satu malam di ruang tamu. Segala hal diperbincangkan. Ngalor ngidul. Salah satunya adalah tentang...
Di punggung gunung Salak yang terakhir kali meletus tahun 1699 ini, segala petualangan saya dimulai, sebuah ekspedisi ke masa 5.000 SM.
26 Oktober 2006 (Kamis): Rumah di Atas Bukit Hari sudah terang ketika saya bangun. Lelap betul tidur semalam setelah seharian melakukan perjalanan Bogor Sadawangi. Setelah sholat subuh, saya keluar rumah menikmati sejuknya udara pagi desa Sadawangi. Jalan raya di depan...
Bila Anda bermaksud berwisata ke Rangkasbitung dari Bogor, tulisan ini pas untuk dibaca. Yang menyenangkan, Rangkasbitung bisa dijangkau cukup menggunakan kereta rel listrik Commuter Line (CL) pulang-pergi. Cepat, murah, bebas macet.

Rumah Baru!

Ini rumah baru dan kedua saya. Pindah dari  rumah lama di http://kampungantenan.blogspot.com ke tempat ini mulai 22 Januari 2010. Semua tulisan yang saya buat selanjutnya akan saya taruh di sini. Jika anda ingin membaca tulisan saya sebelumnya, silakan datang...
Menikmati kopi di tiga kota: Demak, Salatiga, Yogya. Pengalaman ngopi di tiga kota yang tak terlupakan. Banyak hal yang didapat, banyak cerita yang bisa dituliskan.
iwak manuk bukan iwak peyek

Iwak Manuk

Semoga Anda, terutama yang orang Jawa atau mengerti bahasa Jawa, tidak berpikiran ngeres ketika membaca judul tulisan ini, Iwak Manuk. Kata 'manuk' memang riskan digunakan karena maknanya bersayap atau multi tafsir.

MEDIA SOSIAL

491PengikutMengikuti
731PengikutMengikuti
2,378PengikutMengikuti
8PelangganBerlangganan
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.