image

Apalagi yang harus diucapkan di 17 Agustus ini? Merdeka? Yakin jika kita ini benar-benar merdeka? Entah mengapa, keraguan itulah yang selalu muncul di setiap tanggal dan bulan ini pasca pemerintahan Soeharto terutama setelah negeri ini dipimpin SBY.

Sebagai warga negara yang baik saya tentu saja tunduk dan patuh atas segala perundang-undangan yang jadi pegangan bernegara. Namun bila melihat keadaan bangsa yang bopeng-bopeng dalam hampir segala bidang karena korupsi, bagaimana saya bisa yakin bahwa negara saya ini benar-benar dijalankan dengan berlandaskan undang-undang? Kepatuhan saya dan orang lain yang juga menjadi rakyat saya rasakan tidak dibalas selayaknya oleh negara. Pemerintah selaku pelaksana negara tidak menjalankan amanat untuk kepentingan rakyat. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, dan partai mereka masing-masing. Setali tiga uang dengan DPR yang jelas-jelas merupakan kepanjangan tangan dan pikiran rakyat. Bukannya membela ‘yang mereka wakili’, mereka justru melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti hati dan mengkhianati rakyat. Gedung perwakilan rakyat seolah-olah melegalkan segala perilaku mereka dan dianggapnya rakyat ini bodoh sehingga apapun yang dilakukan pasti rakyat setuju saja.

Unek-unek saya ini tentu saja sifatnya pribadi. Apa yang saya tuangkan di sini mungkin cocok dengan yang Anda rasakan, bisa juga sebaliknya. Tetapi inilah catatan yang harus saya buat di hari kemerdekaan ini meskipun bernada pesimis.

Kadang-kadang saya bertanya pada diri sendiri, “Seperti inikah yang namanya negara berkembang?” Kemudian saya timpali dengan pertanyaan berikutnya, “Sampai kapan?” Tetapi selanjutnya saya bantah sendiri, “Bukan karena berkembang negara ini tersangsang di pohon keterpurukan di tepi jurang kehancuran, tetapi karena korupsi dan mental koruplah yang menjadikan semua ini terjadi. Dampak yang jelas terlihat adalah presiden yang begitu lemah dan peragu dalam memimpin, pengusaha culas yang mengelilingi penguasa, wakil rakyat yang lebih suka jalan sendiri meninggalkan yang diwakili.

Di hari lahir kemerdekaan negara ini seharusnya kita berbahagia. Jika ada yang tidak setuju bahwa Indonesia sudah 67 tahun merdeka tetapi sebenarnya belum, tentunya memiliki alasan. Pun sebaliknya, bila ada yang menyatakan kita belum terbebas dari penjajahan, pasti juga mempunyai argumen sendiri. Bagaimana rakyat ini bisa diyakinkan bahwa bangsa iniĀ  sudah merdeka jika kesehatan mahal, pendidikan tidak murah, harga kebutuhan pokok semacam tempat tinggal begitu mencekik, hukum tidak adil, dan koruptor bebas melenggang?

Jika saya sebut tulisan ini sebagai catatan prihatin, memang itulah yang saya rasakan. Saya prihatin dengan nasib rakyat di mana saya termasuk di dalamnya. Bukannya tidak mensyukuri yang sudah ada di depan mata, tetapi saya lebih bersyukur jika korupsi di negeri ini bisa hilang. Utopiskah saya? Saya lebih suka menyebutnya harapan. Dengan demikian kita masih bisa disebut waras jika kita tetap optimis mewujudkannya. Dan memang kita harus optimis, kan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here