Siapa Bapak Blogger Indonesia? Jangan GR dulu dan merasa Anda yang paling berhak mendapat julukan itu karena berbagai alasan dan pertimbangan. Yang pasti, saya menuliskan ini setelah terlibat obrolan asyik di teras #KandangKambing bersama dua sahabat yang memiliki nama panggilan keren Mataharitimoer dan Gunung Kelir. Jika S.H. Mintardja belum almarhum, dia pasti akan memasukkan kedua nama ini menjadi tokoh dari dunia putih dan hitam dalam cerita serial silatnya Nagasasra dan Sabuk Inten atau Api di Bukit Menoreh. 😉

Kita ini, meskipun tidak semua, memang sukanya melabeli apapun atau siapapun, termasuk dalam dunia ngeblog. Namun celakanya, pelabelan yang dilakukan itu justru menyebabkan pengerdilan dan menjadikan kita terkotak-kotak serta serasa menjadi katak dalam tempurung. Seperti yang pernah saya tumpahkan dalam tulisan Tolak Blogger Nasional, Blogger Elite Blogger Kroco, atau Prestasi Tanpa Isi, sikap naif dan euforia bisa menjadi penyebabnya. Bagaimana dengan Bapak Blogger Indonesia? Tak ada bedanya dengan yang pernah saya tuliskan tersebut. Hanya karena prestasi yang tidak istimewa, atau dipicu oleh ketenaran, kemudian memproklamirkan diri atau orang menggelarinya Bapak Blogger Indonesia adalah sebentuk narsis yang berlebihan dan konyol.

Apakah menjadi blogger pertama di negeri ini otomatis berhak disebut Bapak Blogger Indonesia? Ah, kasihan benar mereka yang jauh dari hingar-bingar teknologi internet sehingga tidak mungkin menjadi orang pertama yang tersentuh dunia ngeblog. Hanya gara-gara jauh dari jangkauan internet, baik secara geografis atau fasilitas (di rumah/tempat kerja), sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mendapat gelar Bapak Blogger Indonesia. Bila parameter yang digunakan untuk memberi label segagah itu hanya menjadi orang pertama yang ngeblog, alangkah sepelenya. Dengan demikian, sungguh gampang mendapatkan gelar dan akan muncul bapak-bapak lain karena alasan sederhana sejenis yaitu merasa menjadi orang pertama sebagai pengguna. Jadi, jangan heran bila kemudian muncul Bapak Twitter Indonesia yang ngalah-ngalahin Jack Dorsey (pencipta Twitter), Bapak Facebook Indonesia yang merasa lebih hebat dari Mark Zuckerberg, dan bapak-bapak yang lain, atau bisa juga ibu-ibu yang lain.

Menjadi pengguna pertama tentu saja menyenangkan tetapi belum cukup untuk dibanggakan. Lebih-lebih, disombongkan. Amit-amit, dah. Bolehlah menuntut orang lain menyebut dirinya sebagai Bapak Blogger Indonesia asal telah menghasilkan karya orisinal dan pertama dalam dunia blog. Orang-orang semacam Bruce Ableson yang mencipta Open Diary (Oktober 1998), Brad Fitzpatrick dengan LiveJournal (Maret 1999), Andrew Smales dengan Pitas.com (Juli 1999) kemudian Diaryland (September 1999), atau Evan Williams dan Meg Hourihan (Pyra Labs) dengan Blogger.com (Agustus 1999) yang selanjutnya dibeli oleh Google pada Februari 2003 saja tidak dijuluki sebagai Bapak Blogger Dunia. Hla, ini? Baru taraf pemakai saja sudah digelari Bapak Blogger Indonesia. Apa tidak lebay itu namanya?

Mataharitimoer dan Gunung Kelir

Saya tidak yakin apakah Bapak Blogger Indonesia benar-benar ada dan layak mendapat julukan itu karena saya sendiri baru mulai ngeblog Januari 2006. Sedangkan kedua sahabat saya di atas, yang obrolannya telah menginspirasi tulisan ini, telah lebih lama menjadi blogger. Di mata saya, mereka itulah Bapak Blogger Indonesia yang sesungguhnya, dan bisa jadi Anda juga. Bila di Google ada 906.000 laman yang menggunakan kata kunci itu, saya lebih suka mengabaikannya karena menurut saya siapapun bisa saja mendapat gelar itu.

Jadi, siapa Bapak Blogger Indonesia sebenarnya? Atau, adakah? Bagi saya Bapak Blogger Indonesia jelas ada dan yang jelas bukan (hanya) orang Indonesia yang pertama kali ngeblog. Jika anda seorang laki-laki dewasa, lebih afdol lagi sudah menikah, lebih sip lagi telah mempunyai anak, yang saat ini mempunyai blog, Andalah Bapak Blogger Indonesia. Mudah kan untuk jadi Bapak Blogger Indonesia?

Sumber foto: koleksi pribadi

25 COMMENTS

  1. Setuju tuh dengan kang MT, kok bapak blogger doang, gimana emaknya? hehehe … adanya pelabelan diri, sengaja atau tidak memang hal yang tak bisa dihindari, tapi ini akan menjadi ukuran apakah seseorang lebih suka bergelar atau lebih suka tindakan nyata eh …

  2. @Rusa: tuh, sudah dimention di paragraf terakhir. 😉
    @zizydmk: ya, bener Mbak Zizy itu intinya, konten dan konsistensi dalam mengisi blog. 🙂

  3. Julukan bisa dibuat, bisa saja nanti ada Bapak Blogger Muda, Bapak Blogger Dewasa. Tapi menurut saya, tak ada masalah siapa mau digelari sbg Bapak atau Ibu Blogger. Yg memberi gelar tentu punya pertimbangan sendiri kan ya, dan kriteria tdk bisa disamaratakan dengan kriteria mencari ranking di kelas. Miriplah dgn misalnya seseorang yg muncul tepat pd waktunya ketika negara mencari sosok pemimpin, tp yang ada dan kelihatan hanya dia. Kita bs bilang, ah bagusan si anu si ono, tp karena dia yg terlihat ya begitulah adanya.
    Someday, bila memang ini adalah gelar yg dianggap butuh konsistensi dan proof, maka kriteria utk itu hrs dibuat. Sama spt pemilihan kepala daerah kali ya, LOL.

    But still, mau ada gelar atau tidak, still… Content dan consistency is a must. 🙂

  4. Jadi siapa bapak blogger Indonesia mas? Koq gak dimention? 😀

    Aku gak tahu sih bagaimana awalnya pemberian bapak blogger Indonesia tersebut. Yg aku tahu, orangnya jadi sedikit populer setelah gelar itu 😀

    Hmm…

  5. @genthokelir: saya suka ucapanmu waktu kita ketemu, Om, bahwa beras putih bukan karena mesin slip tetapi karena saling gesek dengan temannya sesama beras. Begitu dalam maknanya dikaitkan dengan manfaat bergaul dan bersilaturahim dengan para sahabat. Kita membaur, membuang segala pengkotak-kotakan dan pengkastaan, sehingga kita merasa setara dan memperoleh banyak manfaat. Kita jadi saling belajar serta menambah pengetahuan dan wawasan layaknya beras yang menjadi putih karena gesekan dengan beras-beras yang lain. Dan… jangan banyak-banyak minum kopi nanti jadi item lagi. ;p
    @utami utar: :mrgreen:
    @elafiq: gampang, kan? 🙂
    @Imelda: sip, saya dukung. 😉

  6. Mudah2an tulisan ini menjadi nasihat bagi semua teman2 dan menjadi blogger yg biasa saja malah bisa memetik hikmat yg luar biasa bisa berteman dan mendapat ilmu dari siapapun dan di manapun mari buang gengsi dan dapati keutamaan bersilaturahmi antar blogger

  7. @MT: Julukan memang tidak penting, yang penting orangnya. Hanya, sayangnya, kadang kita ini dibuat silau dengan embel-embel sehingga jadi tak jelas lagi dalam melihat serta tumpul dalam berpikir dan merasa. Btw, jangan kapok ngobrol lagi ya kakak blogger. 😉
    @Damas Dwi: Sambil nunggu jadi bapak, perbarui terus blognya dengan konten-konten bermutu dan bermanfaat, ya. 😉

  8. oalahhhh, mbahas bapak-bapak. kapan mbahas emak-emak? mulai besok musti ati-ati ngobrol sama sampeyan, takut dipublish koyo ngene!

    pokoke ndak pentinglah julukan itu. yg penting adalah konten blog kita terawat dan terjaga kualitasnya, sesuai dg kadar blognya masing-masing 🙂

    jabat erat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here