Bisa jadi Anda mengira tulisan ini tentang calo atau makelar jual beli anjing karena makna denotatif dari ‘asu’ memang ‘anjing’. Sebenarnya tulisan ini jauh dari itu. Saya hanya ingin bercerita tentang kecurangan yang dilakukan para calo di Terminal Tingkir, Salatiga. Meminjam istilah yang biasa digunakan oleh para sahabat yang tinggal di Yogyakarta, orang-orang curang tersebut pantas dipanggil calo asu karena kelakuannya. Saya bertemu dengan mereka saat akan kembali ke Bogor setelah berlebaran di kampung beberapa waktu lalu.

Mudik lebaran merupakan kesempatan bagi para calo meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bahkan dengan cara culas. Para pemudik yang membutuhkan tiket angkutan menjadi sasaran empuk mereka. Kebutuhan tersebut menciptakan kesempatan dalam kesempitan bagi calo dan memposisikan para pemudik tidak memiliki daya tawar yang kuat. Dengan demikian, sebagaimana hukum pasar berlaku, permintaan yang lebih tinggi dari persediaan menjadikan tiket langka dan mahal harganya. Ditambah dengan keharusan kembali ke kota tempat mengais rejeki, para pemudik akhirnya pasrah ‘dikadalin’ para calo.

Saya sendiri selalu berusaha menghindari calo apapun. Namun dalam perjalanan kembali ke Bogor setelah mudik lebaran kemarin, saya dan keluarga terpaksa berurusan dengan calo dan harus mau bertoleransi dengan mereka. Itu bisa terjadi karena salah saya sendiri. Karena minta tolong orang lain untuk mencarikan tiket, saya harus berhadapan dengan mereka yang tega memakan saudaranya sendiri.

Awalnya adalah saat saya meminta tolong untuk memesankan tiket bus kembali ke Bogor sehari setelah tiba di Salatiga. Bila membeli sendiri biasanya saya akan langsung ke agen resmi dan mendapat tiket bus yang akan dinaiki. Melalui telepon, saya dikabari oleh yang dimintai tolong bahwa tiket bus Tunggal Daya tujuan Bogor untuk kepulangan tanggal 25 Agustus sudah didapat. Meskipun bus ini bukan bus langganan yang biasa digunakan, kabar itu cukup melegakan. Ini juga pertama kalinya saya sekeluarga naik bis tersebut meskipun akhirnya ternyata batal. Sebagaimana yang sudah-sudah, saya berpikir orang yang kami mintai tolong ini pasti sudah memegang empat lembar tiket bus Tunggal Daya yang akan kami naiki nanti. Namun ternyata tidak. Dia hanya diberi selembar kertas yang ‘katanya’ akan diganti dengan tiket bus yang sebenarnya saat hari pemberangkatan. Kisah selanjutnya bisa ditebak, saya sekeluarga menjadi domba korban bagi calo beserta komplotannya yang sontoloyo itu.

Sekadar berbagi agar Anda bisa menghindari jadi korban sebagaimana yang saya alami, berikut modus operandi calo asu di hampir semua terminal bus mana pun, saya rasa.

1. Beroperasi sendiri atau berkelompok.

2. Memiliki (menyewa) sebuah kios di terminal dan berperan seolah-olah sebagai agen resmi dari berbagai perusahaan otobus (PO).

3. Berbicara manis untuk membujuk, akan mengintimidasi setelah calon penumpang menjadi korban.

4. Tiket yang diberikan bukan tiket asli dari bus yang akan dinaiki tetapi hanya selembar kertas yang dia janji akan menggantinya dengan tiket asli pada hari pemberangkatan dan setelah bus datang.

5. Saat hari pemberangkatan, bila calon penumpang ngotot seperti yang saya lakukan, selembar kertas pengganti tiket yang lebih cocok disebut tanda terima itu akan digantikan dengan tiket bus malam yang tidak ada nama bus, nomor polisi, dan nomor tempat duduk yang asal-asalan ditulis.

6. Para korban kemudian diminta duduk dan menunggu di kantor penjualannya untuk mengesankan bus yang akan ditumpangi pasti berhenti di depan kantor tersebut dan mengangkut para penumpang. Para korban ini akan ditinggalkan calo yang menghilang entah ke mana atau duduk-duduk di tempat lain bersama teman-temannya sambil mencari korban baru.

7. Datangkah bus yang sudah kita beli tiketnya? Jangan harap! Kalau pun ada bus yang datang, pasti bukan bus yang kita pesan dan waktunya sangat molor.

8. Calo asu ini akan menemui calon penumpang yang mulai gelisah menunggu dengan informasi yang kesannya dia tidak bisa berbuat apa-apa sekadar untuk menenangkan, misalnya busnya baru berangkat dari garasi, busnya sudah dalam perjalanan tetapi terjebak macet, dan lain-lain.

9. Di lain waktu sesudahnya, bisa setengah atau satu jam bahkan lebih, calo akan datang kembali memberi kabar perkembangan baru yang membuat para korban sulit untuk memutuskan. Yang saya alami, calo itu mengatakan bus Tunggal Daya kelas eksekutif yang saya pesan mengalami keterlambatan. Kemungkinan bus akan datang sekitar pukul 17.15 WIB. Saya dan keluarga yang sudah berada di terminal sejak pukul 14.00 WIB karena katanya bus akan berangkat pukul 15.00 WIB hanya bisa pasrah.

10. Beberapa saat kemudian, calo atau temannya akan datang lagi dengan membawa berita tidak masuk akal dan dengan entengnya disampaikan, bahwa busnya batal berangkat. Untuk memberi kesan mereka bertanggung jawab, ada bus pengganti yang disediakan. Itupun jika penumpang mau. Saya rasa ini hanya akal-akalan komplotan calo dan pengemudi bus atau bisa jadi perusahaan bus dalam memanfaatkan lonjakan penumpang yang selalu terjadi di masa lebaran dan pasti butuh tumpangan. Bus yang akhirnya saya naiki adalah Sari Mustika dan saya sekeluarga diturunkan di Jakarta, bukan di Bogor sebagaimana tujuan bus dari tiket yang telah saya bayar mahal. Akhirnya saya sekeluarga turun dengan selamat dari bus ber-AC yang sopirnya terus merokok selama 20 jam perjalanan.

Solusi menghindari calo asu beserta komplotannya adalah membeli tiket langsung ke agennya. Namun dalam keadaan jumlah penumpang membeludak melebihi kapasitas tempat duduk bus yang tersedia seperti saat libur lebaran, solusi tersebut tidak mudah dijalankan. Bila bisa membeli tiket ke agen resmi jauh-jauh hari sebelum pemberangkatan, itu solusi terbaiknya.

Sumber gambar: koleksi pribadi

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here