Ini Ramadan. Yang namanya bukber atau buka bersama seolah-olah sudah menjadi wajib hukumnya. Begitu hari pertama Ramadan datang, jadwal buka bersama mulai disusun. Bersama siapa, kapan, di mana. Komplit.

buka bersama atau buka-bukaan bersama
Buka Bersama Para Sahabat Alumni WM 27 IPPM Jakarta (Foto: Ika)

Acara tahunan ini bisa diikuti siapa saja. Bahkan yang tak puasa. Muslim maupun nonmuslim. Mengapa bisa begitu? Ya karena meski judulnya buka bersama, pada dasarnya akhirnya menjadi buka-bukaan bersama. Kalau buka-bukaan bersama, kan tidak mesti sedang berpuasa, muslim atau nonmuslim. Terus, maksudnya buka-bukaan bersama? Sabar, ya.

Buka puasa bersama itu ajang silaturahmi. Ketika ada ajakan buka puasa bersama, biasanya saya sambut penuh girang hati. Kecuali ada aral. Kesempatan bertemu dengan teman baik semacam ini tentu tak boleh dilewatkan. Begitu ada, sikat!

Saya tak ingat lagi kapan pertama kali ikut buka bersama. Yang jelas, setiap Ramadan saya nyaris selalu datang ke acara buka puasa bersama. Entah hanya sekali dalam sebulan atau lebih. Bersama teman sekolah, kuliah, rekan kerja, atau tetangga. Buka puasa bersama paling akhir buat saya adalah tadi malam, Minggu 3 Juni 2018. Buka puasa bersama yang kemudian menjadi buka-bukaan bersama. Seperti yang sudah-sudah.

Buka Bersama dan Buka-bukaan Bersama

Yang namanya buka puasa bersama, khususnya bareng teman-teman dekat, biasanya akan beralih menjadi buka-bukaan bersama. Bila Anda telah buka puasa bersama atau baru mau, coba perhatikan. Apa yang saya tuliskan di sini kemungkinan besar akan Anda iyakan.

Buka Bersama

Siapa yang tak riang berkumpul dengan sahabat? Ada yang salah jika Anda malah sedih saat dikelilingi sahabat karib. Harusnya ceria, ini kok justru lara. Dikelilingi orang-orang, katakan, sudah tahu luar-dalamnya kita pastilah menyenangkan. Bahkan bila terselip perisakan di antara obrolan.

Acara semalam yang saya hadiri tentu saja bertajuk buka bersama. Seperti yang saya alami itu, bila Anda buka bersama dengan para sahabat, jangan percaya kalau itu buka bersama semata. Ujung-ujungnya pasti berubah jadi buka-bukaan bersama. Tak peduli yang berkumpul itu berjenis kelamin sama atau beda.

Obrolan langsung dimulai begitu bertemu. Tak peduli beduk atau azan magrib entah berapa menit lagi bergaung. Topik obrolan beragam. Sambung-menyambung. Tak berkesudahan. Dari A sampai Z balik lagi ke A, atau lompat-lompat sesuka-suka. Begitu terdengar azan, sebagian langsung membatalkan puasanya. Sebagian lainnya seolah tak peduli. Lebih demen merampungkan pembicaraan terlebih dahulu, baru minum seteguk dua teguk. Yang tak puasa, lebih memilih nanti saja minum atau makannya. Toh tak ada kewajiban membatalkan puasa.

Buka-bukaan Bersama

Selesai buka bersama, meskipun sejatinya tak bersama-sama waktunya, obrolan gayeng berlanjut. Sambil antri menunggu salat magrib berjamaah atau salat sendiri, atau setelah salat. Perbincangan pascapembatalan puasa ini biasanya makin memanas. Dari yang tidak penting sampai yang nggak perlu. Semua diomongkan. Risak-merisak terjadi. Untungnya, meski panas tapi tetap adem. Meski bahan obrolan bisa memanaskan telinga, hati tetap adem. Keren, kan? Ini bisa terjadi karena, seperti yang sudah saya sebut di atas, masing-masing sudah paham luar dalamnya masing-masing.

Ada kalanya obrolan menjurus ke perisakan. Keterlaluan, memang. Anehnya, yang dirisak malah cengar-cengir. Seolah gembira karena tersanjung. Bila itu yang terjadi, sudah jelas buka bersama sudah menjadi buka-bukaan bersama. Hati jadi terbuka, pikiran jadi membuka. Pintu sayang dan maaf makin terbuka lebar bagi para perisak.

Namun bagaimanapun juga, buat sahabatku yang buka bersama dan buka-bukaan bersama semalam, lewat tulisan ini saya mohon maaf. Sungguh terlalu semalam saya merisak kalian. Dan saya maafkan kalian karena kalian begitu semangatnya merisak saya. Terlalu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here