Film Korea bagi saya tidak ada menarik-menariknya. Mohon maaf saja jika anda penggemar segala sesuatu yang berbau Korea, termasuk film. Saya tidak bermaksud melecehkan kesukaan anda itu. Tapi apa coba yang mengharuskan saya tertarik dengan “pokoknya Korea”? Bisa anda ceritakan? Cowoknya ganteng-ganteng? Saya lelaki tulen! So, saya tidak tertarik dengan sesama jenis. Ceweknya cantik-cantik? Biasa saja tuh? Ah, tentu sah-sah saja bagi siapapun untuk berselera tidak sama dengan yang lain.


Kemarin, saat setelah saya menonton sebuah film di bioskop yang ada di mal Botani Square Bogor, ketidaktertarikan saya itu tergoyahkan juga. Film yang saya tonton tersebut rupanya berhasil ‘mengulik-ulik’ minat saya perihal Korea. Secara tidak sengaja, ternyata saya sedang menonton sebuah film dari Negeri Ginseng alias Korea. Barangkali anda sudah menontonnya, film tersebut berjudul The Sword with No Name. Pemerannya Jae-jin Baek, Seung-woo Cho dan Jae-woong Choi, disutradarai oleh Yong-gyun Kim.

Film yang berjudul asli Bool-kkott-cheo-reom na-bi-cheo-reom itu sebenarnya produk lama. Film tersebut dirilis 2009. Entah mengapa baru sekarang, 2011, film itu diputar, saya tidak mau tahu. Kisah percintaan dengan latar belakang konflik Korea-Jepang tahun 1850-an yang dibumbui pertempuran pedang ala video game cukup menghibur. Meskipun agak-agak ‘lebay’ juga saat duel dua tokoh Moo-myeong (Seung-woo Cho) dan Noe-jeon (Jae-woong Choi) setidaknya alur ceritanya masih bisa diterima akal.

Barangkali anda bertanya mengapa di atas saya katakan tidak sengaja menonton film Korea. Saya bilang begitu karena saat datang ke gedung bioskop bersama istri, saya tidak tahu film apa yang sedang diputar dan memang tidak ada rencana mau nonton film tertentu. Pokoknya kami ingin nonton. Masalah film apa yang akan ditonton, tinggal dilihat dan dipilih kalau sudah sampai di gedung bioskop. Ada beberapa pilihan film yang bisa ditonton tetapi sayangnya jam mulai tayangnya sudah dari tadi. Di antara film-film yang sudah main itu, ada dua film yang diputarnya belum terlalu lama sekitar 15 menit yaitu ? (Tanda Tanya) dan The Sword with No Name. Dari dua pilihan itu saya kemudian memutuskan menonton film yang kedua. Setelah tiket ada di tangan, segera saya masuk. Meskipun sudah ketinggalan cerita selama 15 menit tetapi masih bisa ditebak-tebak cerita dari film tersebut. Begitu duduk dan memandang layar, barulah saya sadar kalau film yang diputar ternyata produk Korea, dan ini merupakan kali pertama saat menonton film Korea. Dari iklan film yang beberapa hari sebelumnya saya lihat di surat kabar, saya pikir film tersebut adalah film Jepang atau Hongkong yang diproduksi Hollywood. Ternyata perkiraan saya itu salah.

Saya bukannya tidak nasionalis bila mengatakan film produksi Korea yang saya tonton itu lebih bagus dari film-film kita. Apalagi jika dibandingkan dengan film lokal yang tokoh utamanya semacam pocong-pocongan atau suster tapi ngesot, jauh banget. Bukan berarti pula saya tidak cinta produk negeri sendiri bila saya lebih memilih The Sword with No Name daripada ? (Tanda Tanda) yang disutradarai Hanung Bramantyo. Bahkan, sekalipun film tersebut menuai kontroversi karena dianggap mengajarkan kemurtadan. Untuk masalah kualitas film, saya tetap berusaha bersikap obyektif meskipun tidak tertutup kemungkinan akan subyektif juga.

Intinya, ternyata memang benar pepatah “tidak kenal maka tak sayang”. Film bioskop produksi Korea ternyata cukup bagus juga. Entah dengan drama-drama Korea yang sering diputar di televisi dan kerap kali diperbincangkan orang khususnya para abg. Suatu saat, saya pasti akan sengaja datang ke bioskop untuk nonton film Korea. Bukan nonton karena tidak sengaja seperti yang terjadi dengan The Sword with No Name alias Bool-kkott-cheo-reom Na-bi-cheo-reom, atau Pedang Tanpa Nama.

Sumber gambar: di sini

5 COMMENTS

  1. spertinya memang seru, tp kadang knp film korea yg dtang ke indo slalu sejenis atau hmpir semua genrenya semacam kolosal atau pertempuran? 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here