hai bogorBogor gitu lho! Siapa sih yang tidak kenal Bogor? Saya tidak sedang berlagak karena menjadi orang Kota Hujan ini. Saya juga tidak ada maksud menyombongkan Bogor sebagai sebuah tujuan wisata yang dikenal bukan hanya di negeri sendiri tetapi juga sampai manca negara. Kalaupun kesan yang anda dapat saat membaca awal paragraf ini adalah ungkapan sebuah arogansi atau anda menjadi tidak nyaman, saya bisa memaklumi. Untuk itu, saya mohon maaf.

Sebagai penghuninya meski bukan asli orang Bogor, saya hanya merasa wajib mengucapkan terima kasih untuk kota yang begitu indah ini. Selain itu, saya juga perlu menyampaikan dukungan terhadap kondisi Bogor yang sudah jauh berubah dibandingkan dulu saat pertama masuk Bogor dan beberapa tahun kemudian. Karena saya hanya seorang rakyat jelata, dukungan yang bisa saya berikan hanyalah sebentuk puisi. Bila anda menilai puisi yang sebenarnya saya tulis 14 Oktober 2011 ini adalah sebuah bentuk keprihatinan, bolehlah.

 

BOGOR

hai Bogor
senang ketemu lagi dengan dirimu
kulihat kau nampak sendu
apa yang terjadi jika boleh tahu?
barangkali saya bisa membantu
meski tidak semua
setidaknya dapat mengurangi yang kau rasa
kuingin lihat kau kembali ceria
seperti sedia kala

hai Bogor
aku maklum dengan keadaanmu sekarang
bukan hal yang mudah memang
menghadapi tingkah polah para pemberang
satpol PP dan pedagang berperang
pemimpin membuat masyarakat mengerang
wakil rakyat bersenang-senang menggunakan uang terlarang
angkot semrawut berlalu-lalang
pengendara tak peduli tilang
berbagai masalah muncul tak terbilang

hai Bogor
bagaimana kabar kebun raya?
kebun indah di tengah kota
menjadi tujuan utama wisata
para pelancong berdatangan dari segala penjuru dunia
aku masih ingat saat-saat di dalamnya yang menyenangkan
berjalan menikmati segala keindahan
menghirup rakus udara kemewahan
di tengah polusi kota, hadirmu tak tergantikan

hai Bogor
dulu aku kedinginan saat harus bangun pagi
selimut tebal yang membungkus tubuhku tak mampu menandingi
dalam siksaan dingin paru-paruku penuh udara segar
seluruh tubuh menggigil menggelepar
sementara itu
di rerimbun pohon gandaria di sebelah bangku batu
suara kutilang dan jalak begitu merdu
menimpali dengung serangga penghisap madu

hai Bogor
jika kau kegerahan aku maklum
dirimu sekarang memang sudah berbeda
dulu hanya sekali dua dalam sehari aku minum
saat ini setiap jam hadir rasa dahaga
mereka bilang sedang terjadi pemanasan global
belahan bumi manapun termasuk dirimu tak kan kebal
apalagi sekarang banyak bermunculan manusia bebal
berujud penguasa
berwajah tokoh agama
berupa wakil rakyat
berbentuk politisi bejat
bertopeng ilmuwan sesat pikiran
berseragam pelajar ahli tawuran
Bogor, nasibmu malang nian

hai Bogor
sebelum aku meninggalkanmu
kutinggalkan sebuah doa untukmu
bukan doa berpanjang-panjang tak menentu
atau doa pendek yang itu-itu
aku juga ingin mengungkapkan rasa
dirimu bagiku tak sedikit berjasa
saat pertama kali kudatang
hingga sekarang
kecantikanmu kan terus membayang
kau kan selalu kukenang

Cikiray, 14/10/2011
WKF

Sumber gambar: koleksi pribadi

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here