Kali ini saya akan mengolok-olok diri sendiri. Andapun kalau mau juga tidak dilarang. Silakan. Cerita ini tentang ‘kendesoan’ saya terhadap teknologi, lebih spesifik lagi tentang fasilitas yang ditawarkan atau yang ada pada sebuah laptop.

Saya beli laptop dan memakainya sudah berbulan-bulan meski belum sampai setahun. Semua pekerjaan kantor yang saya bawa pulang dan urusan lain seperti ngeblog, hahahihi di Facebook maupun Twitter juga saya lakukan di laptop ini. Hanya saja, ada satu pekerjaan yang kadang saya malas lakukan karena merepotkan, yaitu memindah foto dari kamera ke laptop. Mengapa merepotkan? Bagaimana tidak repot jika setiap kali memindahkan foto selalu harus menyambungkan kamera dengan laptop menggunakan kabel data? Mana koneksinya suka lama lagi. Hingga yang saya lakukan bila harus mentransfer foto dari kamera ke laptop, menunggu fotonya terkumpul banyak dulu baru dipindahkan. Sayangnya, kadang cara itu tak bisa saya lakukan karena foto yang ada di kamera saya butuhkan segera. Jika sudah begitu, mau nggak mau kerepotan itu saya ulangi lagi.

Suatu malam, teman-teman gila saya berkumpul di teras rumah. Tak ada agenda khusus, hanya ngobrol ngalor-ngidul sebagaimana biasa dilakukan di hari-hari sebelumnya. Selain berbincang dan bercanda, ngopi, juga sambil menghadapi laptop dan netbook. Maklum, namanya juga kumpulan blogger, ke mana-mana  selalu bawa senjata andalannya itu. Di antara berisik obrolan para sahabat yang juga sambil ngopi dan ngetik itu, saya perhatikan salah satunya sedang memasukkan kartu memori ke lubang yang ada di netbooknya. Dia akan memindahkan foto-foto yang ada di dalam kartu tersebut ke dalam netbook. Melihat hal itu, saya jadi berpikir. “Kalau di netbook saja ada pembaca kartu memori, masak di laptop nggak ada?”, begitu kata saya dalam hati. Segera saya periksa laptop yang sudah berbulan-bulan saya pakai, mencari lubang untuk memasukkan kartu memori. Alamak, dugaan saya benar. Di sisi depan agak ke bawah terdapat lubang pembaca kartu memori, dan lubang itu saya biarkan nganggur berbulan-bulan tak terpakai.

Beginilah blogger ndeso, punya peralatan canggih tapi dianggurkan. Istilah yang lebih tepat barangkali bukan dianggurkan tetapi tak dipakai karena kebodohan sendiri. Seandainya dari awal saya bertanya ke siapapun, pasti dari sejak awal memiliki laptop tersebut saya tak perlu repot-repot mencari kabel data untuk menghubungkan kamera ke laptop dan bengong menunggu proses pemindahan foto yang berlangsung lama. Jelas lebih lama jika dibandingkan dengan memindahkan foto dari kartu memori langsung ke laptop melalui pembaca kartu memori.

Peribahasa ‘malu bertanya sesat di jalan’ sangat cocok untuk yang saya alami ini. Gara-gara tak mau bertanya, selama berbulan-bulan repot sendiri setiap kali memindahkan foto. Eh, bagaimana mau bertanya jika tak tahu apa yang ditanyakan? Benar, saya bukannya tidak mau menanyakan perihal keberadaan pembaca kartu memori di laptop. Masalahnya, saya sama sekali tidak memiliki pikiran bahwa di laptop saya ‘mungkin’ ada pembaca kartu memorinya. Baru ketika melihat teman yang memindahkan foto dengan menyisipkan kartu ke dalam pembaca kartu memori di netbooknya, pikiran itu muncul. Bagaimanapun juga pikiran itu tidak muncul bukan karena laptopnya yang jelas-jelas ada pembaca kartu memorinya tetapi semata-mata karena ‘kendesoan’ saya.

Sumber gambar: di sini

11 COMMENTS

  1. @Cakra: Masuk ke akunmu di twitter.com terus lihat bagian kiri bawah. Klik Resources (yang diapit oleh Apps dan Jobs). Nanti akan muncul tiga pilihan: Twitter Buttons, Widgets, Logos & Icons. Pilih Widgets terus ikuti langkah-langkahnya sesuai petunjuk yang ada di situ. Selamat mencoba. 😉

  2. Kadang ada hal yang lucu juga di kita ini, tidak terkecuali jg saya, tentu lega setelah menemukan pembaca kartu memori-nya di laptop ya kang. Smoga sukses selalu kang….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here