Ada kejadian menggentarkan pada saat pendakian ke Puncak Gede kemarin. Saya menghadapinya di pekat malam hanya diterangi lampu senter. Peristiwa yang barangkali akan membuat sebagian pendaki membatalkan pendakiannya. Selain itu, ada kejutan di pos penjagaan setelah turun gunung. Benar-benar sebuah pendakian yang amat-amat-amat berkesan.

Sebelum panjang lebar saya cerita untuk anda, mungkin dari anda ini ada yang tanya mengapa saya memberi judul seperti itu. Kenapa menggunakan bahasa Inggris? Saya bukan tidak nasionalis. Hanya saja, saya merasa dengan menggunakan bahasa Inggris judulnya menjadi lebih ringkas dan bisa mewakili apa yang ingin saya maksudkan. Sebenarnya bisa saja judul itu menjadi Pendakian Terakhir sebagai Perpisahan yang Diberkati. Namun bagi saya, judul itu terlalu panjang dan yang pasti saya tidak ‘sreg’.

Kemudian saya akan jelaskan satu persatu alasan saya menjuduli (he…he…he… lucu juga kata itu) tulisan ini seperti tersebut di atas. Pertama, kenapa pendakian terakhir (last)? Karena setelah pendakian itu saya tidak naik gunung manapun lagi kecuali Gunung Agung (toko buku), Gunung Batu (di Bogor), Gunung Sahari (di Jakarta), dan gunung kembar di rumah (ih, vulgar ya?). Saya tahu keputusan ini mengecewakan sahabat-sahabat saya. Sorry guys. Kedua, mengapa pendakian perpisahan (farewell)? Karena pendakian ke Gede kemarin sekaligus sebagai perpisahan kepada seluruh gunung di jagat ini, baik yang pernah maupun belum saya daki. Ketiga, dan ini yang seru, kenapa saya taruh kata diberkati (blessed) dalam judul tulisan ini? Saya tidak jelaskan sekarang. Anda akan menemukan nanti setelah anda baca sampai di ujung tulisan.

Saya mulai saja cerita ini…

29/5/2009
Entah sudah yang keberapa Gunung Gede saya daki. Pendakian kali ini dilakukan dengan persiapan minim. Pertemuan untuk membahas rencana hanya diadakan sekali. Itupun tidak semua hadir dan dilaksanakan seminggu sebelum pendakian. Pengumpulan fotokopi ktp sebagai syarat pendaftaran dilakukan melalui email ke salah satu peserta bernama Idan. Dia ini memiliki tante yang bekerja di Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai tempat yang mengeluarkan ijin pendakian.

Meeting point yang disepakati dalam pertemuan adalah di depan Gramedia seberang Masjid Raya Bogor jam 16.30 wib. Namun pada hari H-nya, rencana berubah. Tempat ngumpulnya tidak jadi sebagaimana direncanakan semula tetapi diganti di depan kantor pos Cipanas.

Jumlah peserta yang tadinya sembilan menyusut jadi lima orang. Ada bermacam alasan dan ada juga yang tidak memberi kabar mengapa tidak jadi ikut. Apapun penyebabnya saya memaklumi. Namun bagi mereka yang tidak jadi ikut bersenang-senang, ataupun anda, ada ungkapan bagus yang perlu disimak kemudian diingat-ingat. Sampai kapanpun.

  1. Bila anda selalu mengatakan sibuk, maka anda tidak akan pernah bebas.
  2. Bila anda selalu mengatakan tidak memiliki waktu, maka tidak akan pernah ada waktu luang buat anda.
  3. Bila anda selalu mengatakan akan mengerjakannya besok, maka besok anda itu tidak bakal datang.

Anda boleh percaya boleh tidak tetapi tidak ada ruginya anda renungkan ungkapan di atas.

Lima orang peserta yang akhirnya berangkat adalah saya, Fajar, Idan, Ade, dan Faisal (Ical). Tadinya saya dan Fajar akan berangkat bareng langsung setelah pulang kantor dan ketemu peserta lain di tempat yang disepakati saat pertemuan. Namun saya dapat sms dari Idan mengabarkan bahwa dia, Faisal, dan Ade akan langsung berangkat ke Cibodas untuk mengambil surat ijin pendakian. Saya diminta langsung berangkat saja ke Cipanas dan nanti ketemuan di pertigaan menuju Kebun Raya Cibodas.

Jam pulang kantor 16.00 wib. Saya dan Fajar yang sekantor ternyata tidak dapat langsung berangkat tetapi molor sampai 16.45 wib. Karena rencana ketemu di depan Gramedia dibatalkan, maka saya dan Fajar naik angkot 05 kemudian turun di Tugu Kujang. Dari situ selanjutnya jalan ke arah jembatan penyeberangan. Persis di bawah jembatan itu angkutan yang akan saya naiki sudah menunggu.

Untungnya saya tidak perlu menunggu lama. Ketika saya datang, angset sudah hampir penuh. Begitu berada di atas kendaraan, tidak lama kemudian datang penumpang lain. Angset menjadi penuh. Sebelum berangkat, seluruh penumpang dimintai ongkos. Ternyata ongkos yang harus dibayar dipukul rata sama dengan ongkos tujuan terjauh yaitu Cianjur. Saya harus membayar Rp.15.000 meskipun hanya sampai Cipanas. Nggak tahulah rumus dari mana untuk menghitungnya. Rupanya cocok juga dengan julukannya yang sering disebut angset atau angkutan setan, selain cara nyopirnya ngebut, cara menentukan tarif juga ngawur sehingga para penumpang harus membayar angkutan setan yang nyopirnya kaya setan dengan tarif setan. Benar-benar setan!

Angset menjadi penuh dan langsung berangkat. Jam menunjukkan pukul 17.30 wib. Sebagaimana sebutannya, kendaraan itu langsung ngebut kesetanan. Saya duduk tenang menikmati perjalanan. Tanpa terasa angset sudah memasuki perkebunan teh di daerah Puncak. Tiba-tiba hp saya berbunyi. Ada sms masuk. Idan minta pertimbangan bagaimana bila pertemuannya diubah, bukan di pertigaan Cibodas tetapi di depan kantor pos Cipanas. Langsung saya iyakan usulan dia. Ketika sampai di pertigaan Cibodas, Fajar yang duduk di dekat sopir menoleh ke belakang. Dia bingung kok saya tidak menyuruh sopir berhenti. Rupanya sms yang saya kirimkan ke dia bahwa tidak jadi berhenti di Cibodas belum dia baca. Saya yang ada di bangku baris kedua dari belakang berteriak, “Berhenti di Cipanas pir!”

Kantor pos Cipanas tidak begitu jauh dari pertigaan Cibodas. Sekitar 10 menit kendaraan sudah memasuki pasar Cipanas. Angset berhenti hendak menurunkan saya dan Fajar. Buru-buru saya katakan bahwa saya ingin berhenti di depan Istana Cipanas. Itu artinya, angset harus melewati pasar Cipanas dulu.

Saya tidak tahu persis apakah kantor pos dekat dengan istana, tetapi yang saya ingat setiap turun dari Gunung Gede, saya selalu menunggu bis menuju Bogor di dekat Istana Cipanas. Dan ternyata kantor pos ada di sebelah kiri istana. Perkiraan saya ternyata tidak meleset. Ketika turun dari angset di seberang Istana Cipanas dan kemudian bertanya ke tukang ojeg di mana letak kantor pos, dia menunjuk bangunan di seberang jalan persis di dekat istana. Jam tangan saya menunjukkan pukul 18.55 wib.

Di depan kantor pos belum ada Idan, Ade, maupun Faisal. Ketika saya sms, rupanya mereka masih berada di rumah tante Idan di dekat pertigaan Cibodas. Mereka minta maaf datang terlambat karena, katanya, dipaksa makan dulu. Sayang di tempat saya menunggu tidak ada orang yang memaksa saya untuk makan. Tadinya sambil menunggu, saya dan Fajar ingin makan malam dulu, tetapi kemudian saya batalkan. Nanti saja setelah sampai di Gunung Putri, juga karena belum begitu lapar.

Iseng-iseng saya bertanya ada tidaknya angkot menuju Gunung Putri ke seseorang yang lagi ngobrol dengan temannya di dekat saya berdiri. Katanya jam segitu sudah tidak ada angkot ke Gunung Putri, kalau mau, saya bisa naik angkot jurusan Pasir Kampung yang kemudian diminta mengantarkan ke Gunung Putri. Tarif normal menuju Pasir Kampung atau ke Gunung Putri Rp. 4.000. Bila angkot Pasir Kampung diminta mengantar ke Gunung Putri dengan dibayar Rp. 10.000, termasuk murah dan nyaman bila dibandingkan dengan ojeg yang Rp. 15.000 untuk tujuan sama. Saya sudah berniat mengikuti saran orang itu bila Idan dan rombongannya datang.

Saat Idan cs datang, tidak lama kemudian ternyata ada angkot jurusan Gunung Putri. Segera angkot itu saya datangi dan bertanya ke sopir berapa ongkosnya. Ketika dia menjawab Rp. 5.000 saya setujui tanpa menawar lagi. Ini kemudahan pertama yang saya rasakan. Yang tadinya saya masih belum kebayang bagaimana menuju desa Gunung Putri di malam hari, saat itu saya diberi angkot yang langsung menuju ke desa yang ada di kaki Gunung Gede dengan tarif yang wajar meskipun seribu rupiah lebih mahal.

Sampai di Gunung Putri, yang dituju pertama kali adalah warung. Saya mau meminta tukang warung memaksa saya untuk makan. Awalnya mau menuju warung Nona Mini yang menjadi langganan setiap akan naik atau turun dari Gunung Gede. Warung yang ada di pinggir jalan itu rupanya sudah tutup. Barangkali sudah terlau malam. Untungnya warung yang ada di tanjakan menuju jalur pendakian masih buka. Untungnya juga, penunggunya dua orang gadis, cantik-cantik lagi. Apalagi yang pakai kaus putih. Padahal perut saya yang lapar lho, kok matanya jadi ikut lapar? Ah, dasar mata keranjang saja!

Di warung itu sudah ada rombongan pendaki lain yang juga mengisi perut. Beberapa di antaranya ternyata sudah berumur. Sambil mengepalkan tangan kanan dan menyodok ke belakang, saya berbisik ke Fajar, “Yes, ternyata ada yang lebih tua dari saya.” Bila di mata para mahasiswa saya dianggap tua dan cocok bila jadi bapak mereka, para pendaki senior itu di mata saya cocok jadi bapak saya. Luar biasa. Salah satunya adalah seorang bapak yang banyak omong yang duduk di dekat saya. Ketika saya tanya dari mana, dia menjawab dari Mapala UI. Ternyata dia sudah dua puluh tahun tidak naik gunung dan baru sekarang naik lagi untuk bernostalgia. Dia seorang pengacara, pantesan bawel. Bapak itu malah sempat ngecengin temannya yang juga seumuran dengan dia. Katanya, “Sampai di atas, jangan-jangan asma lu entar kambuh, lalu bablas.” Teman yang diledek itu hanya tertawa ngakak. Guyonan sahabatnya itu dianggapnya lucu. Dia juga dengan bawelnya mempromosikan usaha teman mudanya yang berjualan peralatan petualangan yang baru buka satu minggu.

Selesai mengisi perut, saya dan Fajar menuju ke masjid untuk menjamak sholat magrib dan isya. Berdoa mudah-mudahan perjalanan lancar dan selamat. Sementara itu, bapak bawel dan timnya masih asyik saling ledek-ledekan di warung. Sepulang dari masjid, perbekalan diberesi. Warung sudah kosong. Rombongan senior rupanya sudah berangkat. Jam 21.00 wib saya berlima kemudian berangkat menyusul mereka.

Sampai di pos penjagaan, saya melapor dulu. Surat ijin yang dibawa Idan kemudian diserahkan ke petugas. Saat saya tanya tentang rombongan bapak bawel, katanya mereka baru saja meninggalkan pos. Saya yakin mereka pasti kesusul. Ternyata benar. Mereka kesusul ketika mereka sedang beristirahat di warung pinggir jalur pendakian yang hanya buka di hari Sabtu dan Minggu saat rame pendaki. Saya menyapa mereka sambil melewatinya.

Di sungai kami mengisi air untuk bekal sampai ke Alun-alun Suryakencana. Sungai itu merupakan satu-satunya yang ada di jalur pendakian dan baru akan ketemu air lagi bila tiba di alun-alun. Setelah botol-botol kosong terisi penuh, kami beristirahat sebentar. Sebagian anggota rombongan yang tadi kami lewati telah menyusul. Tidak lama kemudian datang lagi tiga orang yang salah satunya ternyata bapak bawel. Kami masih melanjutkan istirahat untuk beberapa saat.

Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Malam itu benar-benar menyenangkan. Setelah sesore hujan diturunkan, cuaca sekarang begitu cerah. Di langit bulan sabit sudah muncul. Bintang-bintang juga tidak mau kalah. Ribuan bintang berpendaran menghiasi langit malam yang pekat. Ini berkah lain yang saya nikmati dalam pendakian kali ini. Bulan Mei yang buat sebagian orang dihindari karena takut kehujanan di gunung, malam itu sama sekali tidak ada hujan. Bukannya dihujani sepanjang jalan, kami malah dipayungi dengan langit malam dengan pernik-pernik bintang plus bulan sabit yang cantik. Cahaya mereka tidak sampai menerangi bumi memang, tetapi setidaknya perjalanan kami menjadi nyaman tanpa guyuran air hujan.

Saya terus bersyukur menikmati limpahan berkah malam itu. Meskipun berjalan pelan saya yakin pasti akan sampai juga ke atas. Sungai tempat mengambil air belum terlalu jauh saya tinggalkan. Gemericik airnya masih kedengaran. Begitu menyeberangi sungai, jalan mulai menanjak. Langkah kaki ini menapak dengan pelan di atas jalan tanah berbatu. Dari jauh terlihat ada dua sorot cahaya lampu senter. Pasti mereka dari kelompok bapak bawel yang tadi mendahului saya saat berada di sungai, begitu pikir saya. Barangkali mereka sedang beristirahat. Semakin dekat jarak saya dengan mereka, makin jelas siapa mereka. Dugaan saya benar. Mereka adalah tiga orang dari kelompok bapak bawel. Ternyata mereka tidak istirahat. Sesuatu sedang terjadi. Mengapa salah satu dari mereka tiduran miring di atas jalan tanah yang tidak rata dan bagian kepalanya nyungsep di rerumputan?

Tidak mungkin bila istirahat seperti itu. Pasti ada yang tidak beres. Apalagi dua temannya yang lampu senternya tadi saya lihat dari jauh sedang berusaha mengangkat dia. “Ada apa pak?” Tanya saya ketika sudah dekat. Salah satu dari mereka kemudian menjawab, “Tolongin pak, tolongin pak.” Sesuatu sedang terjadi. Yang tergolek miring ternyata bapak bawel. Badannya tinggi besar sehingga terlalu berat buat dua temannya untuk mengangkat. Kami semua menurunkan bawaan. Fajar dan Faisal segera membantu mengangkat untuk dipindah ke tempat yang lebih datar. Bapak bawel bibirnya sudah pucat. Detak nadinya ketika saya pegang sudah sangat lemah. Idan kemudian menyusul rombongan bapak bawel untuk menginformasikan keadaan. Tidak lama kemudian datang satu orang. Setelah memeriksa kondisi korban, dia segera memberikan bantuan pernapasan atau CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). Sementara itu salah satu dari teman bapak bawel yang tadi ikut memindahkan tubuh korban segera turun ke pos penjagaan untuk meminta bantuan.

Beberapa kali CPR dilakukan sambil menunggu bantuan datang. Rupanya kondisi bapak bawel sudah parah. CPR yang berkali-kali dilakukan tidak memberikan hasil. Bibirnya membiru, badannya mulai dingin. Kami tidak bisa berbuat apa-apa hanya doa dan CPR yang bisa diberikan.

Bantuan segera datang. Mereka adalah para petugas yang standby di pos penjagaan. Sayangnya tidak ada tandu di pos penjagaan sehingga korban terpaksa dibawa dengan digendong menggunakan sarung oleh salah satu dari mereka yang badannya gede.

Singkat cerita, si korban berhasil diturunkan. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya? Aaah… kenapa pendakian terakhir saya ini dihiasi dengan berita yang saya terima ketika saya turun dua hari kemudian. Ternyata bapak bawel yang baru saya kenal saat itu tidak tertolong. Nyawanya dia serahkan kembali kepada Yang Kuasa ketika hendak mengulang kisah manis berpetualangan yang 20 tahun lalu pernah dia lakukan. Innalilahi wa innailaihi roojiuun. Selamat jalan kawan. Semoga semua orang yang menyayangi anda diberi ketabahan atas kepergianmu.

Seluruh anggota rombongan bapak bawel malam itu akhirnya turun semua. Mereka membatalkan pendakian. Saya sendiri kepada petugas menyatakan akan tetap melanjutkan perjalanan. Mereka tidak menghalangi, hanya berpesan agar berhati-hati dan juga mengucapkan selamat jalan. Apapun yang terjadi tim saya harus jalan terus. Tragedi yang barusan saya hadapi di gelap malam dan hanya mengandalkan sorot cahaya senter adalah bagian dari konsekuensi yang akan diterima oleh siapapun yang mendaki gunung. Kenapa harus dikhawatirkan? Saya merasa semua persiapan telah dilakukan dengan sempurna. Jadi, gak ada masalah toh bila diteruskan? Ternyata saya salah. Rupanya faktor U tidak bisa begitu saja saya abaikan.

Apa itu faktor U? Umur atau usia cing! Sudahlah tidak usah ketawa ngeledek begitu. Yang pasti saya merasa masih muda, apalagi bila dibandingkan bapak saya, lebih-lebih kakek saya. Untuk yang satu ini, anda harus setuju dengan saya. Rencana boleh sempurna. Semangat boleh membara. Namun, sesemangat-semangatnya saya, faktor umur tidak bisa dibohongi. Perjalanan menuju Alun-alun Surya Kencana (Surken) yang saya tempuh dari Desa Gunung Putri saya lakukan dengan penuh perjuangan. Saya harus berjalan lebih lambat dan lebih banyak istirahat. Di setiap 15 menit perjalanan mendaki, saya akhiri dengan istirahat yang bisa sampai 30 menit. Malahan bukan hanya sekedar istirahat duduk-duduk doang tetapi bahkan kadang-kadang tidur. Makanya tidak heran bila berangkat dari bawah jam 21.00 wib, baru sampai Pos 1 sudah pukul 23.10 wib. Itu pula sebabnya Surken baru berhasil saya capai hampir 11 jam 12 menit kemudian atau tepatnya jam 8.12 wib esok harinya.

30/5/2009
Perjuangan masih berlanjut. Saya terkapar di hamparan rumput yang meranggas di Surken. Ujung timur Surken telah saya capai setelah melewati malam panjang perjalanan di medan terjal mendaki nan gelap gulita. Nafas saya ngos-ngosan, tetapi saya gembira. Saya telah diberi kesempatan kembali bertemu dengan padang edelweis yang elok. Itulah upah yang saya peroleh atas jerih payah saya selama 11 jam lebih. Matahari pagi menyambut kehadiran saya dan teman-teman. Sejenak kami beristirahat sambil menikmati hangatnya mentari dan indahnya pemandangan. Meskipun berkali-kali tempat itu saya datangi, saya tidak pernah bosan sedikitpun dengan pesona keindahannya yang luar biasa.

Perjalanan dilanjutkan. Alun-alun Surya Kencana saya lalui dengan jalan perlahan. Santai. Saya tidak mau indahnya belantara edelweis berlalu begitu cepat. Cuping hidung saya buka lebar-lebar untuk meraup oksigen yang dijamin bebas polusi. Saya hisap pelan-pelan, dalam-dalam. Saat seperti ini sangat jarang bisa saya temui. Mumpung banyak udara bersih, gratis lagi, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan menghirupnya. Ini kesempatan langka kawan.

Tujuan perjalanan adalah ujung barat Surken. Di tempat itu kami mengambil air. Jirigen dan tempat air lain yang masih kosong diisi semua. Dari ujung barat itu, perjalanan ke Puncak Gede cukup ditempuh dalam waktu 30 menit. Tetapi khusus untuk saya, saya mendapat bonus tambahan waktu 35 menit. Jadi, waktu yang saya butuhkan untuk sampai di puncak 65 menit alias satu jam lebih lima menit. Sekali lagi, faktor U. Nafsu boleh besar, tetapi onderdil sudah tidak mendukung lagi.

Semua tempat air telah terisi. Tetapi kami tidak langsung mendaki ke Puncak Gede. Di bawah bayang-bayang pepohonan yang cukup teduh, empat matras dibuka dan disatukan. Perbekalan kemudian dikeluarkan untuk membuat sarapan. Dua nasi bungkus yang saya dan Fajar beli ketika akan naik kemarin juga dibuka. Ditambah dengan mi instan rebus panas dan orek tempe, dua bungkus nasi itu lalu dibabat habis berlima. Selanjutnya adalah istirahat. Kesempatan itu digunakan untuk tidur. Kecuali saya yang sudah lumayan tidurnya ketika perjalanan tadi malam, keempat teman saya ini benar-benar tidur pulas. Saya yakin mereka kecapaian, apalagi si Idan. Ada bom meledakpun barangkali tetap ngorok. Sinar matahari yang begitu menyengat saja tidak dia rasakan. Padahal tempat di mana dia tidur sudah tidak teduh lagi. Bayangan pohon sudah bergeser menjauhi dia. Lama-lama bisa crispy alias renyah tuh badan. Sudah paling kecil crispy lagi… haiyah! Emang kripik kentang?

Jam 11.45 wib, pendakian ke Puncak Gede dimulai. Badan rasanya dah pada seger tuh keliatannya setelah cukup lumayan lama tidurnya. Terutama si Idan, dia itu seperti boneka mainan yang abis di-charge baterainya. Hampir sama seperti waktu jalan tadi malam, saat ini pendakian dilakukan dengan santai. Selain karena tidak tergesa-gesa, yang penting nyampe, sekali lagi, juga karena faktor U.

Alhamdulillah, jam 12.50 wib, Puncak Gede berhasil dicapai. Dengan stamina yang sangat baik, kami merayakan keberhasilan ini dengan foto-foto dan menikmati sebotol jus apel yang tidak lupa selalu saya bawa dalam setiap pendakian. Biarlah orang lain merayakan dengan caranya masing-masing, termasuk minum champagne atau bir, saya lebih suka dengan menikmati jus buah yang halalan toyyiban. Barangkali karena sampai di puncak sudah jam segitu, kaldera dan kawah Gunung Gede yang dahsyat sama sekali tidak kelihatan karena tertutup kabut. Saya tidak kecewa karena pasti akan bisa menyaksikannya besok pagi. Malam itu kami akan berkemah di Puncak Gede, di sebelah bibir kawah. Sangat fantastik!

Malam di Puncak Gede sangat menyenangkan. Udara dingin yang saya khawatirkan karena berkemah di tempat yang paling tinggi itu ternyata tidak terjadi. Bisa dibilang sangat nyaman malam itu. Kantong tidur yang setia menemani saya di setiap pendakian berhasil menghangatkan saya. Sayangnya, lokasi berkemah tidak nyaman untuk membuat api unggun. Tempat api unggun terlalu dekat dengan tenda sehingga saya menyarankan terutama Idan yang hobi bakar-bakaran untuk benar-benar berhati-hati ketika menyalakan api unggun. Bisa-bisa apinya menyambar tenda bila datang angin kencang. Kan nggak lucu bila tenda yang menjadi pelindung dari kabut, hujan, angin dan udara dingin habis dilahap api. Mau tidur di mana kita?

Karena tempatnya yang tidak nyaman, akhirnya membuat api unggunnya hanya sebentar. Jam 21.00 wib semua pada masuk tenda. Makan malam yang dinikmati sebelum menyalakan api unggun tadi telah membuat mata menjadi berat. Rasanya nikmat sekali bila bergulung di dalam kantong tidur, apalagi kantong tidur saya tadi sempat saya masuki botol kaca kecil berisi air panas. Hmm… kaki terasa hangat.

Penyebab lain yang membuat berakhirnya pesta api unggun adalah datangnya gerimis. Entah memang gerimis, atau karena kabut yang tebal yang kemudian menjadi titik-titik air. Dan gerimis itu adalah satu-satunya yang dicurahkan sejak di hari pertama pendakian sampai hari kepulangan kami.

31/5/2009
Pagi-pagi saya sudah bangun. Udara yang tidak terlalu dingin tadi malam menyebabkan saya tidur pulas. Perkiraan saya kemarin ketika sampai di puncak bahwa kaldera dan kawah akan terlihat pagi ini ternyata terbukti. Tidak ada kabut yang menutupinya. Begitu luar biasa pemandangan yang terbentang di depan saya. Sementara pendaki lain yang berdiri beberapa meter dari tempat saya terlihat sebagai siluet. Langit pagi masih gelap. Matahari belum muncul begitu sempurna. Awan tebal menutupi sinar matahari pagi yang mulai terbit. Inilah Puncak Gede dan sinar mentari pagi yang akan saya tinggalkan untuk selamanya. Kawan, saya akan pensiun dari pendakian gunung setelah ini. Di Puncak Gede inilah saya ikrarkan pensiun saya.

Banyak berkah dalam pendakian terakhir saya ini. Bulan Mei yang dikhawatirkan banyak pendaki sering turun hujan ternyata sama sekali tidak hujan. Taman edelweis, terutama di ujung timur Surken, bunganya bermekaran begitu indahnya. Puncak Gede yang biasanya begitu dingin, saat itu sangat nyaman. Angin kencang dan kabut tebal yang sering hadir di Puncak Gede, tidak muncul selama saya ada di sana. Masih kurang apalagi? Masa pensiun saya diakhiri dengan pendakian yang sukses gilang-gemilang. Saya harus bersyukur dengan semua ini.

Jam 9.30 wib kami turun dari Puncak Gede setelah sarapan dan puas menikmati semua keindahan yang ada di puncak: sunrise, kaldera, kawah, gumpalan awan, dan Gunung Pangrango yang terlihat jelas. Hanya dibutuhkan waktu 35 menit untuk mencapai ujung barat Surken. Kami sempat berfoto-foto sebentar ke tempat itu sebelum melanjutkan perjalanan menuju ujung timur Surken. Kami turun kembali melalui jalur yang dua hari lalu kami daki, menuju Desa Gunung Putri.

Bila keadaan jalan datar atau menurun, faktor U tidak berpengaruh. Beda ketika mendaki. Saya bahkan kadang lari ketika turun gunung. Serius! Makanya saya bisa lebih cepat sampai, malahan bisa kurang dari separoh waktu yang dibutuhkan ketika mendaki.

Jam 10.40 wib sudah sampai di ujung timur Surken. Setelah beristirahat sebentar dan merapikan bawaan, perjalanan dilanjutkan. Jam 14.00 wib saya sudah sampai di sungai. Anda lihat? Saya hanya butuh waktu 3 jam 20 menit untuk berjalan dari ujung timur Surken sampai sungai. Sementara ketika saya mendaki dua hari sebelumnya, dari sungai menuju ujung timur Surken, saya perlu waktu kurang lebih 10 jam. Di sungai itu saya beristirahat sambil menunggu Faisal, Fajar, Idan, dan Ade yang masih ada di belakang. Di tempat itu pula saya sempatkan sholat. Setelah semua tiba dan selesai berbenah, perjalanan dilanjutkan menuju pos penjagaan. Di pos itulah kejutan telah menanti saya.

Pukul 14.45 wib kami sudah mencapai pos penjagaan. Di tempat itu sudah ada rombongan yang tadi melewati saya ketika berada di sungai. Mereka sedang beristirahat sambil menunggu carrier dan backpack mereka diperiksa petugas. Para relawan yang menjadi petugas mengecek dan mencari-cari barang-barang yang dilarang untuk dibawa seperti sabun, odol, shampo, atau bunga edelweis yang haram untuk dipetik dan dibawa pulang sebagai suvenir. Setelah semua tas diperiksa dan mempersilakan mereka turun, sekarang giliran tas-tas kami yang diperiksa. Saya hanya berharap mudah-mudahan para petugas itu tidak menemukan apa yang mereka inginkan. Kami tetap menunggu sementara mereka ngacak-ngacak isi dari tas-tas itu.

Harapan saya ternyata tidak kesampaian. Petugas itu menemukan odol dan sabun muka di satu tas dan sebuah mp4 player di tas lain. Akibatnya setelah pemeriksaan selesai, saya diminta masuk ke sebuah ruangan untuk mempertanggungjawabkan temuan tersebut. Karena ditunjuk oleh teman-teman menjadi ketua tim, saya pertanggungjawabkan semua itu, termasuk sangsi yang harus saya hadapi. Ada dua kesalahan utama, pertama ditemukan barang-barang yang dilarang untuk dibawa, kedua, waktu turun kami lebih satu hari dari yang tertulis di surat ijin pendakian. Nggak ada gunanya saya berargumen, faktanya saya harus bertanggungjawab. Memang selama mendaki Gunung Gede yang sudah berkali-kali, baru sekali-sekalinya tas-tas bawaan tim saya diperiksa seperti itu dan sialnya, kok ya ditemukan barang-barang terlarang itu. Biasanya yang terjadi di pos saat turun adalah melaporkan kepulangan kami tanpa ada pemeriksaan baik isi tas maupun surat ijin, paling-paling yang ditanyakan ada sampah yang dibawa turun apa tidak. Sudah itu saja. Barangkali ini sebagai bumbu penyedap sekaligus penutup yang berkesan untuk masa pensiun pendakian saya.

Dalam ruang interogasi saya katakan, “OK, saya yang salah. Saya tidak mengecek satu persatu tas bawaan teman-teman saya. Terus apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggungjawabkan semua ini mas?” Peraturan yang dibuat ternyata tidak dilengkapi dengan sangsi yang jelas, begitu juga untuk keterlambatan pulang yang melebihi waktu yang tertulis di surat ijin pendakian. Petugas itu hanya bisa berkata bahwa ada peraturan baru per 1 April, artinya sejak bulan kemarin, tetapi SK-nya sendiri belum keluar. Bahwa sangsi yang akan diberikan kata dia, dia sendiri juga masih bilang katanya, adalah 40 kali lipat dari biaya ijin yang telah dibayarkan. Jadi, sebenarnya petugas itu juga belum paham dan belum punya pegangan apa-apa untuk menghadapi para pendaki yang melanggar aturan. Petugas itu akhirnya hanya meminta keikhlasan saya menyumbangkan dana untuk membeli kantong sampah yang akan dibagikan ke pendaki. Permintaannya saya penuhi tanpa banyak cingcong. Saya memang salah, meskipun petugas itu juga tidak jelas dasar tuntutannya.

Selesai dengan urusan denda dan sangsi, kami turun langsung menuju warung makan langganan. Sambil istirahat kami mengisi perut. Selesai sudah ekspedisi ke Gunung Gede yang juga pendakian terakhir saya. Perjalanan menuju Bogor diawali dengan angkot menuju Cipanas dengan tarif normal, Rp. 4.000, kemudian disambung bis dengan biaya lebih murah lima ribu rupiah bila dibandingkan naik angset. Ongkos bis hanya Rp. 10.000 sampai Bogor. Ketika masuk Bogor jam 20.00 wib, ada berkah lain yang dilimpahkan oleh Sang Pencipta. Hujan lebat yang terjadi saat saya masih di dalam bis, tiba-tiba berhenti waktu bis sampai di tujuan. Luar biasa. Waktu saya turun dari bis, hanya sisa-sisa hujan lebat saja yang masih tertinggal. Itulah sebab pendakian terakhir saya ini saya sebut pendakian yang diberkahi. Banyak berkah melimpah yang saya terima sejak berangkat sampai pulang. Saya merasa kran curah hujan di bulan Mei untuk sementara ditutup agar perjalanan saya ini bisa berlangsung dengan lancar dan nyaman.

Selamat berpisah puncak-puncak gunung di manapun kau berada. Selamat berpetualang mendaki gunung manapun para sahabatku. Pesan saya, jangan merusak lingkungan, hati-hati, dan… jangan nyopet di jalan baik berangkat maupun pulangnya. 😉

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here