bigot dan hoaxMari kita awali tulisan ini dengan menyamakan pemahaman tentang bigot dan hoax. Dengan demikian, bila Anda atau saya bertemu seseorang, kita bisa menyimpulkan bahwa orang tersebut termasuk golongan bigot karena ciri-ciri yang dia miliki. Atau bila mendapati sebuah informasi, kita dapat dengan pasti menyatakan, “Hoax!”.

Meski istilah bigot sering kita temukan baik tertulis atau dikatakan seseorang, ternyata bigot belum menjadi lema dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahkan dalam edisi kelima yang merupakan edisi terbaru. Bila mengacu ke kamus bahasa Inggris Oxford Advanced Learner’s Dictionary, bigot bermakna a person who has very strong, unreasonable beliefs or opinions about race, religion or politics and who will not listen to or accept the opinions of anyone who disagrees. Setali tiga uang, Merriem-Webster Dictionary mendifinisikan bigot sebagai a person who is obstinately or intolerantly devoted to his or her own opinions and prejudices; especially :  one who regards or treats the members of a group (as a racial or ethnic group) with hatred and intolerance. Dari definisi itu, kita bisa lihat bahwa bigot adalah orang yang memiliki keyakinan atau pendapat yang sangat kuat dan tidak masuk akal tentang ras, agama, atau politik dan yang tidak akan mendengarkan atau menerima pendapat dari orang yang tidak setuju. Mereka adalah orang-orang berkepala batu dan intoleran yang menganggap hanya pendapat mereka sendiri yang benar. Benak mereka dipenuhi prasangka. Orang-orang ini menghadapi dan memperlakukan anggota kelompok lain, misalnya kelompok ras atau etnis berbeda, dengan penuh kebencian dan intoleransi. Entah mengapa kata bigot tidak masuk ke KBBI. Padahal bila mengacu etimologi (asal-usul kata) bigot, kata ini bukanlah barang baru. Bigot dalam bahasa Inggris diadopsi dari bahasa Perancis sejak 1598. Makna awalnya memang tidak seluas sekarang. Saat itu bigot hanya dimaknai munafik dalam beragama. Barangkali Dewan Bahasa belum/tidak memasukkan lema bigot ke KBBI karena sudah memiliki dokmatis (dogmatist, dogmatizer), fanatik (fanatic), partisan (partisan/partizan), sektarian (sectarian), picik, cupet, dungu, kerdil, bodoh, dan kata lain yang maknanya sejenis atau hampir sama.

Hoax juga tidak ada di KBBI bahkan sampai edisi kelima atau terbaru. Oxford Advanced Learner’s Dictionary mendefinisikan hoax sebagai an act intended to make somebody believe something that is not true, especially something unpleasant. Merriem-Webster Dictionary mengartikan: to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous. Bila Oxford mengelompokkan kata hoax sebagai nomina, Merriem-Webster memasukkannya sebagai verba. Yang mana pun jenisnya, intinya sama yaitu hoax merupakan sebuah tindakan memalsukan informasi sehingga seseorang percaya dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Akibat dari mempercayai hoax bisa beragam, mulai dari yang ringan sampai fatal. Hoax sangat berpotensi memecah belah pertemanan, keluarga, bahkan bangsa. Tak heran bila 8 Januari 2017 (Minggu) kemarin, deklarasi Masyarakat Anti Hoax dilaksanakan serentak di enam kota (Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo, Wonosobo, dan Bandung).

Hoax atau biasa kita sebut berita palsu jelas berdampak negatif. Kebaikan apa yang dihasilkan dari sebuah hoax? Apalagi hoax yang kita temukan belakangan ini yang disebar dari dinding ke dinding Facebook atau media sosial lain, dari grup ke grup entah itu WA atau yang lain, dan dari perkumpulan tatap muka ke perkumpulan tatap muka lain. Hampir semua hal dibikin hoax. Apa pun! Agama, politik, kesehatan, pendidikan, keuangan, makanan, dan banyak lagi. Tinggal Anda sebut, penyedia hoax akan melayani. Celakanya lagi, hoax itu seperti dikasih formalin dan ibarat durian. Maksudnya, hoax bisa awet dan seperti musim durian yang selalu berulang. Dua hari yang lalu, saya menerima hoax di dalam sebuah grup pertemanan yang saya ikuti. Bukan cuma satu hoax. Yang bikin gedek, salah satu hoax itu sudah ada dua tahun yang lalu. Meskipun pihak yang terkait hoax itu sudah mengeluarkan bantahan bahwa informasi itu hoax, nyatanya orang masih saja menyebarkannya. Sebagian tetap saja mempercayai kebenarannya.

Penyebab seseorang menyebarkan hoax bisa macam-macam. Entah dengan sengaja atau pun tidak. Bisa karena tidak paham kalau itu hoax atau tahu tapi tetap menyebarkan karena memang punya tujuan tertentu. Salah satu misalnya faktor uang. Tempo menuliskan hasil investigasinya terkait penyebaran hoax yang bermotivasi mendapatkan uang dari iklan Google Adsense. Dalam laporan itu dinyatakan salah satu portal penyebar hoax bisa memperoleh penghasilan dari iklan sampai Rp 150 juta per bulan pada tiga bulan terakhir ini. Untuk lengkapnya bisa dibaca di sini. Uang memang membius, sampai-sampai pelakunya tak sadar, lebih tepatnya tak peduli, dengan cara mendapatkannya.

Bigot bisa saja menjadi penyebar hoax, atau bahkan sekaligus pembuatnya. Bila mengacu ke difinisi bigot di atas, sungguh tidak mengherankan bila dia mencipta dan menyebarkan hoax. Demi pembenaran, apa pun dilakukan. Asalkan mendukung kebenaran yang dia yakini, berita palsu pun akan dia sebar. Seorang teman menyarankan bila bertemu bigot justru sebaiknya jangan dihindari. Alasannya, ada yang bilang buat lucu-lucuan atau hiburan karena berhadapan dengan orang berkepala batu. Teman yang lain bilang untuk menangkal sikap konyolnya. Yang lain lagi menyarankan sebaiknya dihindari karena akan buang-buang energi. Percuma saja berdebat dengan mereka karena mereka hanya percaya dengan kebenarannya sendiri. Lebih baik gunakan energi yang ada untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Sikap yang mana yang akan Anda pilih bila bertemu dengan manusia spesies yang satu ini, Anda tentu punya pertimbangan.

Tak peduli apakah berpendidikan tinggi, berharta melimpah, memiliki jabatan mentereng, begitu khusuk dalam beribadah, nyatanya mereka menjadi bigot, atau penyebar hoax, atau kedua-duanya. Salah satu penyebab munculnya bigot dan penyebar hoax adalah kemalasan. Malas mengecek dan mengecek kembali kebenaran informasi yang didapat, malas membuka pikiran, malas berinteraksi dengan orang atau kelompok berbeda, malas menambah pengalaman, malas belajar untuk menambah pengetahuan. Pokoknya malas! Sedangkan penyebab lainnya silakan cari sendiri. Saya malas menuliskannya.

Menghadapi bigot memang merepotkan. Begitu juga bila bersua penyebar hoax. Apalagi bertemu bigot yang gemar menyebar hoax. Kelar hidup lu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here