>Tadinya pada hari itu (Jum’at, 4/5) mau pulang cepet. Tapi, ketika denger anak-anak mau rame-rame nengok Ucup yang lagi sakit, saya putuskan untuk menunda pulang. Mumpung lagi ada temennya, rame lagi selain saya juga nggak tahu rumahnya, saya ikutan bezuk.

Emang nggak gampang dicari posisi rumahnya. Untungnya saya ikut mereka yang sudah tahu dan pernah ke sana. Kalau nggak, pasti deh saya musti nanya-nanya kalau nggak pakai kesasar dulu di perkampungan Panaragan yang padat di tepi sungai Cisadane.

Saat tiba di tujuan ternyata sudah ada rombongan lain yang nyampai duluan. Makin ramelah jadinya. Sementara yang sakit bukannya dikasihani malah jadi bahan ledekan. Dasar anaknya tidak terlalu banyak omong, apalagi dalam keadaan sakit seperti itu, ya udahlah, hanya senyum-senyum saja.

Tadinya kami duduk-duduk di ruang tamu. Oleh ibunya kemudian kami disuruh naik ke atas ke tempat yang lebih luas karena tidak ada meja kursi tamu. Ternyata benar. Di atas lebih lapang, meskipun ukuran ruangannya sama dengan yang di bawah. Si Ucup tetap jadi bahan ledekan. Mudah-mudahan saja jadi obat ya.

Setelah beberapa saat ikut mendengarkan mereka saling ngecengin satu dengan yang lainnya, saya sendiri tidak terlalu banyak omong, kalah suara dengan mereka yang mayoritas, saya pamitan pulang. Mengingat jam setengah tujuh nanti harus ngajar lagi anak-anak yang kursus di rumah, mau nggak mau harus pulang meskipun sebenarnya masih ingin ikut nongkrong. Ibu dan kakak-kakaknya Ucup juga mencoba menahan saya. Apa boleh buat, ada kewajiban lain yang harus dijalankan. Bagi bagi waktu lah.

SHARE
Previous articleIseng
Next articleBuhul

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here