Setelah tulisan Orang-orang Sensitif diposting, ada yang berkomentar agar saya mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang menjadi tagline blog ini bahwa “aku berpikir sebelum aku bicara, aku berpikir sebelum aku berbuat, dan aku berpikir sebelum aku menilai”. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih karena telah diingatkan. Barangkali yang menjadi pertanyaan mengapa ada komentar seperti itu. Mungkin sekedar mengingatkan atau bisa jadi menurut yang berkomentar, saya tidak berpikir dahulu sebelum berbicara, berbuat, dan menilai. Jika memang yang terakhir itu penyebab ditulisnya komentar di atas, itulah bukti bahwa apa yang ada di dalam kepala tiap orang bisa beda meskipun warna rambutnya sama.

Saya sering mengajukan sebuah pertanyaan untuk mengetahui pendapat seseorang. “Bila di depan anda ada gelas yang terisi setengahnya, anda sebut setengah isi atau setengah kosong?” Jawabannya  bisa berbeda-beda. Namun yang saya jumpai sampai sekarang, yang terbanyak adalah yang menjawab setengah isi. Mengapa bisa seperti itu? Penjelasan yang paling logis adalah karena mereka fokus pada isi dari gelas dan memang itu yang dilihat. Akan tetapi, salahkah bila ada yang menjawab setengah kosong? Atau setengah kosong dan setengah isi? Ini memang contoh kasus klasik untuk menguji sebuah persepsi. Kasus ini juga bisa diterapkan untuk menguji apa yang dipikirkan saat bertemu dengan suatu kejadian atau masalah. Jika hasil pengujian itu beragam, sekali lagi, itulah uniknya mahluk yang namanya manusia. Sebentuk kehidupan yang dilengkapi dengan akal pikiran, emosi, dan nafsu. Berbeda dengan binatang meskipun kadang perilakunya melebihi binatang.

Perbedaan bisa muncul dalam bentuk apa saja, termasuk cara berpikir. Bila cara berpikirnya saja sudah berbeda maka yang disampaikan secara lisan juga pasti berbeda. Jika perbedaan ucapan ini ditanggapi dengan persepsi yang tidak sama pula, yang terjadi kemudian pasti muncul konflik. Apabila konflik yang muncul ini disikapi secara emosiaonal maka semakin memanaslah kondisinya. Apalagi bila dibumbui dengan prasangka negatif, wuih!, dijamin makin heboh. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Nggak usah menyalahkan siapa-siapa. Yang namanya konflik bisa saja datang tanpa diduga-duga. Cara ngomong, bersikap, berpakaian, bahkan cara tersenyumpun bisa saja memunculkan konflik.

Saya bukan seorang linguis atau ahli bahasa meskipun saya pernah belajar tentang bahasa. Jika anda menganggap apa yang saya sampaikan salah, tolong dikoreksi dan terima kasih sebelumnya. Bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan manusia. Dalam berinteraksi itu mereka membutuhkan sebuah media yang bisa mengkomunikasikan pesan yang ingin disampaikan. Karena kebutuhan itu, muncullah penamaan-penamaan untuk segala hal yang bersifat kongkrit maupun abstrak. Namun, karena makna suatu ujaran bukan hanya terkait dengan kata yang membentuknya tetapi juga dipengaruhi oleh rasa maka kemungkinan terjadi kesalahpahaman akan ada.

Jadi, kembali lagi tentang komentar yang meminta saya untuk berpikir sebelum bicara dan seterusnya itu, tentu saja hal itu sudah saya lakukan. Bila yang saya ucapkan dianggap tanpa dipikirkan dulu, itulah akibat adanya perbedaan ukuran sensitifitas. Seperti rasa sakit dan kesabaran, ambang sensitifitas setiap orang bisa berbeda. Ketika anda dikatakan (maaf) anjing oleh seorang teman, mungkin anda hanya tertawa. Namun teman anda yang lain bisa jadi akan marah dan sakit hati meskipun dia tahu ucapan itu tidak serius, sekedar bercanda. Siapa yang salah dalam hal ini menurut anda?

Memang sudah seharusnya untuk bertoleransi. Toleransi ini jelas-jelas lebih dibutuhkan oleh mereka yang termasuk golongan orang-orang sensitif. Perasaan orang-orang di kelompok ini ibarat sarang laba-laba yang begitu rentan. Tersenggol sedikit saja akan terkoyak. Bukannya tidak peduli dengan kerentanan mereka, saya lebih memilih untuk membiasakan mereka tidak terlalu sensitif. Akibatnya memang jadi tidak mengenakkan. Tuduhan tidak peka, tidak peduli perasaan orang lain, egois, sampai ‘asbun’ alias tidak berpikir dahulu sebelum ngomong sering terlontar. Barangkali itulah resiko yang harus dihadapi. Oleh karena itu, bila anda ketemu dengan orang yang menurut anda terlalu sensitif, hati-hati saja. Jika anda bisa menghindari, mungkin itu yang lebih aman. Sensitifitas memang terkait dengan perasaan. Boleh saja badannya besar mukanya seram, namun bila perasaannya begitu sensitif maka orang seperti ini kita namakan saja tampang Rambo hati Rinto. Setuju?

Sumber gambar: di sini

6 COMMENTS

  1. Kadang memang kita begitu lihai menulis Kang, lantas lupa pada keengganan belajar memperbaiki diri. Moga kita senantiasa mendapat hikmah 🙂

  2. Saya salut karena WKF posting tiap hari
    Jujur jarang yg bisa posting original tiap hari di BLOGOR
    Selain WKF, MT, Asep Saiba dan mulai tuh Miftah juga

    Kalo saya, mudah2 an juga termasuk 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here