Jika kita mempunyai pikiran negatif, itu wajar karena kita manusia. Hanya kambing yang tidak berpikiran negatif. Hloh?

Tentu saja bukan cuma kambing yang tidak berpikiran negatif. Jika saya memilih kambing sebagai contoh, itu dikarenakan dia merupakan salah satu binatang maskot pilihan saya. Semua binatang tak akan dan tidak mungkin mempunyai pikiran negatif. Mengapa bisa demikian karena mereka tidak memiliki pikiran, yang ada hanya sebongkah otak. Sebagaimana juga manusia dengan otaknya di balik batok kepala. Dan pikiran itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Jadi, jika manusia berpikiran negatif, wajar-wajar saja. Bisa jadi memang itu yang dia pilih karena berpikir positif atau negatif adalah sebuah pilihan.

Namun sayangnya sebagian dari kita lebih memilih untuk berpikir negatif. Atau dengan kata lain, kita ini membiarkan diri kita seperti itu padahal ada kesempatan mengabaikannya. Kita  memiliki kemampuan untuk tidak melakukannya. Hal paling gampang yang bisa dijadikan kambing hitam ketika seseorang berpikiran negatif adalah faktor kebiasaan. Karena biasa berpikir negatif, segala sesuatu akan ditanggapi secara negatif. Itu terjadi secara otomatis. Refleks tindakan dari pikiran yang dipunyai adalah berpikir negatif.

Bila dirunut, di balik kebiasaan berpikir negatif akan ditemukan rasa iri dan dengki. Rasa ini muncul karena ketidakmampuan yang bersangkutan. Ketidakmampuan itu bisa dalam hal apapun, entah itu kepandaian, kecantikan, kekayaan, prestasi, dan lain-lain. Dengan demikian, apapun yang dimiliki orang lain akan selalu direspon negatif. Ini akan terus berlangsung, semakin menguat, dan akan menjadi lingkaran setan yang memerangkap bila tidak diputus. Kebiasaan berpikir negatif akan mewujud verbal atau berupa tindakan. Tidak heran jika kita terbiasa berpikiran negatif, dalam bentuk verbal, akan selalu mencerca, merendahkan, dan membicarakan keburukan orang lain. Dalam bentuk tindakan, kita akan menjauhi mereka yang kita anggap buruk.

Berpikiran negatif bila tidak dihentikan akan membangun tembok penjara untuk diri sendiri dan mencegah kita dari lingkungan pergaulan. Tembok itu akan menjadi tembok pembatas bersilaturahim. Bukan karena orang lain yang menjauhi tetapi karena kita sendirilah yang menyebabkan orang lain tidak mau mendekat. Bagaimana orang mau datang jika yang ditemukan selalu kisah keburukan orang lain yang belum tentu benar. Keburukan yang disampaikan bisa benar bisa salah tetapi yang pasti benar-benar salah adalah kebiasaan membicarakan keburukan orang lain.

Negatif atau positif dalam berpikir sebenarnya masalah gampang. Tinggal kitanya mau bersikap bagaimana. Mungkin juga hal itu menjadi gampang-gampang susah. Bagi sebagian dari kita, batasan positif  dan negatif terlihat kabur. Ibaratnya seperti melihat gambar seorang perempuan yang sedang menari itu. Menurut Anda, putaran tariannya ke kiri atau ke kanan? Jika Anda melihat putarannya kadang ke kiri, di lain saat ke kanan, seperti itulah cara kita berpikir. Kadang positif, kadang negatif. (Coba Anda tatap beberapa saat gambar itu lalu kedipkan mata atau alihkan pandangan ke tempat lain, kemudian kembali ke gambar tersebut. Bayangan perempuan itu akan berputar ke arah yang berlawanan dari sebelumnya.)

Karena berpikir negatif adalah sebuah pilihan, tentunya solusi menghilangkannya sangat sederhana yaitu: ganti pilihan! Tindakan yang perlu diambil adalah merubah kebiasaan berpikir. Sekarang kita balik cara pandang kita. Yang tadinya kita selalu mendahulukan pikiran negatif, untuk selanjutnya pikiran positif yang kita kedepankan dalam setiap menghadapi keadaan. Bukan pekerjaan mudah, memang. Namun bila kita terus berlatih, mengulang-ulang latihan dan berkomitmen, saya yakin kebiasaan kita akan berubah. Kita bisa kan karena biasa? Jika sudah terbiasa, pasti bisa.

Pada dasarnya manusia lebih mudah mencela dari pada mengapresiasi kelebihan orang lain, karena itu lebih gampang dilakukan. Berpikir negatif memang asyik dilakukan karena tak sulit, apalagi yang hatinya sudah terpenuhi iri dengki. Tapi hati-hati, bila tidak waspada, pikiran negatif akan bersimaharajalela di dalam hati dan pikiran yang kemudian mewujud dalam tindakan dan ucapan.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here