bermandikan kabutKamar mandi anda pernah berkabut? Punya saya pernah. Datanglah ke rumah saya bila ingin menikmati mandi kabut. Dijamin anda akan merasakan sensasi mandi yang berbeda.

Tinggal di kampung bisa menyenangkan dapat pula menyebalkan. Senang sebal sebenarnya bukan karena tempatnya melainkan bagaimana kita menyikapinya. Ada beberapa hal atau kejadian menarik yang barangkali hanya atau sering ditemukan apabila kita tinggal di perkampungan.

Makna kampung yang saya maksudkan di sini adalah sebuah pemukiman yang sudah mapan. Sebuah lingkungan tempat tinggal yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Sebuah masyarakat yang bisa jadi anggotanya masih memiliki hubungan kekerabatan antara yang satu dengan lainnya. Bukan perumahan atau sekumpulan rumah yang dibangun sebuah perusahaan pengembang. Di dalam perkampungan dengan kebiasaan ala masyarakat kampung inilah sekarang saya tinggal.

Jelas terasa beda saat awal-awal saya pindah ke kampung ini setelah 14 tahun lebih tinggal di sebuah perumahan di bagian barat wilayah Bogor. Setelah sekian lama berada dalam lingkungan perumahan, kehidupan yang ada telah membentuk kebiasaan dan pola pikir dalam bersosialisasi ala perumahan. Dengan masyarakat yang cenderung heterogen dan tata cara berinteraksi yang belum mengakar kuat, adaptasi lebih mudah dilakukan. Aturan dan kebiasaan dibentuk bersama-sama dan disepakati. Kesepakatan bisa dibicarakan lebih gampang karena masing-masing merasa sebagai penghuni baru. Sebagai contoh misalnya, untuk memelihara kebersihan dan menjaga keamanan lingkungan, warga sepakat iuran sejumlah uang untuk menggaji tukang sampah dan petugas keamanan. Tempat pembuangan sampah warga dibuat sebelum diangkut truk dari dinas kebersihan. Sebuah pos ronda dibangun untuk petugas keamanan sekaligus tempat berkumpulnya warga saat ronda bersama. Karena tuntutan pekerjaan, semua itu kemudian saya tinggalkan dan pindah ke kampung baru.

Dua tahun lebih saya telah tinggal di kampung ini, tepatnya sejak 7 Juli 2008. Kisah kepindahan ke kampung ini sempat saya tulis dalam sebuah artikel berjudul Mas Keong. Beberapa peristiwa yang membuat saya awalnya terkaget-kaget di kampung baru ini juga saya jadikan tulisan dengan judul Lebaran di Kampung Orang. Rutinitas dan kebiasaan yang saya jalani saat tinggal di perumahan tidak saya temukan lagi di kampung ini. Dulu setiap bulan saya harus membayar sejumlah uang untuk uang sampah dan keamanan, melakukan ronda sebulan sekali dengan tetangga yang kebetulan berada dalam satu kelompok ronda, mendengar adzan dari pengeras suara setiap datang waktu sholat. Semua itu sudah tidak saya lakukan lagi di kampung ini. Bukannya tidak mau, tetapi memang hal itu tidak ada di sini. Masak saya harus melakukan sendiri?

Belum lama ini saya jadi korban kebiasaan tetangga di kampung ini. Saya tidak marah dengan kebiasaan itu. Hanya saja, saya jadi tersiksa karenanya. Sebagaimana yang dilakukan penduduk setempat, tetangga sebelah rumah juga membakar sampahnya. Masyarakat di sini memang biasa membuang sampah di dekat rumah mereka untuk kemudian dibakar apabila sudah menggunung. Saat tetangga sebelah membakar sampahnya, tumpukan sampah itu menghasilkan asap yang cukup tebal. Celakanya, tumpukan sampah yang terbakar itu ada di sebelah kamar mandi. Saat angin bertiup, masuklah asap itu ke dalam kamar mandi melalu wuwungan. Padahal saat itu saya sedang mandi. Bisa anda bayangkan, saya ini seperti ikan yang sedang diasapi. Bukannya wangi sabun mandi badan ini dan harum sampo di rambut ini, yang terjadi dari ujung kaki sampai ujung rambut bau sangit. Parahnya lagi, nafas jadi sesak dan mata pedas. Saya tidak bisa keluar karena baru tengah-tengahnya mandi. Bisa saja saya nekat keluar, tetapi masak mandi pakai di-pause dulu kayak nyetel tape-recorder?

Tragedi di kamar mandi itu akhirnya bisa saya atasi. Saya berhasil keluar dari kamar mandi dengan selamat. Tidak apa-apa kalau hanya sekujur tubuh bau sangit, mata merah dan berair, nafas ngos-ngosan dan terbatuk-batuk, serta rambut ngebul. Mandi kabut ini adalah pengalaman baru selama tinggal di kampung baru. Yang tadinya mau mandi air ternyata mendapat bonus kabut. Bukan kabut segar seperti di Puncak Gede tetapi kabut pekat berbau sangit yang berasal dari bakaran sampah tetangga.

Ingin mandi kabut? Datanglah ke rumah.

Sumber gambar: di sini

13 COMMENTS

  1. […] yang saya tinggali sekarang, saya pernah menuliskannya meskipun tidak secara komprehensif dalam Bermandikan Kabut. Dikelilingi dengan lingkungan yang begitu bersahaja dan penduduknya yang mayoritas memelihara […]

  2. wah..kadang pak Adi memang hebat menempatkan foto tema tulisan.
    foto dengan cerita berbeda…itulah yang membuat orang selalu penasaran.. 🙂
    btw pesta blogger ngadain lomba nulis…
    kalo pak Adi ikut, dan kemungkinan besar jadi juaranya.. 🙂

  3. cerita yang menarik 🙂

    Salam persohiblogan

    Lama tak bersua. Maaf karena kesibukan membuat saya sulit BW.
    Baru sempet nih, itu pun sekedar sapaan sembari lewat. 🙂

    Mohon Maaf Lahir & Bathin

  4. Menurut Oman, sampah tuh lebih baik dibakar (lebih bertanggung jawab), dari pada orang kota atau warga komplek yang tidak tahu kemana sampah rumah tangga mereka pergi…. 🙂

  5. huahaha… 😛

    gua juga paling sebel ama orang yang suka bakar2 sampah. dulu pas di jkt, tetangga sebelah rumah juga suka ngebakar sampah. duh asepnya sampe kemana2.

Leave a Reply to arman Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here