disorientasiDisorientasi atau kehilangan orientasi, pernahkah anda mengalami seperti itu? Anda tidak tahu ke mana hendak menuju atau tidak mengerti harus bagaimana. Anda merasa hidup anda seperti dalam sebuah pusaran, dan bingung bagaimana agar keluar dari pusaran tersebut. Itu yang saya maksudkan dengan kehilangan orientasi.

Orang yang terbiasa membuat rencana barangkali tidak mengalami disorientasi. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Sebuah rencana yang ada di tangannya merupakan navigator bagi dirinya.  Dengan memiliki pemandu berupa rencana itu, dia tahu pasti harus bagaimana. Apa yang dilakukan menjadi teratur dan sistematis. Tidak ada istilah kebingungan menentukan arah bagi orang seperti ini. Dia hanya akan menjadi bingung saat tidak memiliki rencana. Kebiasaan dia selalu membuat rencana membuatnya menjadi orang yang susah untuk langsung bertindak begitu saja. Jelas dia bukan seorang impulsif. Bukan tipe orang yang biasa spontan. Akan mati gaya bila tiba-tiba dia harus melakukan sesuatu tanpa rencana terlebih dahulu.

Jika saya mengatakan ‘mati gaya’ untuk mereka yang selalu berencana tetapi tiba-tiba harus berimprovisasi karena tidak memiliki rencana, barangkali tidak separah itu. Namun yang jelas, orang yang terbiasa terencana biasanya bukan jenis manusia yang memiliki spontanitas tinggi. Kadang-kadang orang seperti ini suka menyebalkan bagi mereka yang biasa hidup mengalir tanpa harus selalu membuat rencana. Mengapa bisa seperti itu? Ya wajar sajalah. Dua jenis yang berlawanan bila dipertemukan ya akan saling menolak. Ibarat minyak dan air. Jadi, burukkah mereka yang selalu merencanakan segala tindakan? Tentu saja tidak. Hanya, mereka dirasa sebagai manusia kaku di mata orang yang lebih suka mengalir tanpa harus dipusingkan dengan segala rencana.

Sebaliknya, bagaimana orang mengalir ini di mata mereka yang penuh rencana? Tersesat, ‘madesu’ (masa depan suram), bak layang-layang putus, tidak terarah hidupnya, dan masih banyak lagi sebutan dari orang terencana yang ditujukan ke mereka yang menjalani hidupnya seperti pucuk pohon cemara. Ke mana angin bertiup, ke sanalah pucuk cemara itu menuju. Seperti yang mana anda dalam menjalani hidup ini?

Saya sendiri bukan termasuk tipe manusia yang selalu berencana. Membuat rencana memang kadang-kadang saya lakukan. Namun kadang pula saya menjalani sesuatu tanpa rencana, mengalir begitu saja. Dan saya merasa lebih banyak yang tanpa rencana dibandingkan yang berencana. Beresiko? Pastilah. Tapi apa sih yang tidak ada resiko? Semua ada resikonya, entah besar entah kecil. Namun biasanya di balik resiko yang besar terdapat imbalan yang gede pula. Jadi, jalani saja. Tidak perlu takut. Resiko dan imbalan itu berjalan beriringan. Resiko di depan, imbalan ada di belakangnya. Jika menghindari resiko maka kita juga akan melewatkan imbalan yang mengiringinya. Hide from risk and you hide from its rewards. Risk and reward travel side by side. Avoid the one, the other will also pass you by. Begitu kira-kira.

Memiliki rencana berarti akan menjadi fokus. Itu positifnya. Berencana juga akan mengarahkan jalan ke tujuan. Dengan demikian anda tidak akan tersesat. Rencana juga menghindarkan anda dari kehilangan orientasi. Oleh karena itu, berencanalah agar tidak disorientasi. Itu saran yang menurut saya baik yang bisa saya berikan ke anda. Tetapi mohon maaf, meskipun saya menyarankan seperti itu, saya tidak terlalu suka berencana.

Saya bukannya anti rencana. Namun menurut saya, bila selalu terpaku pada rencana, apalagi tidak mau kompromi dengan perubahan, akan menjadi tidak berani untuk bertindak menyimpang dari rencana, dan akhirnya bingung sendiri. Yang terbagus adalah tetap memiliki rencana tetapi juga bersikap fleksibel. Jika memang harus melenceng dari rencana, mengapa harus takut? Tentu saja melenceng dalam arti memang tindakan itu dibutuhkan. Masalah kapan harus melenceng dan kapan tetap stick on the plan, tetap sesuai rencana, anda yang memiliki rencanalah yang paling tahu. Jika anda membuat rencana tetapi tidak tahu saat harus merubah rencana atau tetap berpatokan pada rencana, saya kok lebih menyarankan untuk sekalian nggak usah membuat rencana. Itu kalau saya lho.

Mungkin sebagian dari anda ada yang bertanya dalam hati mengapa saya membuat tulisan ini. Saya jawab. Terus terang saja saya sedang disorientasi saat membuat artikel ini. Saya bingung harus bagaimana, atau apa yang mesti saya lakukan. Semua serba salah. Daripada saya berbuat macam-macam, lebih baik saya tuliskan saja. Mudah-mudahan saja disorientasi saya segera pergi.

Saran untuk diri sendiri, tetaplah melangkah meski disorientasi. Lebih baik kesasar daripada tidak sampai ke mana-mana.

Sumber gambar: koleksi pribadi

11 COMMENTS

  1. Terima kasih pak Adi tulisannya..
    selama ini saya seperti hidup gak ada rencana, yah ngalir gitu.
    mungkin terlalu takut untuk berencana.
    tp setelah membaca tulisan ini, saya akan berusaha membuat satu rencana untuk masa depan.

  2. saya ngeliat kata rencana sama orientasi mikirnya malah ke pernikahan… kudu berencana nikah sama lawan jenis supaya ngga kehilangan orientasi yang ‘normal’.. 😕

    :mrgreen:

  3. saya jarang membuat rencana kang tapi sejak punya anak ada beberapa hal yang saya rencanakan misalnya sekolah, rumah, dan kendaraan
    sisanya yah biarkan saja berjalan sesuai keinginan 😀

  4. @Aan: sama2 😉 betul, SMART, pernah ketemu dengan itu tapi lupa saat membuat tulisan ini 8)
    Specific: spesifik/jelas
    Measurable: terukur
    Attainnable: dapat dicapai
    Realistic: tidak di awang2
    Tangible: buka seperti hantu (jelas bisa dilihat)
    Timely: tidak berlarut-larut (target waktu pencapaiannya jelas)

    thx tambahannya mas :mrgreen:

  5. Ada sedikit tambahan nih.. dalam membuat rencana atau sasaran di masa depan, ada Tips yg mugkin bermanfaat, aku dptkan wakt ikut kursus management yg terkantuk2.. 🙂 (sy sendiri belum mencobanya hee..he..):
    SMART (Specific, Measurable, Attainnable, Realistic, Tangible, Timely)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here