Belalang Padang Ilalang

Ini adalah tulisan kedua Grup 09 dari Cerita Berantai bernama #3Penguasa yang diadakan Blogor (komunitas blogger Bogor). Tulisan pertama telah dibuat @nilaayu dan yang ketiga akan ditulis @yoszca. Selamat menikmati.

——————————————————————–
Senja temaram. Kembali aku menyeruput kopi yang mulai dingin yang sedari tadi kugenggam. Pun aku kembali melirik secarik kertas di tangan kiriku. Kubaca tulisan di atasnya untuk kesekian kali. Tak asing. Tulisan tangan itu memang buatanku. Sebuah pesan singkat yang  kutitipkan ke seorang sahabatku untuk sahabatnya, Inggrid Wanda Amalia Kinasih Peyek.

Stasiun kota. Senja pukul 5. Bangku biru di ujung ruangan. Seminggu dari sekarang. Aku akan membawamu pergi ke suatu tempat yang telah kita impikan bersama. Hanya akan ada aku, kamu dan masa depan kita.

Aku yang luar biasa mencintaimu,
Fin

Peyek ternyata memenuhi permintaanku. Dia datang ke tempat yang kuminta. Sayangnya, dia sudah tidak ada lagi ketika aku datang. Hanya selembar kerta kucel akibat diremas-remas yang kutemukan di atas bangku biru. Kertas berisi pesan dariku yang kutuliskan untuknya. Ini bukan salah dia. Akulah yang salah. Gara-gara pembeli yang rewel tadi, aku jadi terlambat datang. Pekerjaanku sebagai pramusaji di restoran burger memaksaku harus menjadi pelayan yang ramah.

Kulihat arloji di lengan kiri. Waktu telah menunjukkan pukul 21.05 WIB. Di kejauhan terlihat ujung belakang KRL tujuan Bogor. Jika Peyek menunggu sampai kereta terakhir, KRL yang sedang melaju itulah keretanya. Aku hanya bisa menatap kelu kereta yang semakin tak kelihatan ditelan gelap malam itu. Meski aku berdiri di peron stasiun, hatiku ada di dalam kereta, melaju menuju Kota Hujan bersamanya.

Pertemuan pertamaku dengan Peyek bisa dibilang unik. Siapa sangka keberuntunganku memenangkan bonus dari tempat kerja berupa liburan ke Singapura berlanjut dengan keberuntungan lain yang kudapat di negeri ‘merlion’ itu. Aku ketemu gadis cantik berambut panjang yang sekarang menjadi pujaan hatiku. Saat itu aku sedang menikmati es krim di Uncle Ice Cream yang ada di trotoar Orchard Road ketika tiba-tiba datang seorang gadis dengan rambut diikat model ekor kuda. Dia mengenakan topi Tompi. Baju ‘you can see’ oranye membalut tubuh langsingnya. Berdua dengan teman perempuannya, dia membeli es krim.

“Give me two cups of ice cream, please.”

Ucapan itu yang kudengar dari mulut mungilnya. Aku asyik menikmati es krim sambil duduk di kursi dari empat kursi yang melingkari meja bulat di sebelah kedai es krim. Hanya itu tempat duduk yang disediakan Uncle Ice Cream. Setelah jalan lumayan lama, segelas es krim terasa nikmat. Apalagi udara Singapura begitu panas saat itu.

“Excuse me. May I join?”

Tiba-tiba sebuah suara perempuan terdengar. Oh, rupanya si gadis ekor kuda bersama sahabatnya itu sudah ada di sebelah kiriku.

“Please.”

Hanya itu yang aku ucapkan untuknya. Aku kembali menyendok es krimku yang masih setengah gelas. Kudengar kedua perempuan di hadapanku mula bercakap sambil menikmati es krim. Tunggu dulu! Bahasa yang digunakan tidak asing lagi di telingaku. Ya, pasti, dia berasal dari negara yang sama denganku. Jelas dia orang Indonesia. Merasa senegara, kuberanikan diri menyapanya.

“Dari Indonesia ya mbak?”

“Hiya.”

“Saya Mafin.” Kuulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Peyek.” Dia menyebutkan namanya dan nampak ragu-ragu menyambut tanganku.

Kami selanjutnya terlibat dalam obrolan yang makin lama makin asyik dan mengalir. Apapun dibincangkan seolah teman lama yang baru ketemu lagi. Aku jadi tahu lagu ‘Untuk Perempuan’ dari So7 ternyata mampu membuatnya tegar sebagai perempuan. Ketika kukatakan bahwa Vina Panduwinata berhasil membiusku dengan ‘Cinta’nya, dia tertawa lalu mengatakan bahwa aku terlalu macho untuk lagu itu. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.

Pertemuan di Singapura itu ternyata terus berlanjut hingga ketika sudah kembali ke Jakarta. Kami saling tukar nomor telepon, FB, dan Twitter. Melalui tiga media itu, aku dan Peyek terus berkomunikasi. Semakin jauh perbincangan yang kami lakukan semakin dekat hatiku kepadanya. Banyak hal yang kuketahui tentang dia, begitu juga sebaliknya. Meskipun dia kerja di Jakarta ternyata dia masih harus menyelesaikan skripsinya di UNY. Sekali-sekali, aku mengajak Peyek nonton pertunjukan teater di TIM. Kadang-kadang dia mengajak nonton bioskop ketika filmnya bagus dan aku sendiri antusias menyambutnya karena memang hobi nonton.

Kehidupan ini begitu menyenangkan. Apapun yang terjadi selalu menggembirakan hingga segalanya berubah ketika aku bertemu orangtua Peyek terutama ayahnya. Tantangan berat datang menghadang dan harus kuhadapi jika aku ingin tetap serius mempertahankan tali cintaku dengan Peyek. Dia tidak menyetujui hubungan kami. Melihat pekerjaanku yang hanya sebagai pramusaji restoran burger, ayah Peyek yakin aku tak mungkin mampu menghidupi putri semata wayangnya. Perih hati ini mengingat penghinaan itu. Apakah jaminan jika lelaki kaya yang menyunting anaknya akan membahagiakan putrinya? Aku ingin tunjukkan kepada ayahnya bahwa cintaku akan mampu membuat hati dia dan putrinya bahagia. Sesederhana itu! Tekad itu pernah kusampaikan melalui sajak Sapardi Djoko Damono yang kukirimkan untuk Peyek.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
api kepada kayu yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku masih duduk diam di Stasiun Kota, mereka-reka yang terjadi senja itu. Kereta terakhir menuju Bogor telah berlalu sejam yang lalu. Di sekelilingku masih ada beberapa orang entah siapa, calon penumpang keretakah atau tunawisma. Kuhela nafas panjang. Perlahan kumelangkah meninggalkan stasiun yang mulai sepi. Aku tak mau mengubur mimpi indahku hidup bersamamu, Peyek. Ayah pemabokmu hanyalah onak duri yang ada di jalan cintaku menujumu. Aku akan menjadi belalang di padang ilalang yang tak gampang tumbang, bahkan oleh badai yang menerjang, apalagi oleh sebatang duri berujud ayahmu itu.

(Bersambung ke blognya @yoszca)

Sumber gambar: di sini

5 thoughts on “Belalang Padang Ilalang

  1. Pingback: 3 Penguasa | blogor.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>