Manusia diciptakan unik. Warna rambut boleh sama. Bentuk kepala mungkin sama. Namun apa yang ada di dalamnya bisa bervariasi. Dalam memandang suatu masalah, kita seperti cerita tiga manusia buta dan gajah. Anda tahu kisah tersebut? Sekedar mengingat kembali, saya akan sampaikan kisah tersebut.

Suatu saat ada tiga orang buta yang ingin mengetahui bentuk gajah. Panca indera yang menjadi andalan adalah kulit tangan mereka untuk meraba. Masing-masing sudah berada di dekat gajah. Mereka mulai memegang dan meraba. Si buta yang pertama memegang belalai kemudian berkata bahwa gajah itu bentuknya panjang seperti ular. Yang kedua meraba-raba telinga, lalu bilang kalau gajah itu tipis dan lebar seperti kipas. Si buta ketiga dengan kedua tangannya mengelus-elus perut gajah kemudian berusaha mendorongnya. Setelah itu dia sampaikan kepada kedua temannya bahwa gajah itu rata seperti tembok. Siapa yang benar? Semua benar tentu saja. Hanya kebenaran mereka sifatnya parsial.

Dalam menilai sebuah kejadian, kadang kita seperti orang-orang buta tersebut. Kita menggunakan kemampuan, keahlian, dan latar belakang masing-masing. Sebenarnya bukan masalah dan bahkan bisa memperkaya dan memperdalam hasil penilaian bila hasil yang berbeda-beda tersebut digunakan untuk saling melengkapi. Bila ada hal yang berbeda dari orang lain, alangkah baiknya kalau kita bukan hanya mengukur dari diri sendiri. Lebih bijaksana kalau kita juga menggunakan kacamata yang dipakai orang lain.

Keunikan seseorang bisa berwujud perilaku. Seorang mahasiswa yang menurut dosennya menyimpang, sudah pasti karena dia berbeda dengan dosen tersebut. Kalau dosen hanya menggunakan nilai yang dia gunakan, alangkah dangkal dan naifnya. Bisa jadi justru mahasiswa tersebut, di mata dosen lain, dianggap kreatif, penuh imajinasi, berkeinginan kuat untuk maju. Sehingga yang terlihat di dalam kelas, dia sering bertanya dan selalu mendebat dosennya sampai benar-benar yakin bahwa apa yang disampaikan dosennya benar. Bila dosen tersebut tipe pengajar yang menganggap mahasiswa hanya sebagai obyek, duduk dan menelan semua yang disampaikan, tidak punya hak untuk meragukan apa yang diajarkan, sudah pasti akan shock dan stres berat. Ujung-ujungnya, anak didiknya itu dianggap biang kerok, seorang troublemaker di kelas.

Kalau anda seorang pengajar, entah guru, dosen, mentor, tutor, trainer, coach, atau apapun istilahnya, bersifat dan bersikaplah terbuka. Jangan perlakukan anak didik anda sebagai obyek. Mereka adalah partner dalam belajar. Kerjasama, diskusi, atau kalau perlu berdebatlah untuk mencari kebenaran. Guru yang orang Jawa memanjangkannya menjadi digugu lan ditiru (dipercaya dan diikuti) menjadi keharusan dalam cakupan perilaku. Artinya tingkah laku pengajar harus bisa menjadi contoh positif bagi anak didiknya. Diluar itu, perlakukan mereka sebagai partner.

Bila anda adalah siswa atau mahasiswa, beranilah. Bertanyalah apabila anda kurang jelas. Utarakan pendapat dan sampaikan apa yang ada di benak apabila merasa apa yang disampaikan pengajar anda meragukan. Saya tepat ada di belakang anda, kalau anda mau berbuat seperti itu.

1 COMMENT

  1. Artikel yg sangat mendidik, tapi bagi kebanyakan guru, pengajar atau trainer bersikap menjadikan kami sebagai objek, bahkan ketika kami bertanya dan mendebatkan apa yang kami ragukan dalam materinya sering kali dianggap sok tau atau trouble maker seperti yang pak wkf jelaskan diatas, saya kira artikel seperti ini wajib dibaca oleh para pengajar atau apa saja istilah samaannya, terimakasih pak wkf telah berbagi pencerahan melalui artikel ini semoga Anda terus menjadi panutan yang baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here